LOGIN
"Pria itu sementara, berlian itu abadi, dan uang adalah segalanya. Jelas saja, cewek matre kayak kita ini kalau sampai masuk ke dalam novel dark romance, tabungan kakak beradik tak akan selamat di bab pertama!" seloroh Mia.
Ia baru saja membacakan lantang sebuah adegan dari novel fiksi mafia dewasa yang ada di pangkuannya. Di kursi kemudi, sang kakak, Nia, meledak dalam tawa lepas yang menggema di dalam kabin mobil yang melaju membelah malam. "Jelas itu! Kita bakal bawa lari hartanya sebelum male lead sinting di novel itu sempat mengedipkan mata," balas Nia, masih dengan sisa tawa. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap. Tawa mereka terputus oleh sorot lampu menyilaukan dari arah berlawanan, disusul decit ban yang beradu putus asa dengan aspal basah. Kemudi terbanting liar. Dunia mereka berputar hebat sebelum gravitasi menarik mobil itu menembus pagar pembatas. "Sial!" jerit mereka bersamaan. Suara kaca pecah dan derak logam yang remuk menjadi melodi terakhir yang mereka dengar, sebelum kegelapan menelan segalanya. Aroma cerutu Kuba dan wangi parfum maskulin yang mahal adalah hal pertama yang menusuk indra penciuman Mia. Ia membuka mata dengan napas tersengal, dadanya naik turun. Alih-alih bau darah atau puing mobil, ia disambut oleh pendar cahaya keemasan dari lampu kristal raksasa (chandelier) yang menggantung di langit-langit berukir. Ia berdiri di tengah sebuah ballroom mewah bergaya klasik Eropa. Di sekelilingnya, pria-pria berjas rapi dengan aura mengintimidasi—para kartel, bos mafia, dan jajarannya—sedang menyesap sampanye. Apa-apaan ini? batin Mia, kepalanya berdenyut nyeri. Belum sempat ia memproses kewarasannya, sebuah bayangan besar meredupkan cahaya di depannya. Seorang pria dengan rahang tegas, setelan jas Armani hitam yang membalut tubuh berototnya, dan mata sekelam malam, melangkah maju. Tanpa peringatan, tangan besar bersarung kulit itu mencengkeram rahang Mia dengan paksa, memaksanya mendongak. "Mia tidak pernah mengumpat," desis pria itu, suaranya berat dan mengancam, menggores gendang telinga Mia layaknya belati. "Kamu hanya penggantinya, Lusy. Berikan aku senyum khasnya. Senyum pamer gigi yang menggemaskan itu... sekarang!" Pria itu menarik sudut bibir Mia dengan ibu jarinya secara kasar, membentuk sebuah lengkungan paksa. Jantung Mia seakan berhenti berdetak. Wajah bengis ini... nada bicara psikopat ini... tidak salah lagi. Ini Knox! Bos Mafia dari novel vulgar yang baru saja kubaca! Di sudut lain ruangan, Nia sedang mengalami mimpi buruknya sendiri. Ia berdiri kaku dengan balutan gaun malam sutra hitam yang melekat ketat di tubuhnya. Di hadapannya, menjulang sosok pria beraura iblis. Dia adalah Arox—adik sepupu Knox, sang pemimpin mafia kejam lainnya, sekaligus... suaminya di dalam dunia ini. "Dengar baik-baik, Wanita Jalang," bisik Arox, mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Nia. Hawa dingin merayap di tengkuk wanita itu. "Kalau bukan karena ibuku yang memaksa, aku tak akan pernah sudi menikahimu. Melihat wajahmu saja sudah membuat isi perutku bergejolak." Arox mencengkeram pinggang Nia, bukan dengan kelembutan, melainkan dengan tekanan yang menyakitkan. "Tapi aku harus mengingatkanmu. Malam ini adalah pesta penyambutan Lusy. Jika kau sampai berani merusak mood-nya sedikit saja, nyawamu taruhannya." Nia menelan ludah. Ancaman itu terasa begitu nyata. Saat Arox melepaskannya dengan kasar, pandangan Nia beredar liar ke penjuru ruangan hingga matanya terkunci pada satu sosok. Mia. Kedua kakak beradik itu saling melempar pandang. Lewat satu tatapan, telepati persaudaraan mereka langsung terhubung. Mereka perlahan bergeser, mencari titik temu di tengah lautan manusia berbahaya itu. "Gawat. Kita bertransformasi jadi tokoh antagonis wanita pendamping dari novel sialan itu!" bisik mereka serempak saat akhirnya bisa berdiri berdampingan. Mia meremas tangannya