Still The Same

Still The Same

Oleh:  ayuniarani  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
17Bab
1.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Hana bertemu kembali dengan teman masa kecilnya namun disituasi yang berbeda. Seiring kebersamaan yang telah dilaluinya bersama Gibran, Hana jatuh cinta. Namun disisi lain, Gibran memilih pergi dengan yang lain.Bagaimanakah kisah cinta Hana dan Gibran? Apakah terus berlanjut atau memang telah usai?

Lihat lebih banyak
Still The Same Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
17 Bab
1. Perpisahan
Anak laki-laki yang berusia sekitar 9 tahun itu sesekali menatap keluar jendela mobil yang di tumpanginya. Senyum selalu mengembang dibibirnya. Sudah empat hari ia tidak bertemu Ayi temannya—tetangganya. Ia harus ikut orang tuanya untuk pergi ke kampung halaman mereka di Makassar. "Baru juga empat hari nggak ketemu Ayi, udah kangen aja." Rossa menatap anak laki-lakinya dengan gemas.Anak laki-laki itu hanya menatap mamanya dengan tersenyum. Di bangku pengemudi Umar-Ayah anak laki-laki itu menimpali. "Sudahlah Ma, berhenti menggoda anakmu itu.""Iya nih Mbak. Liat tuh Abinya jadi malu-malu gitu." kini Reza yang duduk di samping Umar saudara dari Rossa yang menyahut.Rossa hanya tersenyum geli mendengar ucapan adiknya itu."Ma." Abi kini menatap mamanya."Iya sayang." Rossa membalas tatapan anak laki-lakinya."Kadonya masih mama simpankan?
Baca selengkapnya
2. Kehidupan Baru
8 tahun kemudian, Jakarta."Hana tungguin." Syafa berlari sambil memegang ranselnya.Hana yang mendengar namanya dipanggil langsung berhenti dan berbalik untuk melihat sahabatnya Syafa yang sedang lari terburu-buru. Akhirnya dengan nafas yang sedikit tidak teratur akibat berlari Syafa bisa sampai di dekat Hana."Sialan lo. Lo budek apa gimana sih. Dari tadi di panggilin Lo nya nggak respon." Syafa menarik nafas dan menghembuskannya."Sori loh Fa. Gue bener-bener nggak denger tadi." Hana mengacungkan 2 jari tanda peace lalu tersenyum lebar. Ia sama sekali tidak mengetahui jika sedari tadi Syafa sudah memanggil namanya.Syafa kemudian memutar bola matanya jengah. "Udah yok ke mading. Mau liat, Gue di mutasi ke mana." Syafa menggandeng tangan Hana untuk berjalan ke arah mading."Ckk. Gaya lo mutasi segala. Yang ada juga lo mah imitasi." Hana tertawa dengan ucapannya sendiri.
Baca selengkapnya
3. Musuh Syafa
Mereka bertiga masuk ke dalam kelas yang saat ini telah resmi menjadi kelas di tahun terakhir mereka di jenjang SMA.Mereka menatap ke sekeliling kelas bermaksud untuk mencari bangku yang kosong. Rata-rata bangku depan telah diisi oleh siswa-siswi lainnya."Na, kita duduk di sana aja. Bangku depan udah pada penuh." Syafa menunjuk dua bangku yang terletak di barisan ke dua dari depan dan berada persis di samping tembok."Ya udah." Ucap Hana setuju, itu memang tempat strategis untuk memperhatikan pelajaran dengan baik yang tersisa. Hana dan Syafa mulai berjalan ke bangku yang dimaksud.Sean ikut berjalan mengikuti Hana dan Syafa. "Trus gue di mana?" Sean menunjuk dirinya sendiri.Syafa duduk di samping tembok, diikuti Hana yang duduk di sebelahnya. Setelah menyimpan tasnya di atas meja Syafa lalu menatap Sean. "Tuh di belakang kosong kunyuk." Tunjuknya kepada bangku kosong di belakang mereka.Baca selengkapnya
4. Kegiatan Hana
Hari minggu. Hari yang sangat menyenangkan bagi setiap orang. Di mana kebanyakan orang akan lebih memilih bersantai di dalam kamar seharian sambil tiduran atau marathon movie maupun drama.Tapi menurut Hana, definisi menyenangkan di hari minggu bukanlah kegiatan seperti itu. Ia lebih suka mengerjakan banyak hal. Seperti pagi ini, ia menuruni tangga rumahnya dengan begitu riang sambil menyanyikan salah satu lagu milik Ed Sheeran."Suara lo jelek dek." Ucap Azka yang berada di ruang tengah tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari tv.Hana yang menginjak tangga terakhir pun langsung menghentikan nyanyiannnya dan mengerucutkan bibir. "Abang juga suaranya jelek." cibir Hana."Kita kan saudara." "Tau ah, terserah Abang." Hana langsung berjalan menuju dapur dengan menghentak-hentakkan kakinya. Sementara itu, Azka tertawa melihat kelakuan adiknya dan berdiri ikut menyusul
Baca selengkapnya
5. Sisi Lain Hana
Hana mengikuti langkah Sean dan langsung di sambut oleh Raina di depan pintu. Raina langsung memeluk kaki Hana melepaskan kerinduannya pada kakak angkatnya tersebut.Hana menjauhkan tubuh Raina dari kakinya dan merasakan jika tubuh gadis kecil itu bergetar. Kemudian Hana berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis manisnya. Hana membelalakkan mata mengetahui Raina sedang menangis. Di hapusnya jejak air mata yang mengalir di pipi chuby Raina."Raina kenapa nangis?" tanyanya langsung lalu merengkuh tubuh Raina ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa melihat adik kecilnya ini menangis."Rindu kak Ha... Hana." ucap Raina di sela tangisannya.Jika mempunyai waktu senggang Hana memang akan menyempatkan diri berkunjung ke Day Care. Namun satu minggu kemarin ia benar-benar tidak bisa karena Bundanya sedang sakit dan dirinya sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah.Hana mengenal Raina empat tahun yang la
Baca selengkapnya
6. Bad Day
Pagi ini Hana berjalan menyusuri koridor dengan riangnya. Di sapanya setiap siswa-siswi yang melewatinya. Ketika ada yang memanggil namanya ia pun berhenti dan berbalik. "Hana, tugas dari Bu Ratna udah gue teliti. Tinggal di serahin aja ke Bu Ratnanya. Nih, lo aja yang serahin yah soalnya gue ada tugas ngambil bagian di upacara." Gisel teman sekelas Hana menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah dijilid rapi."Baiklah, kalo gitu gue taruh tas dulu baru ke ruang guru yah." Hana baru saja akan melangkah namun kembali di hadang oleh Gisel."Elo ke ruang guru aja sekarang Na, soalnya nanti keburu upacara. Itukan harus di setor sebelum upacara." Anjur Gisel yang terlihat seperti sedang terburu-buru."Oh gitu yah? Oke gue ke ruang guru dulu deh. Bye." Hana melangkah meninggalkan Gisel menuju ke ruang guru. Sedangkan Gisel berlari menuju ke lapangan.Hana berjalan di koridor sekolah sembari menat
Baca selengkapnya
7. Takdir?
Kantin saat ini tengah ramai oleh siswa-siswi yang tengah menghabiskan jam istirahatnya untuk makan. Begitupun dengan Syafa yang sedang menikmati baksonya. Syafa memang sedang badmood akibat ulah Ashila tadi pagi. Namun jika sedang berurusan dengan makanan, Syafa akan melupakan segala kekesalannya.Lain halnya dengan Hana yang hanya menatap dan mengaduk baksonya tidak selera. Hari ini benar-benar hari yang buruk baginya. Hana merasa jika bangku di sebelahnya ada yang menduduki. Hana tau siapa orang itu, pasti Sean. Namun Hana masih lebih memilih untuk memandangi baksonya seakan-akan itu lebih menarik di banding keadaan sekitar."Kalian udah akrab aja. Kalian dari mana?" Itu suara Syafa. Tunggu, apa katanya tadi? Kalian? Hana langsung mendongakkan kepala dan yang benar saja, di seberang meja ada Syafa dan... Gibran? Sejak kapan dia ada disini."Gue tadi habis ngajakin Gibran keliling sekolah dulu." kini Sean me
Baca selengkapnya
8. Penjelasan
Suasana taman saat ini benar-benar sepi. Hanya ada dua sampai tiga orang yang berlalu lalang melewati taman. Kebanyakan siswa-siswi lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kantin atau sekedar mengikuti eskul kesukaan masing-masing. Suasana seperti ini pun membuat suasana canggung antara dua insan yang saat ini berdiri di bawah pohon yang rindang. Saling menatap, seakan tatapan itu mampu menyalurkan rasa rindu yang selama ini mereka pendam. Setelah beberapa tahun lamanya tidak bertemu. Bahkan sepatah katapun sedikit sulit keluar dari keduanya.Gibran ingin menjelaskan hal kepindahannya itu pada gadisnya saat sepulang sekolah nanti. Namun sedarinya ia dari kantin di lihatnya gadis kesayangannya yang sedang berjalan menuju arahnya. Gibran tau. Hanya dari tatapan, gadisnya itu butuh penjelasan. Hingga di sinilah mereka sekarang.Gadisnya masih tetap cantik, walaupun terakhir kali mereka bertemu sekitar tiga tahun yang lal
Baca selengkapnya
9. Mimpi Buruk
Hana kembali memperbaiki posisinya dan memilih untuk tidur di pangkuan Azka. Kaleng minuman yang di pegangnya tadi di letakkan di meja depan sofa. Di lihatnya ponsel yang bergetar di atas meja. Hana meraih ponselnya dan melihat pesan berturut-turut dari Syafa. Syafa AA : gilak😠😠 Syafa AA : gue nggak relaaaaaaaajddffjadjhkkd. Syafa AA : Sepupu gue kok makin dekat ama nek lampir. Syafa AA : Gue lebih ngerestuin lo ama Gibran😍 daripada ama tuh nek lampir😈 Hana memutar bola matanya jengah. Syafa sudah tau jika saat ini Hana dan Gibran sedang mengibarkan bendera perang, tapi masih sempat-sempatnya dia mau menjodohkan mereka. Me : HEHH!!! Apaan lo. Gue mah ogah ama sepupu lo.😠 Me : Najisin tau nggak!!!😬😬 Syafa AA : Elahhh. Kalo di sodorin lo juga mau kan? Secara gitu sepupu gue kece abis😎 Me : O
Baca selengkapnya
10. Bad Day 2
Hana tersentak terbangun dari tidurnya. Badannya gemetar dan terasa panas dingin. Ia ketakutan. Mimpi itu datang lagi untuk yang kesekian kalinya. Mimpi yang selalu menjadi bayang-bayang kegelapan dalam hidupnya.Azka merasa jika orang yang berada di sampingnya sedang bergerak gelisah. Ia pun terbangun dan mendapati Hana adiknya yang sedang duduk memeluk kedua lututnya. Keringat bercucuran keluar dari tubuhnya. Serta pandangannya kosong menatap kedepan. Azka khawatir melihat keadaan adiknya. Ia pun langsung memeluk Hana. Dirasakannya jika adiknya ini menangis. Jelas karena kaos yang dipakainya ini basah serta badan adiknya yang gemetar."Mimpi itu lagi?" Azka berucap pelan sembari mengusap lembut kepala Hana."Aku takut Abang." Hana berucap di sela tangisnya. Mimpi itu benar-benar menakutkan.Azka semakin mempererat pelukannya. "Ada Abang di sini."Lama mereka berpelukan, menunggu Hana untuk tetap t
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status