LOGINAlea tak pernah menyangka bahwa orang yang paling ia percayai justru mengkhianatinya. Kekasih dan sahabatnya—dua orang terdekat dalam hidupnya—ternyata telah lama menjalin hubungan di belakangnya. Malam itu, hatinya hancur saat mendapati mereka di ranjang yang sama. Dalam keputusasaan, Alea melarikan diri ke klub malam dan tanpa berpikir panjang, ia menyewa seorang gigolo. Namun, yang tak ia duga, pria yang menemaninya malam itu bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Juno William—bosnya di tempat kerja. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Juno ternyata adalah paman dari mantan kekasih yang sudah mengkhianatinya. Pria paling berkuasa dan ternyata posesif pada pasangannya, karena ini pertama kalinya dia jatuh cinta! Mampukah Alea melepaskan diri dari jeratan cinta Juno? Ataukah Alea akan jatuh cinta juga padanya?
View MoreI answered Mom's phone with trembling fingers as footsteps pounded down the hall. "Dad, something's really wrong with Mom."
"Thank God! I've been worried sick. There was a horrible accident on the interstate. It took forever to get around it, but I should be home in ten. Why haven't you or your sister been answering your phones and where is your mother? I've been trying to get a hold of her. Wait, this is her phone. Why are you answering her phone? Where's your phone? You better not have lost it again." Dad hadn't listened to a word I said.I tuned him out as he rambled on like Mom wasn't sick and unconscious.A shadow crept over the bed, suffocating Mom's frail form. I glanced up. Suzie inched into the room with her hands covering her mouth and squeezing her nose. We had to do something. Mom's brain could be boiling right this very minute. She could die."Call 911," I instructed my sister."What?" Dad asked from far away.I stared wide-eyed at Suzie as I waited for her to follow my orders, but she just held her hands securely over her nose and mouth, staring at Mom."What happened?" Dad asked."Suzie!" I screamed.As if I'd slapped her, my sister jolted back to life and finally looked at me."Mom is boiling hot and I can't wake her up," I spoke slow. "Call 911. Now."Suzie nodded with tears in her eyes. She removed one hand from her face and pulled out her phone."Oh my God! I should've come home earlier. Damn it! I knew something was wrong with her this morning, but she said it was only the flu and..." Dad kept talking, but his voice faded out.My heart raced as I waited for Suzie to get through to 911."It's busy." Suzie shook her head. "Why's it busy, Case? I thought 911 always answered.""Give it to me." I reached for her phone and handed Dad over to her. Both of us were shaking."Dad? I'm so so sorry. I should've answered when you called." Suzie's voice trembled as she backed out of the room.I dialed 911. "If you would like to make a call, please hang up and try your call again."Ending the call, I glanced at the phone to make sure I dialed the right three numbers. I did. What the hell?I re-dialed manually. Busy signal this time. What the hell was going on?I called back two dozen times and still wasn't able to get through."What good is 911 if we can't get through?" I screamed at the busy signal.Suzie walked back into the room and handed Mom's phone to me. "Dad will be here soon."I let out an angry breath and flicked on the bedroom light.We both gasped.Mom looked like someone had used her face as a punching bag. Her entire face was swollen and covered in nasty bruises.A greenish-yellow substance clung to the edges of her mouth and her eyelids, gluing them shut. What kind of sickness was this? She was completely unrecognizable.Dad would help us get her to the hospital when he got here, but we needed to do something for Mom now."We have to wait for Dad," I said. "Go start Mom a cold bath. We need to cool her down."Suzie nodded and ran into the bathroom.Bending down to Mom's face, I listened for any breathing, but couldn't hear anything. I held my fingers under her nose.Relief ran through me when a hot stream of air escaped her nostrils, but it was barely there just like her pulse. I stood at the sound of the bathroom faucet."Su, I need help getting Mom to the tub." I yanked the bedding down and my stomach flipped inside out at the gut-wrenching sight.I doubled over and threw up all over Mom and Dad's floor.Setelah resepsi yang sederhana namun indah itu, Martin benar-benar menjalankan janjinya, membuktikan pada Ghea. Bahwa ia meratukan Ghea—dalam arti sebenar-benarnya.Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Martin selalu menyiapkan sarapan untuk Ghea. Kadang, ia bangun lebih pagi hanya untuk membuatkan teh hangat, menyiapkan baju, atau sekadar mengecup kening istrinya sambil berbisik, “Ratuku, hari ini kamu nggak boleh capek, ya.”Ghea awalnya sering merasa tak enak, bahkan canggung. Tapi seiring waktu, perhatian Martin menjadi sesuatu yang ia syukuri setiap hari. Ghea yang dulu terbiasa menyendiri dan mandiri, kini terbiasa dimanja.Saat Ghea mengalami migrain akibat kecapekan mengurus galeri seni barunya, Martin tak marah sedikit pun. Ia langsung mengambil alih semua pekerjaan rumah, memijat kepala Ghea, membelikan makanan favoritnya, bahkan membacakan buku untuk menenangkan hati istrinya.“Kak Martin…” gumam Ghea suatu malam, sambil menyandarkan kepala di dada suaminya, “Aku nggak pern