yang gemetar. "Oke, kalau otakku belum bergeser... berdasarkan alurnya, kita berdua akan mati tragis tepat sebulan setelah Lusy kembali." Nia memucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Sialan, kau benar. Alurnya sudah sampai mana? Kapan perempuan itu kembali?!" "Nona Lusy telah tiba," suara bariton seorang anak buah menggema dari arah pintu utama, membekukan seisi ruangan. Pintu ganda mahoni itu terbuka lebar. Seorang wanita melangkah masuk bagai bidadari yang turun dari kahyangan. Gaun putih panjangnya menjuntai menyapu lantai, memantulkan pesona murni yang membuat setiap pria di ruangan itu menahan napas. Dia adalah Lusy. Cinta pertama Knox dan Arox. Sang antagonis asli berkedok 'malaikat' polos dengan senyum manipulatif yang menjadi pusat alam semesta novel ini. "Kalau kita mau hidup sampai besok pagi, kita harus kabur sekarang," bisik Mia merapatkan giginya. Keduanya mengangguk. Dengan langkah mengendap-endap seperti kucing, mereka mulai berjalan mundur, memutar menjauhi kerumunan, mengincar pintu keluar terdekat. Kebebasan tinggal beberapa jengkal lagi saat tiba-tiba— Grep. Sebuah tangan baja mencengkeram lengan Nia hingga ia meringis. Arox menariknya dengan kasar, memaksanya kembali berdiri di sisinya. "Kamu tidak tahan kesepian, jadi mencari pengganti murahan?" ejek Arox, matanya menatap tajam ke arah Knox yang baru saja mendekat. Knox mendecih sinis, rahangnya mengeras. "Sudah kuduga apa yang akan kamu lakukan saat berhadapan dengan Lusy. Mau pamer kekuatan sekarang?" "Setidaknya aku belum terikat dalam pernikahan," balas Knox sarkas, bibirnya melengkung membentuk senyum merendahkan. "Peluangku mendapatkan Lusy jauh lebih besar darimu. Apalagi dibanding anjing terikat sepertimu, Arox." "Kurang ajar!" geram Arox, urat di lehernya menonjol. Suasana memanas, aura membunuh menguar dari kedua pria itu. Sementara dua alpha itu sibuk saling menggeram, Nia dan Mia saling bertukar pandang jijik. Dasar anjing gila, batin mereka serempak sembari menatap tajam ke arah Lusy. Memanfaatkan adu mulut yang kian sengit, Nia dan Mia kembali bermanuver, mencari celah untuk kabur. Knox dan Arox yang tersadar Lusy semakin dekat, langsung meninggalkan dua wanita itu dan berlari layaknya remaja dimabuk asmara menuju pintu utama. "Aku kembali," ucap Knox dan Arox hampir bersamaan, menatap takjub pada sang cinta pertama. Melihat jalan yang kosong, Mia menarik tangan kakaknya. Namun, baru tiga langkah, jalan mereka diadang. Lusy berdiri di sana dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya. Wanita itu tahu gerak-gerik mereka. "Arox, jadi ini wanita yang menggantikanku?" Lusy menatap Nia dari atas ke bawah, lalu beralih pada Mia. Nada suaranya terdengar lembut, tapi penuh racun. "Tidak kusangka... kenapa aku merasa dia jauh lebih cantik dariku?" Knox mendengus, menatap Mia dan Nia dengan tatapan setajam silet. "Jangan konyol, Lusy. Mereka bahkan tidak sebanding dengan ujung bayanganmu." Hinaan itu membuat darah Mia mendidih. Tangannya mengepal kuat, siap mendaratkan tinju ke wajah tampan nan menyebalkan itu. Namun, sebelum ia bertindak gegabah, Nia menggenggam tangannya erat. "Jangan dengarkan bajingan buta itu, Sayang. Biarkan saja," bisik Nia dengan senyum arogan yang tak luntur dari wajahnya. Lusy melangkah maju, memamerkan aura suci yang membuat siapa pun muak melihatnya. "Ini pasti wanita yang terpaksa kamu nikahi, Arox? Dan kau, Mia, kan?" ucapnya dengan nada sok prihatin. "Abaikan mereka. Mereka tidak penting, Lusy," sela Arox cepat. "Kau baik sekali menyapa mereka." Arox menoleh pada istrinya dengan kilat mata mengancam. "Nia, Lusy sudah berbaik hati ingin bersulang untuk perkenalan. Tunggu apa lagi? Ambil gelas kristal itu." Mia membelalak. Ia mencengkeram lengan gaun Nia dengan panik. "Jangan, Kak!" bisiknya cepat. "Aku ingat alurnya! Dia akan sengaja menumpahkan anggur itu ke gaunnya