مشاركة

Bab 8

مؤلف: Fana
Anindya berdiri di depan menara, mendongak menatap bangunan sembilan tingkat itu. Di balik jendela setiap lantai, tampak samar berbagai alat penyiksaan yang mengerikan.

Tiba-tiba, dia tertawa.

Dia tertawa hingga air matanya mengalir, hingga tubuhnya membungkuk, hingga sekujur tubuhnya gemetar.

Kemudian, dia mendorong pintu menara hingga terbuka.

Bagian dalam menara remang-remang. Hanya lampu minyak yang terpasang di dinding memancarkan cahaya kekuningan. Anindya melangkah masuk perlahan.

Lantai pertama adalah tempat hukuman cambuk. Cambuk kulit sapi yang kasar telah direndam dalam air garam, lalu dihantamkan berkali-kali ke punggungnya hingga kulitnya terkoyak dan dagingnya tercabik. Dia tidak menjerit. Dia hanya mengertakkan gigi, menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.

Lantai kedua adalah tempat hukuman penjempitan jari. Kesepuluh jarinya dijepit di antara batang-batang bambu, lalu dua pria bertubuh kekar menariknya sekuat tenaga. Suara tulang yang remuk terdengar jelas. Seluruh tubuhnya gemetar, darah merembes dari bawah kukunya, tetapi dia tidak memohon ampun sedikit pun.

Lantai ketiga adalah tempat hukuman besi panas. Bongkahan besi membara ditempelkan ke kulitnya. Terdengar suara mendesis, asap putih mengepul, dan udara dipenuhi bau daging terbakar. Saat mencium bau tubuhnya sendiri yang hangus, akhirnya air matanya jatuh juga.

Namun, dia tetap tidak memohon ampun.

Dia terus naik, lantai demi lantai.

Setiap lantai menyimpan hukuman yang kejam. Setiap lantai membawanya selangkah lebih dekat menuju kematian.

Namun, dia tidak takut mati.

Dia hanya takut bahwa bahkan setelah mati, dirinya masih akan terikat di tempat ini, masih harus menyandang nama “Nyonya Ranjaya”, lalu membusuk di makam leluhur Keluarga Ranjaya.

Lantai keempat, kelima, keenam ....

Saat hukuman terakhir berakhir, Anindya sudah tak sanggup berdiri. Dia terkapar di lantai, sekujur tubuhnya berlumuran darah, seolah-olah baru saja diangkat dari genangan darah.

Pintu menara pun terbuka. Sinar matahari menerobos masuk, begitu menyilaukan hingga dia tak sanggup membuka mata.

Seorang pelayan tua menopangnya saat dia berjalan keluar. Air mata membasahi wajah keriputnya. “Nyonya Muda ... Anda, Anda berhasil keluar ....”

Anindya bersandar pada kusen pintu, menatap langit di luar. Birunya begitu indah hingga terasa nyaris tak nyata.

“Tolong bantu aku ....” Suaranya begitu lirih, seringan sehelai bulu. “Tolong antarkan surat ini ke Kediaman Jenderal.”

Dia mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya. Itulah surat cerai yang berhasil diperolehnya setelah menembus Menara Sembilan Tingkat. Dengan surat itu, mulai saat ini, dia dan Sakha akan berpisah, masing-masing menempuh jalan sendiri, tanpa ada hubungan apa pun lagi.

Pelayan tua itu menerima surat tersebut dengan tangan gemetar.

Anindya perlahan menegakkan tubuh, lalu menuruni tangga selangkah demi selangkah tanpa pernah menoleh lagi.

Dengan sisa uang peraknya, dia membeli sebuah kereta kuda tua yang sudah reyot. Kusir yang sudah lanjut usia itu bertanya hendak ke mana dia pergi.

Dia berpikir sejenak, lalu menjawab, “Bogenfil.”

Konon musim bunga di Bogenfil sangat indah. Bunga tabebuya memenuhi seluruh kota dan kota air itu terasa lembut dan menenteramkan.

Dia ingin pergi melihatnya.

Kereta kuda itu bergoyang-goyang meninggalkan kota, sementara gerbang kota perlahan tertutup di belakangnya.

Anindya bersandar pada dinding kereta. Mendengarkan suara roda yang bergulir di jalan, lalu perlahan memejamkan mata.

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai, menghangatkan tubuhnya.

Tiba-tiba, dia teringat masa bertahun-tahun silam, ketika dirinya masih seorang gadis kecil yang belum mengenal kesedihan. Saat itu, dia sedang duduk di depan jendela menyulam, ketika seorang pelayan wanita berlari masuk sambil berseru, “Nona! Nona! Jenderal Besar sudah kembali dengan kemenangan! Semua gadis di kota pergi melihatnya!”

Dia meletakkan bingkai sulamannya, lalu mencondongkan tubuh ke ambang jendela untuk melihat ke luar.

Di kejauhan, seorang jenderal muda menunggangi kuda yang tinggi dan gagah. Dia mengenakan zirah perak dan membawa tombak panjang, tampak gagah dan berwibawa.

Sinar matahari menyinari tubuhnya, membuatnya tampak begitu tampan hingga nyaris tak nyata.

Saat itu, Anindya berpikir, betapa indahnya jika dia bisa menikah dengan pria seperti itu.

Kemudian, dia benar-benar menikah dengannya.

Lalu, setelah itu ....

Anindya membuka mata. Melalui celah tirai, dia memandang pegunungan di kejauhan, pepohonan yang membentang, dan langit luas di atasnya.

“Nona,” tanya kusir tua seraya menoleh ke belakang, “kenapa Nona bepergian jauh sendirian? Keluarga Nona di mana?”

Anindya terdiam cukup lama.

“Aku sudah tidak punya keluarga lagi,” jawabnya.

Kereta kuda itu terus melaju, hingga perlahan menghilang di ujung jalan besar.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 18

    Sakha berdiri di luar pintu, mendengarkan tangisan Anindya dari dalam. Suaranya terdengar begitu lirih, seperti tidak ingin Sakha mendengarnya.Sakha menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan tubuh berlumuran darah. Lalu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Darah terus mengalir dari luka-lukanya, membasahi pakaiannya, tetapi dia tidak merasakan sakit sedikit pun.Dia teringat perkataan Galuh, “Kalau orangnya sudah pergi, menyesal pun sudah terlambat.”Saat itu, dia tidak memercayainya. Sekarang, dia percaya. Namun, semuanya sudah terlambat. Segalanya sudah terlambat.Dia duduk di luar pintu sepanjang malam.Saat fajar menyingsing, pintu akhirnya terbuka.Anindya berdiri di ambang pintu dengan sebuah buntalan di tangan.“Aku akan pergi,” katanya tenang. Matanya sembap, tetapi dia tidak lagi menangis.“Ke mana?” Sakha langsung bangkit berdiri. Kedua kakinya mati rasa hingga dia terhuyung. Luka di bahu dan dadanya kembali terbuka, membuat darah mengalir deras. Namun, dia sama sekali

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 17

    Anindya menatap Sakha dan terdiam lama sekali.“Pergilah.” Dia menutup pintu. “Aku tidak akan memaafkanmu.”Sakha kembali berdiri di luar pintu selama sehari penuh.Hari ketiga, hari keempat, hingga hari kelima.Setiap hari, dia berdiri di luar pintu tanpa berbicara ataupun mengetuknya. Dia hanya berdiri di sana, begitu saja.Saat Anindya keluar untuk membeli bahan makanan, Sakha mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Dia tidak berani mendekat, hanya diam-diam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan Anindya.Setiap kali Anindya menoleh ke arahnya, Sakha akan langsung berhenti dan berdiri diam di tempat, seperti seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.Pada hari keenam, Anindya akhirnya tidak tahan lagi.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Dia berdiri di ambang pintu dengan mata memerah. “Apa gunanya kau melakukan semua ini?”“Tidak ada gunanya.” Sakha menatapnya dengan suara serak. “Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau kau tidak memaafkanku, hidup

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 16

    Pintu terbuka. Anindya berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian kain yang warnanya telah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya disanggul menggunakan tusuk konde kayu. Penampilannya begitu sederhana dan bersih, bagaikan sekuntum teratai putih.Saat melihat Sakha, ekspresinya sama sekali tidak berubah.Tidak terkejut, tidak marah, tidak pula takut. Hanya ketenangan.Seperti sedang menatap orang asing.“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanyanya dengan suara datar.Sakha menatapnya. Tenggorokannya terasa tercekat, seakan ada segumpal kapas yang menyumbatnya hingga dia tidak mampu berkata apa-apa.“Aku ....” Dia akhirnya membuka mulut, tetapi suaranya sangat serak. “Aku datang untuk menjemputmu pulang.”Anindya menatapnya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Senyumnya begitu tipis dan samar, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. “Pulang?”Dia mengulangi pertanyaannya, “Pulang ke mana?”“Kembali ke Kediaman Jenderal. Pulang ke rumah.” Sakha maju selangkah, suaranya t

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 15

    Seluruh tubuh Sakha bergetar hebat, rasanya sebilah pisau baru saja menghunjam dadanya.Dia teringat malam itu, saat Anindya berlutut di tanah sambil mencengkeram ujung celananya dan memohon, “Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini.”Dia menjawab, “Kau adalah wanitaku. Mereka tidak berani menyentuhmu.”Lalu, dia melepaskan jari-jari Anindya satu per satu.Setelah itu, dia pergi.Dia telah meninggalkan seorang perempuan tak berdaya di tengah gerombolan pengemis. Dengan tangannya sendiri, dia telah mendorong Anindya ke neraka.Sakha tiba-tiba berbalik dan menghantam dinding dengan tinjunya. Batu bata pecah, buku-buku jarinya remuk dan berlumuran darah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.“Pengawal!” teriaknya hingga suaranya serak dan pecah. “Kurung Kirana di penjara bawah tanah! Sebarkan perintahku! Semua pengemis di seluruh ibu kota, tangkap dan kurung mereka semua, tanpa terkecuali! Biar dia rasakan bagaimana rasanya dilecehkan orang lain! Buat dia tak bisa tenang, mati

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 14

    Kusir tua itu gemetar ketakutan. “Je, jenderal? Perempuan yang mana?”“Perempuan yang keluar melalui gerbang selatan kota, yang tubuhnya penuh luka itu.”Mata kusir tua itu langsung berbinar. “Oh, maksud Jenderal nyonya itu, ya! Saya mengantarnya sampai ke dermaga penyeberangan. Dia pergi naik kapal.”“Naik kapal? Kapal tujuan mana?”“Ke arah selatan. Tepatnya ke mana, saya juga tidak tahu. Nyonya itu bilang, kapal mana pun tidak masalah, asalkan menuju ke daerah selatan.”Sakha melepaskan kusir tua itu, melompat naik ke kudanya, lalu melesat menuju dermaga penyeberangan.Dia memacu kudanya sekencang mungkin. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, akhirnya dia tiba di dermaga. Orang-orang berlalu-lalang, sederetan kapal berlabuh di sana. Sakha bertanya kepada awak kapal satu per satu. Setelah menanyai lebih dari sepuluh kapal, akhirnya seseorang mengingat Anindya.“Maksudmu gadis yang tubuhnya penuh luka itu, ya? Cantik sekali orangnya, cuma wajahnya pucat sampai bikin orang tak

  • Sang Pengembara Bertanya tentang Negeri Abadi   Bab 13

    Galuh menatapnya. Setelah terdiam sejenak, dia akhirnya menyebutkan alamat tempat itu.Sakha langsung berbalik dan pergi. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa, menyerupai binatang buas yang sedang mengamuk.Di sebuah bangunan tua yang terbengkalai di sebelah timur kota, beberapa pengemis tengah minum arak mengelilingi api unggun.Begitu Sakha menerobos masuk, mereka bahkan belum sempat bereaksi ketika kilatan pedang menyambar di hadapan mereka.Saat orang pertama tumbang, yang lainnya langsung berteriak ketakutan dan berusaha melarikan diri.Sakha menebas mereka satu per satu. Setiap tebasannya begitu dalam, sementara darah memercik ke seluruh wajahnya.“Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!” Dia menjambak rambut pengemis terakhir dan membantingnya ke tanah. “Siapa yang menyuruh kalian menyentuhnya?!”Pengemis itu sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Seraya menangis dan meraung-raung, dia memohon ampun. “Ampuni hamba, Jenderal! Ampuni hamba. Ada seseorang yang beri kami uang ag

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status