"Daddy. Cepet bangun dong! Aku nggak mau kita sampai telat ke nikahannya Ghea sama Martin," ujar Alea pada suaminya yang masih rebahan di atas ranjang, bergelut di dalam selimut.Sedangkan Alea, saat ini sedang memoles wajahnya di depan cermin. Ia ingin melihat pernikahan Ghea dan Martin. Ya, hari ini mereka berdua akan menikah. Setelah cukup lama berkabung atas kepergian Arkan, mantan kekasihnya, Ghea akhirnya mau menerima Martin kembali. Membuka hatinya untuk Martin yang mau berusaha mendapatkan hatinya.Nyatanya, usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Ghea bisa menerimanya kembali, setelah 3 tahun menyendiri. Martin juga bisa membuktikan kepada Ghea, kalau ia pantas mendapatkan maaf dan cinta dari wanita itu. Bahwa ia memang sudah berubah dan hari ini adalah waktunya, Ghea dan Martin akan menikah."Daddy, kalau kamu tidak mau bangun. Aku mau pergi sama cowok lain aja!" seru Alea mengancam suaminya yang masih diam saja dan tak merespon ucapannya. Bibirnya memonyong ke depan, menunjukk
Ghea menggeleng cepat. “Jangan, Mas… jangan bilang hal-hal kayak gitu. Aku gak butuh siapa-siapa selain kamu. Aku cinta kamu…”Arkan menarik napas pelan, tubuhnya gemetar menahan sakit luar biasa. Namun bibirnya tetap memaksakan senyum. “Tapi kamu butuh seseorang yang bisa nemenin kamu sampai tua. Yang bisa berjalan di sebelah kamu, bukan yang hanya bisa tinggal di hati kamu.”Martin berdiri terpaku, tubuhnya kaku di ambang pintu. Ia mendengar setiap kata Arkan. Hatinya bergetar, tapi dia belum mengerti arah pembicaraan itu sampai akhirnya Arkan memanggil namanya.“Martin… ke sini…”Martin melangkah perlahan, seperti dibawa angin. Ia tidak bisa berkata apa pun. Luka Arkan terlalu mengerikan, namun senyumnya terlalu damai untuk ukuran orang yang sedang sekarat.“Aku tahu kamu masih sayang Ghea. Meskipun kamu pernah salah… Tapi kamu pria yang kuat. Aku titip Ghea ke kamu…”Martin membelalak mendengar ucapan Arkan yang begitu lirih d an memohon itu seakan kata-katanya adalah yang terakhi
Maya menangis tersedu-sedu, hingga membuat Alea dan Ghea bingung. "Ma, ada apa? Mas Arkan kenapa?" tanya Ghea khawatir. Dadanya tiba-tiba panas, saat bibir Maya yang terisak itu menyebut nama Arkan."Arkan ...mobil yang membawa Arkan,saat dalam perjalanan ke sini ...mengalami kecelakaan."Ghea tersentak kaget, ia berdiri dari tempat duduknya. Dadanya sesak, matanya berkaca-kaca, hatinya tidak percaya dengan semua ini. Kepalanya menggeleng-geleng berulang kali.Alea juga terkejut mendengar kabar tidak menyenangkan itu. Namun, ia tidak berkomentar selain wajahnya yang memperlihatkan rasa prihatin."Nggak. Mama pasti bohong. Belum lama Mas Arkan bilang, dia bakal datang. Dia akan datang!" seru Ghea dengan tangan gemetar."Ghea, tenangkan diri kamu, ya?" Akhirnya Alea bicara. Bermaksud menenangkan Ghea.Akan tetapi, Ghea melangkah pergi dari ruang rias. Ia berlari dengan memakai gaun pengantinnya dan melihat beberapa tamu undangan yang sudah hadir di sana. Bahkan pria yang akan menikahkan
Hari pernikahan Ghea dan Arkan pun tiba. Ghea tampak cantik mengenakan gaun putih ala sabrina dengan mahkota kecil menghiasi rambutnya yang disanggul. Ia sangat cantik, berbeda dengan pernikahan pertamanya yang tidak sebahagia ini. Pernikahan karena kecelakaan.Saat ia sedang bercermin, ia malah te
Martin baru saja turun dari mobilnya saat pandangannya menangkap sosok yang sangat ia kenal. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan. Di depan pintu utama kantor tempatnya bekerja, seorang pria memeluk dan mencium bibir Ghea. Wanita yang dulu pernah ia cintai mati-matian. Wanita yang pernah mengandung
Di tempat lain, James dan Maira sedang berada di sebuah kamar hotel termahal yang dilengkapi dengan fasilitas bulan madu, alias untuk pengantin baru. Kemarin, James tidak bisa mereguk manisnya madu malam pertama bersama istrinya, karena Maira sedang datang bulan.Namun, malam ini ia melihat istriny
Alea menatap James dan Maira bergantian. Ekspresi wajahnya penuh rasa penasaran. Ia memiringkan kepala sedikit, mencoba menebak kabar baik apa yang dimaksud omnya itu."Kabar baik apa, Om?" tanyanya pelan.Maira tersenyum, lalu menggenggam tangan James sejenak sebelum menjawab, “Kami sudah menentuk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore