مشاركة

2

مؤلف: Kholifah shafa
last update تاريخ النشر: 2026-10-01 20:06:44

​Udara malam itu terasa menggigit. Angin musim gugur menyusup masuk melalui jendela kamar tamu bergaya Victorian yang sengaja dibiarkan terbuka. Tirai beludru berwarna merah marun berkelebat pelan, layaknya hantu di rumah duka.

​Di tengah kamar yang lebih mirip museum barang antik itu, Nia duduk di tepi ranjang berkanopi. Tangannya dengan anggun memutar-mutar gelas kristal berisi sisa cairan bourbon milik Arox yang diam-diam ia curi sebelum meninggalkan ballroom. Cek bernilai fantastis itu kini tergeletak manis di atas nakas kayu mahoni, berkilauan tertimpa cahaya bulan.

​"Kau sadar, kan, kita sekarang berada di ujung tanduk?" gumam Nia, menyesap minumannya perlahan, membiarkan alkohol membakar tenggorokannya dan menenangkan sarafnya yang tegang.

​Di seberangnya, Mia mondar-mandir di atas karpet Persia dengan telanjang kaki. Gaun pestanya yang mewah telah ia singkap sebatas lutut agar tak menghalangi gerakannya. Wajahnya menegang, otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal.

​"Ujung tanduk? Kak, kita ini sedang berdansa di atas ladang ranjau berduri!" tukas Mia, berhenti sejenak untuk menatap kakaknya dengan mata berapi-api. "Lusy kembali. Ini adalah pemicu utama di novel sialan itu. Sejak detik wanita munafik itu menginjakkan kakinya di rumah ini, hitung mundur kematian kita sudah dimulai."

​Mia berbalik, kembali mondar-mandir. "Kau ingat bagaimana nasib Nia dan Mia yang asli di bab lima belas? Kau diracun arsenik perlahan-lahan oleh Arox karena dituduh mendorong Lusy dari balkon, dan aku... ah, sialan! Knox menyerahkanku ke rumah bordil bawah tanah kartel musuhnya hanya karena aku tak sengaja menumpahkan kopi ke dokumen yang ditandatangani Lusy." Mia bergidik, memeluk lengannya sendiri, membayangkan akhir tragis yang tertulis di novel dewasa bergenre dark romance itu.

​Nia meletakkan gelasnya dengan dentingan keras yang memecah kesunyian. Matanya yang tadinya sayu kini memancarkan kilat berbahaya, jauh dari kesan wanita patah hati yang menangis di lantai pesta beberapa jam lalu.

​"Itu kalau kita bodoh dan mengikuti alur yang dibuat oleh penulis murahan itu," potong Nia tajam. Ia bangkit, melangkah mendekati jendela, membiarkan angin malam menyapu rambut hitamnya yang tergerai panjang. "Tapi ini kita, Mia. Jika takdir memaksa kita menjadi antagonis..." Nia menoleh, menyeringai sinis, "maka kita akan menjadi antagonis yang membuat Lusy terlihat seperti pendatang baru yang menyedihkan."

​Mia menghentikan langkahnya. Seringai serupa perlahan terbentuk di bibirnya. "Tentu saja. Kita punya senjata pamungkas yang tak dimiliki satu pun bajingan di dunia ini." Mia mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. "Kita tahu segalanya. Setiap rahasia, setiap jebakan, setiap alur busuk yang akan dimainkan."

​"Tepat," sahut Nia. Ia melangkah menuju meja rias antik dan membuka laci demi laci, hingga menemukan sebatang lipstik merah menyala. Dengan cekatan, ia mulai menulis di atas permukaan cermin besar di hadapan mereka, membuat semacam peta konsep dadakan.

​"Langkah pertama," ujar Nia, menggarisbawahi nama 'Lusy' dengan tekanan kuat. "Kita harus antisipasi kelicikan si Teratai Putih itu. Dia bermain sebagai korban. Dia memanfaatkan kepolosan palsunya untuk memicu insting protektif Arox dan Knox."

​"Dan dia selalu berhasil," timpal Mia, duduk di kursi rias sambil memandangi tulisan lipstik kakaknya. "Ingat kejadian di bab tujuh? Saat pelelangan perhiasan? Lusy akan menukar kalung berlian asli milik keluarga Arox dengan yang palsu, lalu menaruh yang asli di tasmu. Dia akan menangis, mengatakan bahwa kau mencurinya karena cemburu."

​"Klasik," decih Nia muak. "Kali ini, kita balikkan keadaan. Aku akan memastikan kalung itu tak pernah sampai ke tasku. Bahkan lebih baik lagi, aku akan membuatnya berakhir di saku jas selingkuhan Knox yang tak pernah dibicarakan siapa pun. Siapa namanya? Veronica?"

​Mia menjentikkan jari, matanya berbinar licik. "Jenius, Kak! Biar Knox dan Arox saling bunuh karena skandal itu. Tapi ingat, kita harus berhati-hati. Lusy licin. Dia tak akan berhenti hanya dengan satu kegagalan."

​Nia mengangguk setuju, melingkari nama 'Arox' dan 'Knox'. "Dua anjing gila ini adalah pion utamanya. Arox dengan kesadisannya dan Knox dengan manipulasi psikologisnya. Mereka buta karena obsesi murahan pada Lusy. Selama mereka teralihkan oleh si malaikat palsu itu..."

​"Kita bergerak dalam bayang-bayang," potong Mia antusias, melanjutkan rencana. "Uang dari perceraianmu ini baru permulaan." Mia menunjuk cek di atas nakas. "Aku butuh akses ke brankas rahasia Knox. Di bab sepuluh, penulis menyebutkan ada dokumen kepemilikan tambang berlian di Afrika Selatan yang belum didaftarkan atas nama siapa pun. Aku akan mengambilnya."

​Nia menatap adiknya dengan kagum. "Tambang berlian. Cewek matre yang sesungguhnya. Kau mau merampok mafia kelas dunia?"

​"Kalau kita mau kabur dan hidup bebas sebagai janda kaya raya, kita butuh dana abadi, Kak. Satu juta dolar tak akan cukup untuk bersembunyi dari dua kartel terbesar di dunia," kilah Mia, mengangkat bahu tak berdosa.

​"Baik," Nia menyetujui, menambahkan gambar brankas dan nominal uang di cermin. "Langkah kedua, kita kumpulkan kekayaan. Kita lucuti harta mereka perlahan, dari dalam."

​Mia menatap cermin itu lama, senyumnya memudar digantikan tatapan yang jauh lebih dingin dan penuh perhitungan. "Dan langkah ketiga... ini yang paling penting, Kak. Kita harus berhenti bereaksi. Di novel, Nia dan Mia yang asli selalu bereaksi emosional. Cemburu, marah, menangis... itu yang membuat mereka kalah dan terlihat menyedihkan di mata Arox dan Knox."

​Nia mengusap bibirnya, mengingat kembali sandiwara tangisannya di ballroom. "Kau benar. Emosi adalah kelemahan terbesar di dunia mafia. Mulai sekarang, kita akan bermain dingin. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi kecemburuan. Kita akan menjadi patung es. Biarkan mereka kebingungan melihat kita tak lagi mengejar cinta mereka."

​"Buat mereka menebak-nebak, Kak," bisik Mia, matanya memancarkan tekad. "Ketika wanita yang biasanya memohon cinta tiba-tiba tak lagi peduli... ego pria-pria arogan itu pasti akan terluka. Dan pria yang terluka egonya, adalah pria yang gegabah."

​Nia mengangguk perlahan. Di dalam cermin, ia tak lagi melihat pantulan dua wanita tak berdaya yang akan segera mati. Ia melihat dua antagonis cerdas, yang siap memutar balikkan nasib.

​"Besok," kata Nia tajam, suaranya dipenuhi keyakinan mutlak. "Besok, saat Arox menyerahkan surat cerai itu, aku akan menandatanganinya dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat. Dan kau, Mia... tetaplah menjadi tunangan Knox yang 'baik hati', sampai kau mendapatkan kode brankas itu."

​Mia tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak pantas di rumah seorang bos mafia. "Oh, aku akan menjadi tunangan yang sangat patuh, Kak. Begitu patuh, sampai dia tak akan sadar saat aku menggorok dompetnya."

​Nia mengusap sisa lipstik di tangannya menggunakan tisu, lalu menatap Mia dengan penuh arti.

​"Malam ini, biarkan Lusy menikmati kemenangannya sebagai ratu pesta," ucap Nia, nada suaranya berbahaya. "Karena mulai besok, panggung ini milik kita. Dan di cerita kita... para antagonis tak pernah mati dengan murah."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   9

    Benda perak itu tergeletak bisu di atas meja kaca, memantulkan pendar kemerahan dari lampu gantung kristal di lobi hotel. Bagi orang awam, itu hanyalah sebuah flash drive biasa. Namun bagi Mia dan Nia, benda sebesar ibu jari itu tak ubahnya kotak Pandora yang baru saja dilemparkan oleh sang dewa kematian.​Udara di sekitar mereka terasa membeku, seolah waktu berhenti berdetak sesaat setelah limusin Knox menghilang ditelan kabut pagi.​Mia adalah yang pertama kali tersadar dari paku keterkejutan. Dengan gerakan cepat yang didorong oleh sisa-sisa adrenalin, ia menyambar flash drive itu. Logamnya terasa sedingin es di telapak tangannya yang berkeringat.​"Naik. Sekarang," desis Mia, menarik pergelangan tangan kakaknya.​Nia mengangguk kaku. Keduanya melangkah cepat membelah lobi, mengabaikan tatapan beberapa staf hotel, dan masuk ke dalam lift VIP. Begitu pintu baja itu tertutup, memblokir dunia luar, pertahanan tenang yang mereka bangun susah payah akhirnya runtuh.

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   8

    Suara terputusnya sambungan telepon itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Klik. Singkat. Dingin. Dan mematikan.​Ponsel satelit di tangan Mia terasa seberat timah panas. Ia menatap layar yang kini gelap gulita, lalu beralih menatap Nia yang duduk mematung di sofa. Udara di dalam suite hotel yang beberapa detik lalu terasa ringan oleh euforia kebebasan, kini mendadak pekat, seolah seluruh oksigen tersedot keluar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang.​"Knox," bisik Mia, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, campuran antara ketakutan yang mendalam dan ketidakpercayaan yang absolut. "Itu... suara Knox."​Nia membeku. Tangannya yang masih memegang tiket penerbangan ke Skotlandia gemetar pelan. "Knox? B-bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menemukan nomor satelit darurat itu? Jalur enkripsinya... aku sudah mengaturnya berlapis-lapis!"​"Dia bukan bos mafia terbesar di benua ini tanpa alasan, Kak," desis Mia, otaknya berputar de

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   7

    Udara subuh menyusup lewat celah jendela suite hotel, membawa aroma laut yang asin dan semilir embun. Pesta gila-gilaan malam sebelumnya hanya menyisakan puing-puing kemewahan: botol-botol Dom Pérignon kosong yang berserakan, kelopak mawar merah yang terinjak, dan noda sampanye di atas karpet Persia.​Mia terbangun dengan dengingan tajam di kepalanya. Kepalanya berdenyut, protes atas alkohol jutaan dolar yang dipaksa masuk ke pembuluh darahnya. Ia membuka mata perlahan, menyipit menahan silau lampu kristal yang lupa dimatikan. Di sampingnya, Mateo, sang gigolo berwajah pahatan dewa itu, masih terlelap pulas, dada bidangnya naik turun berirama.​Mia duduk, memijat pelipisnya. Pikirannya perlahan menjernih, mengusir kabut hangover. Ini bukan saatnya bermanja. Hari telah berganti, dan mesin hitung waktu menuju pelarian mereka telah berdetak.​"Bangun, Cinderella," gumam Mia, menyibak selimut sutra dan melangkah turun. Ia menendang pelan kaki Mateo. "Pestanya sudah usai. Saatnya kembali k

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   6

    ​Di saat udara di penthouse Knox membeku oleh ketegangan dan rahasia kelam, di belahan kota yang lain, dentuman musik disko tahun 80-an membelah keheningan sebuah suite eksklusif di hotel bintang lima. Aroma champagne yang tumpah bercampur dengan wangi parfum mahal menciptakan atmosfer hedonisme yang memabukkan.​Malam itu, Nia dan Mia telah resmi membuang atribut 'pasangan mafia' mereka ke tempat sampah. Tidak ada lagi gaun elegan yang mengekang napas, tak ada lagi senyum palsu untuk para petinggi kartel, dan yang paling penting, tak ada lagi Lusy, Arox, ataupun Knox di radius pandang mereka.​"Lebih cepat! Aku mau beat yang lebih gila!" teriak Mia dari tengah ruangan, suaranya serak karena terlalu banyak tertawa.​Gaun midnight blue dari acara lelang kini teronggok mengenaskan di atas sofa. Mia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna sampanye yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, kakinya telanjang, dan di tangannya tergenggam sebotol Dom Pérignon yang harganya

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   5

    Suara derit kaca yang retak dan benturan logam masih menyisakan denging di kepala Dante. Di dalam penthouse mewah berlantai sangat tinggi yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, suasana terasa begitu pekat dan menyesakkan.​Knox berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa. Kemeja hitamnya kusut, beberapa kancing atasnya terlepas memperlihatkan leher bidang yang naik turun menahan amarah. Di tangannya, gelas wiski berdinding tebal digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, nyaris meremukkan kristal tersebut.​"Sialan... Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan segalanya malam ini," desis Knox tertahan, suaranya bagaikan geraman binatang buas yang terluka di tengah badai salju. "Gara-gara Mia, aku gagal menjaga sebuah informasi penting milik musuh yang sudah lama kusimpan rapat-rapat."​Dante, sang asisten setia yang berdiri kaku dalam balutan jas rapi di dekat pintu, mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia merapikan letak kacamatanya, mencoba mencerna badai yang baru

  • Siasat Menaklukkan Dua Suami Mafia   4

    Gedung Opera bergaya Baroque di jantung kota itu malam ini disulap menjadi lautan kemewahan yang memabukkan. Lelang amal tahunan sindikat mafia yang berkedok yayasan filantropi ini selalu menjadi ajang pamer kekayaan dan kekuasaan. Aroma parfum Baccarat Rouge bercampur dengan cerutu mahal menguar di udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan alunan musik klasik dari string quartet di sudut ruangan.​Nia dan Mia melangkah masuk bagai dua dewi dunia bawah yang menuntut takhta mereka. Tidak ada lagi gaun hitam tanda berkabung atas cinta yang kandas. Malam ini, Nia membalut tubuhnya dengan gaun sutra emerald berbelahan dada rendah yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Sementara Mia mengenakan gaun malam midnight blue bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak, memancarkan aura femme fatale yang mematikan.​"Lihat mereka," bisik Mia di telinga kakaknya, bibirnya menyunggingkan senyum anggun sambil mengayunkan segelas champagne. "Dua anjing penjaga dan malaikat palsu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status