Share

Bab 2. MENGUAK MASA LALU

Seminggu kepulangannya dari rumah sakit, Arbia istirahat total dirumah. Pekerjaannya diambil alih  oleh rekan satu divisinya. Membutuhkan waktu berhari-hari bahkan bisa berminggu-minggu untuk memulihkan kondisinya.

Seorang diri di rumah sebesar itu, hal yang sudah biasa oleh seorang Arbia. Semenjak 4 tahun yang lalu dia memutuskan pindah ke rumah peninggalan neneknya. Setelah hampir tujuh tahun hidupnya ia jalani tinggal di rumah sakit. Persembunyian yang sudah tidak asing.

Baginya rumah sakit adalah rumah utamanya waktu itu. 3 hari selang orang tua dan neneknya meninggal, Arbia dirawat khusus di rumah sakit oleh seorang pksikiater khusus gangguan saraf. Di sana dia dititipkan oleh mendiang neneknya.

Kondisi psikis Arbia waktu itu tidak begitu bagus. Karena bertubi-tubi dia mengalami musibah dan mala petaka. Kehilangan-demi kehilangan membuat mental anak umur 8 tahun kala itu down. Sempat kehilangan ingatannya waktu itu, Arbia menjalani perawatan khusus dengan berbagai cara.

Ketika menginjak remaja, perlahan-lahan kondisi Arbia mulai pulih dan membaik. Sampai pada akhirnya dia bisa menamatkan gelar S1-nya jurusan jurnalistik. Meneruskan cita-cita ayahnya. Membongkar setiap organisasi yang melanggar hukum.

Baginya menjadi seorang jurnalis atau repoter itu adalah pekerjaan yang meyenangkan dan menantang. Dia bisa berpetualang kemana pun dia mau. Dia berjanji sama ayah dan ibunya, akan menguak misteri pembunuhan berantai itu. Sudah cukup lama Arbia menunggu waktu itu. 15 tahun,  dia menunggu dirinya menjadi seorang repoter besar yang akan mengungkap pembunuh ayah dan ibunya yang sesungguhnya.

Arbia menggeliatkan badan ketika mendengar bel pintu tiba-tiba berbunyi. Masih dengan meringis , gadis itu bangkit dari pembaringannya. Berjalan ke arah pintu dan membukanya. Kepalanya celingukan mencari-cari seseorang yang sudah membunyikan bel pintu di rumahnya.

"Heran, siapa sich yang iseng?" Mulutnya ngedumel nggak jelas. Sekilas  dia melihat amplop berwarna coklat. Lumayan lebar benda itu. Sengaja di taruh di lantai depan pintu rumahnya.

Agak ragu, Arbia memungut amplop besar itu. Sebelum dia menutup pintu dan kembali ke dalam rumah, kembali kepalanya celingak-celinguk. Memastikan tidak ada siapa-siapa dirumahnya.

Dengan hati-hati, Arbia membuka amplop coklat itu. Sebuah surat kabar bertuliskan tahun 21 juni 2005 terpampang di sana. Hati Arbia tergetar melihat head line di tahun itu. Terlihat senyum sumringah orang-orang itu. Tepat ketika ayah dan ibunya dibunuh. Dengan tangan gemetar Arbia mencampakkan surat kabar itu ke meja. Tidak luput dari pandangannya, di sebelah foto orang-orang itu terlihat jelas ada gambar sang kapten Axelle. Jelas-jelas itu di edit. Tapi apa maksudnya?

Arbia berusaha menenangkan diri sebisa mungkin. Rangkaian masalalu tiba-tiba muncul di memorinya.

"Drrrrrr ...

Agak terhenyak dia mendengar suara ponselnya berbunyi. 

"Hallo, siapa di sana?" Dengan suara bergetar Arbia mengangkat ponselnya.

"Sudah terima kiriman, Saya? Bagaimana, kamu terkejut? Kamu sudah mengerti maksud dari amplop yang Saya kirimkan,?" suara seseorang di seberang telpon cukup lantang. Beberapa detik nafas Arbia berhenti.

"Kamu siapa? Apa maksud dari semua ini? Kamu menerorku? Bhulshit!" suara mentah Arbia tak kalah menggema. Terdengar  suara seseorang di seberang terkekeh.

"Kalau kamu butuh bantuanku untuk menjelaskan semua, kamu bisa panggil aku kapanpun kamu mau! Seharusnya kamu terkejut, atau setidaknya kamu penasaran dengan foto super heromu itu. Kenapa terpampang bersama dengan manusia-manusia rakus yang tak bermoral itu!" Tiba-tiba suara di seberang berubah intonasinya. Lebih ketus dan penuh kebencian. Belum juga Arbia membuka mulutnya telfon sudah,

Tut ..., mati! Arbia menghembuskan nafas dalam-dalam. "Sudah biasa begini! Resiko! Namanya juga repoter! Pasti semua akan mengalami hal seperti ini." Mulut Arbia menyemangati dirinya sendiri.

Mata Arbia menyipit, terus menatap ke layar laptop. Mencari profil sosok sang kapten. Ada beberapa postingan tentang dirinya yang sukses dan mendapat penghargaan dalam membantu pemerintah memberantas mafia dan koruptor. Juga postingan masa kecilnya dengan postur tubuh yang imut dan menggemaskan. Arbia terus menaik turunkan cursor laptopnya. Dan ketika matanya terbentur pada sosok yang dia kenal. Foto bersama sang kapten, dia menghentikan sesaat aktivitasnya.

"Soepomo Hardiningrat!" Arbia menggumamkan nama itu begitu jelas. Sosok laki-laki yang sudah berumur itu berpose sumringah memeluk putra semata wayangnya, Narendra Axelle.

Nafas Arbia tersengal. Seakan tidak percaya. Bergegas menuju lemari brankasnya. Mencari sesuatu yang teramat  penting. Ketika tangannya menemukan benda itu, Arbia membandingkan dengan gambar yang ada di layar laptopnya. Foto itu benar adanya. Sang ayah dari super hero yang menolongnya seminggu yang lalu. 

"Manusia terkutuk!" Makinya tajam. Lembar demi lembar surat kabar itu dibacanya. Jelas, ditahun itu ayahnya mencoba mengungkap kasus korupsi sebagian pejabat tinggi  yang melibatkan sekelompok geng mafia. Jelas tertulis disitu nama "Soepomo Hardiningrat" dicatut sebagai salah satu pejabat yang terlibat.

Saat itu ayah Arbia berusaha mengungkap satu persatu koruptor itu. Bahkan liputan-liputanya mengenai Soepomo Hardiningrat sempat menjadi trending topik. Ketika hampir terungkap boroknya di depan masyarakat, ayahnya sudah tewas terbunuh. Bahkan ibunya ikut menjadi korban. Dan jelas di surat wasiat itu, ayah Arbia menyebutkan nama Soepomo Hardiningrat. Harus dihukum seadil-adilnya.

Mata Arbia menukik tajam. Menatap gambar dua manusia yang sedang bahagia itu. Ada sebersit kebencian menyeruak masuk di relung hatinya.

"Narendra Axelle! Ternyata kamu datang sendiri sebelum aku mencarimu!" Gemeletuk gigi Arbia menahan amarah. Diremasnya surat kabar yang ada di tangannya. Rasanya sudah tidak sabar dia menunggu pagi. 

Masih dengan kemarahan memuncak. Arbia mengotak atik laptopnya. Mencari nomor penting yang dicantumkan. Tidak mungkin seorang kapten Axelle tidak terdetek nomor ponselnya. Secara, beberapa tahun belakangan ini namanya mencuat ke ranah nusantara bahkan go internasional, atas prestasinya yang gemilang dalam kariernya.

******

Tidak terlalu sulit bagi Arbia Siquilla mencari alamat sang kapten. Dengan gaya khas tomboinya, dia memasuki gecung kepolisian itu. Sebelum masuk bertemu dengan si empunya nama, dia harus mengurus beberapa prosedur.

"Mbak Arbi tunggu disini, ya! Saya akan panggilkan kapten Axelle." Loy, recepsionist yang energik itu bergegas menuju ruangan sang kapten.

Arbia menyapukan pandangannya ke sekeliling gedung. Hatinya berdecak kagum, melihat gedung yang berdiri tinggi menjulang itu kelihatan megah sekali.

"Sungguh tak diragukan lagi kemampuanmu menjadi repoter! Tanpa aku kasih alamatku pun kamu sudah datang mencariku." Suara orang itu tegas. Arbia membalikkan badan. Menghadap ke arah lawan bicaranya.Mengamati betapa elegannya  pria ini dengan seragam kebesarannya. Gagah, tampan, dan menghanyutkan.

"Akhh...!" Segera ditepisnya pikirannya yang ngaco."Aku ada perlu sama kamu! Bisa ikut aku sebentar?" Mimik mukanya terlihat serius. Kapten Axelle sedikit mengerutkan dahi. Beberapa hari yang lalu tepatnya satu minggu sebelumnya, kondisi gadis di depannya  ini sangat lembut dan sopan. Tapi sekarang kenapa bisa sekasar ini? Dengan gelengan kepala kapten Axelle menatap Arbia.

"Ini masih jam kerja Nona! Aku yakin kamu datang ke sini bukan urusan pekerjaan, karena seingat Aku, kamu masih cuti." jelasnya.

"Aku hanya butuh 5 menit berbicara denganmu! Aku tunggu di taman sebelah!" tandas Arbia kasar dan segera berlalu. Kapten Axelle semakin mengerutkan dahi. Ada yang sudah terjadi dengan gadis itu.

Di taman sebelah gedung tempat kapten Axelle bekerja, gadis itu mondar-mandir tidak sabar. Sesekali dilihatnya jalan setapak yang menghubungkan gedung kepolisian dengan taman.

"Belum datang juga, dia," gumamnya tidak sabar. Ada gemuruh di dadanya yang ingin segera ia lampiaskan.

"Sebenarnya, ada masalah serius apa, sampai kamu datang jauh-jauh ke sini mencariku?" Mendengar suara itu secepat kilat Arbia melempar kertas yang sudah sedari tadi digenggamnya.

"Prak-k!"

Dengan gerakan reflek kapten Axelle menangkap surat kabar yang sudah usang itu.

"Baca baik-baik Kapten!" dengus Arbia dengan api kemarahan.Kapten Axelle terkejut melihat reaksi gadis ini. Belum reda dia dari kebingungan, matanya melotot terpana. Bait demi bait dibacanya koran era 2000-an itu. Di sana! Terpampang jelas foto ayahnya yang tengah diselidiki karena kepemilikanya senjata tajam dan kasus korupsi. Diliput oleh reporter terkenal di eranya Raja Pandawa, sang ayah dari Arbia Siquilla.

Tercekat hati Axelle. Belum sempat dia menelan salivanya, Arbia sudah melempar selembar kertas. Kertas wasiat. Kapten Axelle menatap Arbia sesaat sebelum dia membuka lembar kertas itu. Masih dengan gambar yang sama tertuliskan caption, hukum Soepomo Hardiningrat seadil-adilnya.

"Sudah jelaskan, kenapa aku mencarimu! Karena ayahmu membunuh kedua orang tuaku!" bergetar suara Arbia menahan sesuatu yang bergemuruh di dadanya.

Kapten Axelle lagi-lagi tercekat."Jadi ini anak yang menjadi korban pembunuhan berantai 15 tahun yang lalu?" Hati Axelle bergumam.

"Kamu tidak mungkin tidak tahukan, kasus ayah kamu dan juga ayahku? Media sosial manapun itu mengulasnya! Berita itu jadi topik utama waktu itu!" Masih dengan suara berapi-api, Arbia melanjutkan kalimatnya.

"Tapi 15 tahun sudah berlalu, hukum manapun belum bisa membuktikan kalau ayahku lah yang melakukan tindak kejahatan itu, Nona! Sampai detik ini belum ada bukti satupun kalau ayahku yang merencanakan pembunuhan berantai itu!" Dengan pembelaan yang ia ucapkan, menambah kemarahan di dada Arbia. Gadis tomboy itu semakin beringas.

"Dasar licik!" Kamu sekarang seperti cuci tangan dengan perbuatam ayahmu. Pencintraan dengan menjadi abdi negara, hah ...!"

"Nona! Jangan bawa-bawa pekerjaan Saya! Itu pilihan Saya! Tidak ada hubungannya dengan masa lalu orang tua kita! Kalau toh ayah Saya memang benar terbukti bersalah, dia pasti sudah dihukum yang seberat-betatnya. Kenyataanya 15 tahun sudah dari kejadian itu, tidak ada satupun bukti bahwa ayahku bersalah melakukan pembunuhan berantai itu!." Bertubi-tubi Axelle melanjutkan kalimat demi kalimatnya.

"Saat itu banyak kasus yang ditangani ayah kamu, tidak menutup kemungkinan salah satu dari merekalah yang bertindak keji itu,Nona,!"

Mata Arbia membulat mendengar kelanjutan kalimat Axelle.

"Jadi, kamu mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi kesalahan ayah kamu -!" Dengan histeris Arbia teriak. Dipukul-pukulnya dada sang kapten untuk melampiaskan segala emosinya. Air matanya sudah tidak bisa dibendungnya lagi.

Kapten Axelle sedikit terhenyak melihat reaksi gadis muda itu.  Didekapnya erat tubuh gadis itu. Arbia meronta-ronta di dalam dekapan sang kapten. Tangisnya berubah jadi isak. Pertahanannya bobol. Dia melemah di dalam pelukan Axelle.

Tubuh kecilnya terlalu ringkih menerima beban berat itu.Kapten Axelle mengelus rambut Arbia dengan lembut. Mencoba menenangkan gadis itu.

Ada perasaan yang berbeda ketika dia memeluk gadis ini. Rasa ingin melindunginya dan menjaganya terlalu kuat. Ada rasa semacam iba dan tidak rela melihat gadis ini terluka. Entah perasaan itu muncul semenjak kapan.

BERSAMBUNG

Ai

Silahkan buat pembaca yang budiman

| Sukai

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status