sendiri, menuduhmu yang melakukannya, dan Arox akan menyiksamu malam ini juga!" Nia mendengarnya. Mata indahnya menyipit, menatap gelas kristal berisi cairan merah pekat di tangan Lusy. Jika aku ditakdirkan menjadi penjahat di cerita ini, maka mari kita lakukan dengan benar. "Kalau kau mau menjebakku, Nona Lusy," gumam Nia pelan, bibirnya menyunggingkan seringai mematikan. "Sekalian saja aku buat masalah yang sebenarnya." Nia melirik Mia. Telepati itu kembali bekerja. Mia yang paham, dengan gesit menyambar sebotol Red Wine keluaran tahun 1982 dari meja buffet dan menyerahkannya ke tangan sang kakak. Tanpa basa-basi, Nia melangkah maju, membuka tutup botol, dan— Byuuur! "AAAAAAAA!" Jeritan melengking Lusy menggelegar ke seisi ballroom. Cairan merah pekat itu mengguyur kepala hingga merusak gaun putih sucinya, membuatnya terlihat seperti korban pembunuhan berencana. Kepanikan seketika meledak. Knox berlari kesetanan menghampiri Lusy, buru-buru melepas jas mahalnya dan menyampirkannya ke bahu wanita yang gemetar itu. Di sisi lain, Arox berjalan mendekati Nia layaknya malaikat maut. Pria itu mencengkeram leher Nia kuat-kuat, lalu menghempaskan tubuh wanita itu ke lantai marmer yang dingin dengan kasar. "Nia!" Arox menggeram beringas, menatap tajam istrinya yang kini terduduk kesakitan. "Sudah kubilang! Aku tahu kecemburuanmu yang gila ini akan merusak suasana hatinya!" Nia menatap pria itu, mendengus pelan dan merapikan rambutnya dengan gaya anggun. "Cemburu? Aku? Hahaha..." Tawa sarkas meluncur dari bibir Nia. "Jangan buat aku tertawa, Suamiku. Cinta seorang pria tidak ada harganya bagiku." Wajah Arox menggelap sempurna. "Sekarang, akan kubunuh kau." Satu jentikan jari dari Arox, dan belasan peluru dari moncong pistol anak buahnya langsung mengarah tepat ke kepala Nia. Bunyi pelatuk yang ditarik bergema mengerikan. Mia memucat pasi. Ia segera bersimpuh di sebelah kakaknya. "Kak Nia! Katakan sesuatu yang manis! Rayu dia, sekarang!" bisik Mia histeris, separuh menangis. Nia menelan harga dirinya bulat-bulat. Ia menatap mata Arox, air mata buatan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi Arox..." suara Nia bergetar, merendah dan penuh keputusasaan palsu. "Kamu bukan hanya priaku. Kamu adalah sang Don, suamiku yang sangat, sangat kucintai. Rasa cintaku yang begitu besar padamu... membuatku kehilangan akal." Nia menyentuh dadanya seolah menahan sakit. "Aku sangat cemburu melihatmu menatap wanita lain... rasanya aku ingin mati saja!" Rentetan kata-kata manis dan puitis itu meluncur begitu mulus, berbanding terbalik dengan perut Nia yang rasanya ingin muntah saat mengucapkannya. Arox tertegun. Cengkeramannya mengendur. Sebegitu besarkah cintanya padaku sampai dia berani menantang maut? batin pria itu, hatinya tanpa sadar goyah. Dengan isyarat tangan, Arox memerintahkan anak buahnya menurunkan senjata. Helaan napas panjang terdengar dari Mia. "Baik," ucap Arox dingin, meski ada sedikit keraguan di suaranya. Ia mengeluarkan sebuah buku cek dari balik jasnya dan menuliskan nominal dengan cepat. "Tanda tangani saja surat cerai kita besok, dan aku ampuni nyawamu. Dan kau boleh ambil cek ini sebelum angkat kaki dari hidupku." Lembaran kertas itu melayang dan jatuh di pangkuan Nia. Mata Nia membelalak. Satu juta dolar?! Jerit batinnya melengking kegirangan. "Sayang, itu dana pensiun kita untuk kabur dari neraka ini!" bisik Mia di telinganya, berusaha keras menahan tawa bahagia. Namun, sebagai aktris dadakan yang profesional, Nia merespons berbeda. Ia memegang dadanya dramatis, matanya berputar ke atas. "Pegang aku, Mia... aku mau pura-pura pingsan," bisiknya. Detik berikutnya, tubuh Nia terkulai lemas di pelukan Mia. Arox mengernyitkan dahi. Tidak... dia pingsan karena patah hati? Apakah aku terlalu kasar? Tak bisa kubiarkan dia semenderita ini, batin ego pria itu melambung tinggi. "Apa uang ini tidak cukup untuk menyembuhkan