LOGINAlea tak pernah menyangka bahwa orang yang paling ia percayai justru mengkhianatinya. Kekasih dan sahabatnya—dua orang terdekat dalam hidupnya—ternyata telah lama menjalin hubungan di belakangnya. Malam itu, hatinya hancur saat mendapati mereka di ranjang yang sama. Dalam keputusasaan, Alea melarikan diri ke klub malam dan tanpa berpikir panjang, ia menyewa seorang gigolo. Namun, yang tak ia duga, pria yang menemaninya malam itu bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Juno William—bosnya di tempat kerja. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Juno ternyata adalah paman dari mantan kekasih yang sudah mengkhianatinya. Pria paling berkuasa dan ternyata posesif pada pasangannya, karena ini pertama kalinya dia jatuh cinta! Mampukah Alea melepaskan diri dari jeratan cinta Juno? Ataukah Alea akan jatuh cinta juga padanya?
View MoreSeharusnya, malam itu menjadi salah satu malam paling bahagia dalam hidupnya. Deana Sazmeen dan Alan, tunangannya.
Sedang menuju butik tempat mereka akan melakukan fitting baju pernikahan. Semua terasa begitu sempurna.
Namun, hanya dalam hitungan detik, segalanya hancur.
Malam itu hujan turun dengan deras. Petir menyambar, menggema di antara gedung-gedung tinggi, namun tak ada yang lebih memekakkan telinganya selain suara tembakan yang merenggut nyawa pria yang dicintainya.
“ALAN!” teriak Deana, suaranya pecah.
Alan terhuyung, tangannya yang tadi hendak membuka pintu mobil kini terangkat lemah ke dadanya, berusaha menghentikan darah yang terus mengalir. Wajahnya yang tampan mulai kehilangan warna. Dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk ke trotoar, tepat di samping mobil.
Deana bergegas keluar dari mobil. Ia jatuh berlutut di samping Alan, tangannya gemetar saat menyentuh wajah pria itu.
“Alan, bertahanlah! Tolong, bertahanlah!"
Suaranya pecah dalam keputusasaan, napasnya memburu. Degup jantungnya berdetak cepat, seakan dunia berhenti berputar.
Alan berusaha tersenyum, tapi yang keluar hanyalah batuk lemah. Darah merembes dari sudut bibirnya.
"Maaf ... aku tidak bisa menepati janjiku ..."
Mata Deana membelalak.
"Tidak! Jangan bicara begitu, ambulans akan datang! Kau akan baik-baik saja!"
“Deana ...” suara Alan nyaris tak terdengar, hanya bisikan pelan di tengah kekacauan yang terjadi. “Aku ... aku mencintaimu.”
Air mata Deana jatuh tanpa henti. Tangannya semakin erat menggenggam Alan, tetapi darah terus membanjiri trotoar.
Tatapan Alan perlahan meredup. Mata yang penuh kehidupan itu akhirnya tertutup. Dingin mulai merayapi tubuhnya, membuatnya lemas dalam pelukan Deana. Saat napas terakhirnya diembuskan, dunia Deana runtuh.
"Tidak Alan! TIDAK!"
Jeritan Deana bercampur dengan deru hujan yang mengguyur tubuhnya. Ia mengguncang tubuh Alan, berharap keajaiban terjadi. Tapi pria itu tetap diam, tetap tak bergerak.
Sirene memecah keheningan malam. Lampu merah dan biru berkedip-kedip di balik kabut hujan. Orang-orang berkerumun, berbisik pelan, beberapa menghindari pandangan, tak sanggup menyaksikan tragedi itu.
"Nona, Anda harus ikut kami!" Seorang paramedis mencoba menariknya.
"TIDAK! Aku tidak akan meninggalkannya!"
Deana memberontak, tangannya masih erat memeluk tubuh Alan yang mulai dingin.
"Dia butuh pertolongan!"
Seorang pria berbadan tegap dengan jas hitam datang mendekat, menyentuh bahunya.
"Nona, Anda harus pergi sekarang. Ini berbahaya."
Deana mendongak dengan tatapan nanar. Air mata dan hujan bercampur di wajahnya. Deana ingin berteriak, ingin melawan, tapi kepalanya mendadak terasa ringan.
Pandangannya berputar, tubuhnya melemas. Samar-samar, ia merasakan seseorang menangkapnya sebelum semuanya menjadi gelap.
Tidak ada yang menyadari bahwa dalam kegelapan malam, sepasang mata mengawasinya.
Malam itu, Deana kehilangan Alan—dan juga kehilangan sebagian dari dirinya.
*
Hari-hari berlalu dengan menyiksa. Rumah sakit, pemakaman, dan ruangan kosong yang kini terasa begitu sunyi tanpa suara Alan.
Deana kehilangan arah, tenggelam dalam jurang duka yang tak berujung. Foto-foto mereka bersama menjadi saksi bisu betapa bahagianya ia dulu.
Kini, semuanya hanyalah kenangan pahit yang terus menghantuinya.
“Aku akan menemukan mereka yang melakukan ini, Al. Aku akan membuat mereka membayar…” bisiknya di depan pusara Alan, air matanya jatuh membasahi tanah yang masih basah.
Namun, bagaimana? Ia hanya seorang wanita biasa, tak tahu apa-apa tentang dunia gelap yang merenggut nyawa tunangannya.
Seakan doanya langsung didengar, seseorang datang ke pemakaman Alan, menawarkan jalan untuk membalaskan dendam Deana.
Deana menatap pria di hadapannya dengan waspada. William—seorang detektif dengan sorot mata tajam dan rahasia yang tersimpan rapi dalam senyumannya.
“Kau ingin balas dendam?” tanyanya tanpa basa-basi. “Aku bisa membantumu.”
Deana mengepalkan tangan.
“Siapa yang melakukannya?”
“Bastian Alexanders.”
Nama itu diucapkan dengan penuh kehati-hatian, seolah menyebut iblis itu saja sudah cukup untuk membangkitkan malapetaka.
Deana mengulanginya dalam hati. Bastian Alexanders.
Orang yang telah menghancurkan hidupnya.
“Apa yang harus kulakukan?”
William menyeringai tipis.
“Kau harus masuk ke dunianya.”
Saat itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan Alan, Deana merasakan sesuatu yang lain selain kesedihan.
Kemarahannya menyala. Dan itu akan menjadi senjatanya.
*
Malam itu, angin dingin merayapi kulit Deana saat ia berdiri di depan jendela sebuah kamar hotel. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Alan, tunangannya yang meregang nyawa tepat di hadapannya, tanpa daya, tanpa perlawanan.
Setiap detik yang berlalu sejak tragedi itu terasa seperti belati yang menancap di dadanya, semakin dalam, semakin menyiksa.
"Kau sudah memikirkan tawaranku?" suara William terdengar pelan namun tajam.
Deana menoleh, menatap pria itu dengan mata yang berkilat penuh tekad.
"Bastian Alexanders... aku akan menghancurkannya."
Setelah resepsi yang sederhana namun indah itu, Martin benar-benar menjalankan janjinya, membuktikan pada Ghea. Bahwa ia meratukan Ghea—dalam arti sebenar-benarnya.Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Martin selalu menyiapkan sarapan untuk Ghea. Kadang, ia bangun lebih pagi hanya untuk membuatkan teh hangat, menyiapkan baju, atau sekadar mengecup kening istrinya sambil berbisik, “Ratuku, hari ini kamu nggak boleh capek, ya.”Ghea awalnya sering merasa tak enak, bahkan canggung. Tapi seiring waktu, perhatian Martin menjadi sesuatu yang ia syukuri setiap hari. Ghea yang dulu terbiasa menyendiri dan mandiri, kini terbiasa dimanja.Saat Ghea mengalami migrain akibat kecapekan mengurus galeri seni barunya, Martin tak marah sedikit pun. Ia langsung mengambil alih semua pekerjaan rumah, memijat kepala Ghea, membelikan makanan favoritnya, bahkan membacakan buku untuk menenangkan hati istrinya.“Kak Martin…” gumam Ghea suatu malam, sambil menyandarkan kepala di dada suaminya, “Aku nggak pern
"Daddy. Cepet bangun dong! Aku nggak mau kita sampai telat ke nikahannya Ghea sama Martin," ujar Alea pada suaminya yang masih rebahan di atas ranjang, bergelut di dalam selimut.Sedangkan Alea, saat ini sedang memoles wajahnya di depan cermin. Ia ingin melihat pernikahan Ghea dan Martin. Ya, hari ini mereka berdua akan menikah. Setelah cukup lama berkabung atas kepergian Arkan, mantan kekasihnya, Ghea akhirnya mau menerima Martin kembali. Membuka hatinya untuk Martin yang mau berusaha mendapatkan hatinya.Nyatanya, usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Ghea bisa menerimanya kembali, setelah 3 tahun menyendiri. Martin juga bisa membuktikan kepada Ghea, kalau ia pantas mendapatkan maaf dan cinta dari wanita itu. Bahwa ia memang sudah berubah dan hari ini adalah waktunya, Ghea dan Martin akan menikah."Daddy, kalau kamu tidak mau bangun. Aku mau pergi sama cowok lain aja!" seru Alea mengancam suaminya yang masih diam saja dan tak merespon ucapannya. Bibirnya memonyong ke depan, menunjukk
Ghea menggeleng cepat. “Jangan, Mas… jangan bilang hal-hal kayak gitu. Aku gak butuh siapa-siapa selain kamu. Aku cinta kamu…”Arkan menarik napas pelan, tubuhnya gemetar menahan sakit luar biasa. Namun bibirnya tetap memaksakan senyum. “Tapi kamu butuh seseorang yang bisa nemenin kamu sampai tua. Yang bisa berjalan di sebelah kamu, bukan yang hanya bisa tinggal di hati kamu.”Martin berdiri terpaku, tubuhnya kaku di ambang pintu. Ia mendengar setiap kata Arkan. Hatinya bergetar, tapi dia belum mengerti arah pembicaraan itu sampai akhirnya Arkan memanggil namanya.“Martin… ke sini…”Martin melangkah perlahan, seperti dibawa angin. Ia tidak bisa berkata apa pun. Luka Arkan terlalu mengerikan, namun senyumnya terlalu damai untuk ukuran orang yang sedang sekarat.“Aku tahu kamu masih sayang Ghea. Meskipun kamu pernah salah… Tapi kamu pria yang kuat. Aku titip Ghea ke kamu…”Martin membelalak mendengar ucapan Arkan yang begitu lirih d an memohon itu seakan kata-katanya adalah yang terakhi
Maya menangis tersedu-sedu, hingga membuat Alea dan Ghea bingung. "Ma, ada apa? Mas Arkan kenapa?" tanya Ghea khawatir. Dadanya tiba-tiba panas, saat bibir Maya yang terisak itu menyebut nama Arkan."Arkan ...mobil yang membawa Arkan,saat dalam perjalanan ke sini ...mengalami kecelakaan."Ghea tersentak kaget, ia berdiri dari tempat duduknya. Dadanya sesak, matanya berkaca-kaca, hatinya tidak percaya dengan semua ini. Kepalanya menggeleng-geleng berulang kali.Alea juga terkejut mendengar kabar tidak menyenangkan itu. Namun, ia tidak berkomentar selain wajahnya yang memperlihatkan rasa prihatin."Nggak. Mama pasti bohong. Belum lama Mas Arkan bilang, dia bakal datang. Dia akan datang!" seru Ghea dengan tangan gemetar."Ghea, tenangkan diri kamu, ya?" Akhirnya Alea bicara. Bermaksud menenangkan Ghea.Akan tetapi, Ghea melangkah pergi dari ruang rias. Ia berlari dengan memakai gaun pengantinnya dan melihat beberapa tamu undangan yang sudah hadir di sana. Bahkan pria yang akan menikahkan
Tanpa berkata apa-apa, Juno langsung merebahkan tubuhnya perlahan ke sisi ranjang, memeluk Alea dengan hati-hati. Ia takut menambah rasa tidak nyaman pada tubuh istrinya yang masih demam, tapi juga tak sanggup menolak permintaan itu.Mereka berpelukan dalam keheningan pagi, dalam diam yang penuh ra
Ghea membeku di tempat. Kata-kata Martin barusan menamparnya pelan tapi telak. “Orang yang aku cintai”? Ia hampir tak percaya mendengar itu keluar dari mulut Martin. Setelah semua luka, setelah perceraian, setelah ia mencoba mati-matian melupakan dan merajut kisah baru bersama Arkan. Pria itu masih
“Cukup!”Sebuah suara berat dan penuh wibawa membuat semua mata di food court itu sontak menoleh. Termasuk Ghea, yang terkejut melihat siapa pemilik suara itu.Martin.Mantan suaminya berdiri tak jauh dari meja tempat Ghea duduk. Matanya tajam mengarah ke Lula, ekspresi wajahnya datar tapi menyimpa
Acara jalan-jalan ke resort terpaksa harus dibatalkan, karena Juno memilki masalah di kantornya. Alea mencoba mengerti masalah suaminya dan ia berdoa agar suaminya cepat menyelesaikan masalah itu.Kedua ibu muda saat ini tengah bersama ditempat baby spa, mereka membawa baby mereka untuk jalan-jalan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore