Contradiction

Contradiction

Oleh:  Nurul Haruna  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
44Bab
3.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Orang lain berkata. Hubungan mereka penuh kontradiksi. Benar-benar tidak pantas, untuk menjalin hubungan satu sama lain. Di setiap harinya, hanya ada pertengkaran. Namun, entah apa alasannya. Meskipun, sudah berkali-kali tersakiti akibat perkataan dan perlakuan kekasihnya yang kasar, ditambah lagi temperamen yang begitu buruk dan emosian, terus saja dilampiaskan padanya. Masih saja, bertahan.

Lihat lebih banyak
Contradiction Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
44 Bab
Prolog
Di mata semua orang, mereka berdua seperti bukan sepasang kekasih.Satu dari mereka, terus saja menjalin kedekatan dengan yang lain. Sedangkan satunya lagi—seharusnya berada di posisi si orang ketiga—memilih diam. Seakan telah terbiasa, dengan apa yang dilihatnya. Memilih diam, bukan berarti tidak terluka.Ada masa dirinya lelah, untuk meladeni sikap sang kekasih yang buruk sekali padanya. Sedangkan, dengan yang lain tidak. Seakan disengaja, untuk menyakitinya. Hingga, lelah yang teramat besar menguasainya. Bahkan, hampir memutuskan pergi dari sisi sang kekasih. Namun, selalu terhalang.Di luar, tepatnya depan banyak orang tidak mempedulikan dan tidak menganggap bahwa kita adalah sepasang kekasih. Saat benar-benar bersama, menjadi amat posesif padanya.Pasalnya, kala dirinya yang sudah sering tersakiti, meminta untuk dilepaskan. Sulit sekali, seakan telah terborgol dan kunci untuk melepaskannya sudah hilang entah ke mana. Pada akhirnya, hanya
Baca selengkapnya
1. Tak Terbantahkan
Kedua bola mata indahnya, entah sudah berapa menit terpaku pada sepasang remaja tanpa status yang jelas. Karena, harusnya yang di posisi perempuan di sana adalah dirinya. Kini, justru terbalik. Kekasih yang asli, dan memiliki status jelas dengan lelaki yang kini tengah bersama perempuan lain. Hanya bisa melirik sendu.Kekasihnya yang bernama Arsen, terlihat selalu bersama dengan Desty yang notabene-nya teman pertama kala dirinya memasuki tahun pertama SMA, tanpa sadar kini sudah memasuki tahun akhir. Entah kenapa, baginya begitu menyedihkan. Yang lain, akan memanfaatkan tahun akhir mereka di sekolah untuk mencari kenangan indah sebelum benar-benar berpisah.“Sepertinya, bagiku memang sulit untuk mendapatkannya ya?” Aruna melirik sejenak ke arah Arsen, benar-benar tidak mempedulikan kehadirannya.Aruna tidak mengerti, Arsen seakan menganggap dirinya tidak ada. Lantas, kenapa dirinya dijadikan kekasih? Kalau terus saja diabaikan, dan memilih meluangkan
Baca selengkapnya
2. Di Balik Diamnya
Aruna terbangun lebih dulu, ternyata sudah ada Bi Asti tengah sibuk membersihkan seisi rumah, sesekali menyempatkan diri untuk menyiapkan bahan makanan. Waktu masih menunjukan pukul lima pagi. Jadi, sebelum Arsen benar-benar bangun Aruna sudah harus membantu Bi Asti membuat sarapan dan setelahnya bersiap sekolah.“Tuan muda, masih kasar ya?” bisik Bi Asti.Aruna terpaku sejenak, tidak terkejut juga karena Bi Asti selalu melihat dirinya terlibat perseteruan dengan Arsen. Berakhir mengalah, dari pada emosi Arsen semaki meluap dan takut hal di luar akal kembali dilakukannya.“Ya, begitulah.” Aruna membalas dengan nada lirih. “Bi, terkadang aku berharap kalau Arsen tidak kasar dan emosian lagi.”Bi Asti tertegun mendengarnya, sengaja mengulurkan tangan untuk mengelus lembut kepala Aruna. “Berusaha, meski butuh waktu yang lama. Kalau memang Aruna lelah, tidak ada yang melarang untuk berhenti melakukannya.”Baca selengkapnya
3. Berusaha Untuk Bertahan
Arsen mendelik datar, sembari beranjak mendekati Aruna. Bahkan, langsung mencengkeram kasar pergelangan tangannya, kala melihat gelagat Aruna ingin melarikan diri. Benar-benar tidak peduli dengan ringisan, atau sadar kelakuannya membuat Aruna terluka lagi.Aruna berusaha melepas, yang ada semakin sakit karena Arsen sengaja memperkuat cengkeramannya. “Kau tidak mengatakan apapun, lagi pula aku punya hak mau pergi ke manapun!”“Diam dan jangan melawan!” sentak Arsen, langsung melepas cengkeramannya dengan kasar. Namun, sorot matanya yang begitu membius tetapi bagi Aruna sungguh mengerikan. “Bawa dan pulang!”Aruna mengusap kasar wajahnya, bulir air mata mulai membasahi pipinya. Beruntung, setelah Arsen pergi duluan. Kalau tidak, nanti malah dianggap yang tidak-tidak oleh Arsen. Semakin menjadi pelampiasan emosi.Setelah membawa tas Arsen, Aruna langsung mengejar dan berusaha menyamakan langkah kakinya. Tetapi diurungkan,
Baca selengkapnya
4. Obat Penenang Untuknya
Aruna masih menatap lekat Arsen begitu pulas tidurnya, lalu teralihkan pada jam dinding tidak terasa sudah menunjukan pukul lima. Dengan perlahan, melepaskan diri dari pelukan Arsen. Untung saja berhasil, tetapi ada sesuatu yang membuat Aruna kikuk.Baru saja menapakkan kakinya di luar kamar dan hendak menutup pintu, Bi Asti sudah ada di hadapannya. Mengingat selalu membangunkan Arsen setiap pagi, Aruna yakin Bi Asti kebingungan karena keberadaan Arsen lenyap. Nyatanya, pindah.“Se-Sejak kapan?” Bi Asti menyipitkan matanya. “Kalian tidak melakukan sesuatu ‘kan!” Walau mereka selalu berseteru—lebih lagi Arsen suka sekali berlaku kasar. Nyatanya, memang menjalin hubungan—alias—pacaran, bukan berarti bisa seenaknya tidur bersama.Aruna menggeleng cepat. “Aku tidak tau, kapan dia menyelinap masuk. Intinya, saat bangun sudah tidur di sampingku.” Baru Bi Asti saja, sudah menganggap yang tidak-tidak. Apa lagi
Baca selengkapnya
5. Cemburu Yang Tertahankan
Aruna berhasil menemukan keberadaan Arsen, ya di halaman belakang sekolah. Kini tengah duduk bersandar, sembari meremas kencang kepalanya sendiri—kalau diperhatikan sesekali menjambak kasar surainya.Mencoba mengikis jarak, berharap emosi Arsen sudah reda. Setidaknya, bisa membicarakan dengan baik agar Arsen mau menyelesaikan masalah. Menurutnya, terkesan sepele tetapi kenapa diperbesar. Lebih lagi, Arsen membalasnya begitu parah.Aruna membeku, kala Arsen meliriknya dengan sorot mata amat dingin. Ddetik itu juga tahu, emosi Arsen belum reda dan terakhir—tidak ingin diganggu. Seketika tersentak saat Arsen menarik paksa, hingga membuat Aruna mau tidak mau ikut terduduk. Jujur, pergelangan tangannya sedikit sakit, ya cengkeraman sekaligus tarikan Arsen kasar.“Selesaikan masalahmu.” Meskipun akan tetap dibantah, Aruna bersikeras mengingatkan Arsen lagi.Memang tidak teranggap, tidak dipedulikan, diperlakukan kasar, selalu dibuat saki
Baca selengkapnya
6. Hal Tidak Terduga
Arsen sudah berada di kamar Aruna, yang kini tengah tertidur pulas. Namun, ada yang aneh. Itu bagi beberapa orang yang mengenal Arsen sebagai kekasih Aruna—begitu kasar dan emosian. Tetapi sekarang, tidak memperlihatkan sisi kasar dan emosinya. Atau mungkin karena Aruna terlelap? Berhasil, membuat Arsen bisa menahan emosi—untuk sementara waktu. Sebenarnya, selama ini Arsen sadar, selalu berlaku kasar. Seakan tidak peduli. Sayangnya bila ingin berbicara baik secara langsung pada Aruna, selalu sulit baginya. Seperti orang lain anggap, hubungan mereka berdua penuh kontradiksi. Bila bersatu bukan keromantisan layaknya pasangan remaja umum, yang ada pertengkaran dimulai karena salah satu dari mereka emosian. Arsen mengeluarkan
Baca selengkapnya
7. Semakin Egois
Aruna mengelap keringat yang mengucur, membersihkan kamar yang tidak terpakai membuatnya lelah. Maklum, terkadang sering dijadikan gudang. Rumah sederhana meskipun memiliki tiga kamar, tetap saja begitu kecil. Aruna menoleh kala adik lelakinya—Arya mendekat.“Kenapa?” Aruna menggendong Arya, masih berusia empat tahun. Sesekali mengelus dan mengecup pipi gembulnya.Arya mengerutkan keningnya. “Kok kakak tidur di sini?”Aruna baru ingat, Arya seringkali pindah karena ingin tidur bersamanya. Yakin, kalau tadi pergi ke kamar dan bisa saja terkejut melihat Arsen di sana. Entah kenapa Aruna penasaran, reaksi Arsen kala Arya masuk tiba-tiba.Ah lupakan!Aruna mulai membaringkan diri dengan Arya, mulai terlelap dalam dekapannya. Sesekali melirik ke arah jam dinding, tidak menyangka sudah pukul sembilan malam. Teralih lagi pada Arya, menggeliat pelan dan semakin melesak pada dekapannya. Sudut bibir Aruna terangkat, tan
Baca selengkapnya
8. Luapan Emosi
Aruna kini termenung sendirian, Tania entah pergi ke mana setelah mendengar curhatannya—tentang kejadian tadi."Egois!" desis Aruna.Arsen bebas akrab atau mungkin, menjalin hubungan dengan perempuan lain. Sedangkan dirinya, hanya ingin mendapatkan teman akrab, memiliki hobi yang sama—Tidak boleh kah?Aruna tersentak, melihat Arsen ada di hadapannya. Beruntung, tidak melalukan hal kasar. Seperti menendang meja atau bangku, lebih parah menghancurkan benda lain—kaca jendela kelas."Menjauh!"Aruna mendengkus kesal. "Kau siapa? Berani menyuruhku untuk menjauhinya? Lagi pula, aku bebas berteman dengan siapapun. Kau saja, dekat dengan perempuan lain 'kan?"Terlihat jelas, wajah Arsen mulai memerah. Aruna yakin, emosi Arsen mulai meluap."Pacar ya? Sepertinya udah nggak cocok lagi, karena kau terus bersama Desty." Aru
Baca selengkapnya
9. Semakin Sulit Dimengerti
Tidak menyangka, keinginan yang selama ini didambakan Aruna terjadi. Meskipun harus melewati hal rumit, penuh emosi dan keegoisan. Yang selama ini didambakannya adalah bebas dari semua kekangan tak beralasan yang dilakukan Arsen terhadapnya.Mengekang, tetapi kalau di muka umum malah bersama perempuan lain. Ah iya, setelah pertengkaran terakhir kemarin. Memang Aruna berhasil melarikan diri dari Arsen dan—pulang ke rumah. Mendadak kembali muncul, tetapi dengan gelagat berbeda. Bahkan, sedikit aneh.“Benar-benar sulit dimengerti!” Aruna pusing memikirkan, tetapi ketika mencoba mengabaikan Arsen—tetap saja kepikiran lagi.Kemarin itu, Arsen berkunjung dadakan dan tidak mau pulang lagi. Namun, tidak banyak bicara atau melakukan hal kasar secara tersembunyi, mengingat tidak berdua—ada keluarga Aruna.Hampir, membuat Aruna bimbang untuk menarik perkataannya. Aruna sudah mengatakan putus, bukan berarti benar telah usai. Arsen belum
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status