luka hatimu?" tanya Arox, nada suaranya sedikit melunak, penuh keheranan. "Tentu saja cuk—" Sebelum Nia sempat menjawab 'cukup', Mia dengan ganas mencubit lengan kakaknya yang pura-pura tak sadarkan diri itu. Nia buru-buru membuka mata dengan sayu. "Maksudku... hanya inikah? Apa cintaku kepadamu, suamiku, hanya bernilai segini?" isaknya pura-pura, meski tangannya dengan cekatan mengamankan cek satu juta dolar itu ke dalam belahan gaunnya. "Kuterima ini hanya karena ada tanda tanganmu yang begitu sempurna di atasnya. Akan kudekap di dada ini, dan berharap kelak, hatimu akan sedekat kertas ini dengan hatiku." Drama picisan itu terlalu sempurna. Takkan pernah terjadi, jawab Arox secara verbal dengan nada dingin. Namun di dalam batinnya, ia berpikir keras, Mungkin aku harus memberinya kompensasi lebih banyak beserta beberapa properti setelah ini agar dia tidak bunuh diri. Tidak akan pernah terjadi. Simpan saja hatimu untuk si Teratai Putih itu, Bos, batin Nia mencibir malas. Selama ceknya bisa cair, bersandiwara jadi istri bucin aman-aman saja. Mia membantu Nia berdiri. "Hei, perempuan sok suci itu hampir membuat kepalamu berlubang. Lihat saja, akan kuhancurkan dia sekarang," bisik Mia dengan mata berkilat jahil. "Nona Lusy, biar saya bantu ke ruang ganti," ucap Mia ramah, melangkah mendekati Lusy yang masih dilindungi Knox. Knox menatap tunangannya dengan bingung. Nia cemburu buta pada Arox hingga gila, tapi kenapa Mia malah bersikap murah hati pada Lusy? Apa yang direncanakan wanita ini? Baru saja Knox memikirkan itu, Mia tiba-tiba menjerit tertahan. "Ah!" Gadis itu 'terpeleset'. Saat jatuh, tangannya dengan sangat akurat mencengkeram bagian belakang gaun Lusy yang sudah basah oleh anggur. SRET! Suara kain sutra robek terdengar jelas. Gaun itu terkoyak dari pinggang hingga ke paha, memperlihatkan pakaian dalam berenda milik Lusy kepada seluruh petinggi mafia di ruangan itu. Beberapa orang refleks menahan tawa. Sisanya terbatuk canggung melihat sang 'bidadari' kini terekspos. Arox buru-buru berlari, memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Lusy, tapi pemandangan itu telanjur menjadi tontonan gratis. "Astaga! Maaf... maafkan aku!" seru Mia, menutup mulutnya dengan kedua tangan, raut wajahnya dibuat sepanik mungkin. "Lantainya basah karena anggur tadi, jadi saya terpeleset. Sumpah, Knox, Nona Lusy, ini hanya kecelakaan!" Knox menyambar lengan Mia, menarik wanita itu hingga dada mereka saling berbenturan. Mata pria itu menyala penuh amarah. "Lusy tidak mungkin seceroboh itu untuk memaafkanmu, Mia. Coba saja kau berulah lagi, peranmu sebagai penggantinya akan berakhir malam ini juga." Mia menunduk, membuat bahunya bergetar seolah sedang menangis ketakutan di depan Knox. Namun, di balik wajah yang tertunduk itu, Mia sedang menggigit bibirnya kuat-kuat menahan tawa kemenangan yang hampir meledak. Berakhir malam ini? Silakan saja, Tuan Tampan. Selama harta kalian berdua jatuh ke tangan kami, siapa juga yang peduli dengan peran bodoh ini! batin Mia menyorak-nyorai kelicikan mereka berdua. Malam pertama di dunia novel ini sungguh gila, tapi tabungan mereka jelas aman terkendali.Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat."Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.
Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang."Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!""Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de
Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak."Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k
Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka."Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya
Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut."Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru
Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan."Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu







