Malam sudah larut, Brian baru turun dan mengetuk kamarku.Dia membawa sekotak stroberi, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi tadi."Soal foto tadi jangan dipikirin, ya. Kakak udah daftarin kamu sama Chelsea buat tes masuk Tunas Bangsa. Kalau hasilnya bagus, kalian bisa sekolah di tempat yang sama."Aku meremas kartu ujian itu, tak bersuara.Percikan harapan di hatiku yang baru saja padam, kembali menyala meski aku berusaha menahannya.Hari ujian tiba. Chelsea mengenakan seragam pesanannya, membawa tas sekolah baru. Di tempat pensilnya terselip pulpen keberuntungan dari Brian, dengan gantungan kelinci kecil di tutupnya.Sementara aku, masih mengenakan jaket tua dari panti asuhan, dengan ujung lengan yang sudah berumbai.Baru setelah masuk ruang ujian, aku sadar tidak ada yang menyiapkan alat tulis untukku.Bu Ivy, pengawas ujian, membongkar mejanya cukup lama sebelum menemukan sepotong pensil pendek. "Pakai ini ya, seadanya dulu."Di lorong, Bibi Desi sedang asyik mengobrol dengan kepa
Mehr lesen