Suami Dan Mertua Tak Tahu Aku Banyak Uang

Suami Dan Mertua Tak Tahu Aku Banyak Uang

Oleh:  Hafsa Humiara  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.7
Belum ada penilaian
73Bab
260.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Kisah Amira yang selalu dibandingkan dengan saudara iparnya Rista oleh mertuanya, tak hanya mertua suaminya pun kerap meremehkan dirinya. Siapa sangka Amira yang terlihat susah itu, ternyata diam-diam menghanyutkan. Dia tak sesusah yang mertuanya kira, diam-diam wanita itu berhasil membungkam mulut-mulut yang sering menghina dan meremehkannya

Lihat lebih banyak
Suami Dan Mertua Tak Tahu Aku Banyak Uang Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
73 Bab
Kejutan
SUAMI DAN MERTUA TAK TAHU AKU BANYAK UANG 1   "Lihat ini, Heri, enak banget hidup adikmu itu punya istri anak orang kaya, tinggal di rumah besar dan mewah, ga kaya kamu, apes! Malah nikah sama rakyat jelata, jadi hidupmu gini-gini aja ga ada kemajuan" celetuk ibu mertua sambil memandang layar ponsel. Aku yang sedang menghidangkan teh dan camilan di atas meja hanya bisa bersikap biasa saja, dihina dan dibandingkan dengan Rista yang tak lain istrinya Ardan adik iparku sudah jadi makanan sehari-hari. "Lihat tuh di rumahnya ada kolam renang, gede dan juga bersih, enak banget ya jadi Rista tiap hari bisa foya-foya ga kaya kita," celetuk ibu lagi masih memandang ponsel android-nya. Mas Heri menggeser posisi duduknya dekat ibu lalu dua pasang mata itu melihat layar ponsel bersamaan, memandang takju
Baca selengkapnya
Kejutan untuk ibu
2. SUAMI DAN MERTUA TAK TAHU AKU BANYAK UANG. Kejutan untuk ibu  Terdengar suara tetangga berbisik-bisik ria di belakang, hal seperti ini pasti akan jadi pembicaraan seluruh warga kampung, rasain kamu, Bu, pasti malu banget 'kan. "Hebat banget kamu, Amira, cuma jualan pentol sama seblak aja bisa beli motor," sahut Bu Nita. Ibu terlihat seperti kebakaran jenggot mendengar pujian itu, ia 'kan paling tak suka mendengar orang memujiku, lebih senang jika ada orang yang menghinaku maka ia pun akan ikutan menghina. "Lagian pentol dan seblaknya enak kok, saya langganan tiap hari pasti beli, ga heran lah kalau dagangannya laku semua," sahut Bu Zia, dia salah satu pelangganku yang sering beli tiap hari. Tak hanya jualan seblak dan pentol mercon saja
Baca selengkapnya
Motornya Buatku Saja
3. SUAMI DAN MERTUA TAK TAHU AKU BANYAK UANG  Motornya buatku saja! "Maksudnya apa kamu ngasih tespek ini, Ardan?"tanya ibu dengan sedikit penekanan. Ardan dan Rista saling memandang. "Itu hadiahnya, Bu. Rista lagi hamil," jawab Ardan dengan wajah bahagia. "Bukankah seorang cucu lebih berharga dari pada emas dan berlian," lanjut Ardan seperti ketakutan. Kulihat wajah ibu berubah datar, padahal tadi sangat merah menahan amarah. Aneh sekali mantu mau punya anak kok expresinya biasa aja. "Apa, kamu hamil, Ris? berapa bulan?" tanyaku antusias. Ibu terlihat mencebikkan mulut, kentara sekali jika ia tak suka dengan kabar gembira ini, wanita yang banyak gaya itu pasti mengh
Baca selengkapnya
Makin Ngeselin
4. SUAMI DAN MERTUA TAK TAHU AKU BANYAK UANG Mohon dukung cerbungku ya dengan cara klik SUBSCRIBE DAN RATE BINTANG LIMA sebelum membaca. Makin Ngeselin Aku masuk ke dalam dengan hati yang teramat jengkel, sudah sering dihina sekarang motor baruku mau dirampas pula, apa dua manusia itu tak punya hati. "Hei, Amira, aku belum selesai ngomong!" teriak Mas Heri. Tak dihiraukan gegas aku berlari ke kamar memanggil Nasya. "Ayo, Nas, ikut Mama pergi." Gadis kecil itu mengangguk lalu mengikutiku di belakang. "Kamu mau ke mana, Amira?!" teriak Mas Heri saat langkahku sudah di ambang pintu keluar. Mas Heri mencekal lengan Nasya, mungkin tujuannya agar aku tak pe
Baca selengkapnya
Pelajaran untuk Heri
5. SUAMI DAN MERTUA TAK TAHU AKU BANYAK UANG Mohon dukung cerbungku dengan cara klik SUBSCRIBE DAN RATE BINTANG LIMA sebelum membaca.  Pelajaran Untuk Heri "Maksudnya kamu ga akan kasih nafkah lagi sama aku, Mas?" tanyaku biasa saja. Dalam hati mencoba mengontrol emosi, percuma marah-marah dan protes pun takkan di dengar, yang harus kulakukan adalah memberi mereka pelajaran agar merasa jera. "Ya engga gitu maksudnya, kamu tetep dikasih makan kok, cuman bedanya kali ini Ibu yang pegang keuangan," jelas Mas Heri santai. "Lagian uangnya juga ga dimakan semua sama Ibu, sebagian mau Ibu tabung buat renovasi rumah, apa kamu ga malu punya rumah butut begini, tuh lihat rumah Rista megah dan mewah," sahut ibu sambil mengunyah. 
Baca selengkapnya
Yang kaya itu orang tua Rista
"Ini apa, Bu?!" tanya Mas Heri dengan nada tinggi. Ada api kemarahan di matanya, sementara ibu gelagapan dalam kebisuan. "Ck ck ck, ternyata Ibu bohong sama anak sendiri?" sahutku menambah panas suasana. Terlihat mata ibu mendelik melirikku, baru kali ini kulihat wajahnya sepucat itu, bagaikan kerupuk yang tersiram air. "Tega ya Ibu abisin duit aku seenaknya, tahu sendiri 'kan gajiku itu hanya segitu, bukannya Ibu janji mau ditabungkan uangnya." Mas Heri masih terlihat kecewa. "Sudahlah, Mas, gimana pun juga uangnya udah terlanjur dibelanjakan, sekarang dan ke depannya ya Ibu harus bisa ngatur keuangan untuk sebulan dengan uang yang tersisa," celetukku sambil menyeringai senang. Melihat ibu terpojokkan seperti melihat pertunjukkan sirkus gratisan. "Dan ya aku ga bisa bantu, tahu sendiri 'kan aku ini cuma jualan seblak untungnya cuma buat jajan Nasya aja sama bayarin biaya sekolahnya," lanjutku lagi berbohong. Malas saja jika harus menutupi kekurangan sehari-hari sementara dia
Baca selengkapnya
Dihina balik
bab 7 "Ardaaan!" teriak seorang perempuan dari lantai atas, suaranya cukup melengking. "I-iya, Ma!" jawab Ardan sambil berteriak pula. Kami semua mendongkakkan wajah, tapi belum ada seseorang yang muncul di pandangan. "Ini sprei kotor kok masih di kamar Mama, bawain donk ke ruang cuci," sahut ia yang sudah pasti mertuanya Ardan. Kami semua saling memandang merasa heran, kenapa Ardan seperti seorang pembantu di rumah ini? aku yakin Mas Heri dan ibu pun merasakan kejanggalan ini.

Baca selengkapnya

Pelajaran untuk ibu
Bab 8Ibu berdiri memandangi besannya penuh amarah, dadaku berdegup kencang takut jika ibu melakukan perbuatan kekerasan, sedangkan Mas Heri mencoba menyadarkan ibu dengan cara memegang lengannya."Kenapa Bu Besan? saya minta maaf kalau perkataan saya barusan menyinggung hati Anda, tapi gimana lagi ya lama-lama saya juga jengah melihat Ardan yang ga ada kemajuan, kalau bisa Bu Besan tolong nasihati dia supaya mau bekerja, ga minta makan terus sama mertua," ujar Mama Rista.Aku menghela napas, perkataan wanita cantik ini memang halus tapi nyakitin, sama seperti hatiku yang sering sakit saat dihina oleh ibu.Dan sekarang ibu sendiri yang dihina balik oleh besannya, di hadapan orang banyak pula, segala perbuatan pasti akan kembali pada diri sendiri, itu ternyata benar.Aku kok puas ya lihat ibu digituin, ehh."Saya permisi, Bu Besan," ujar ibu.Di luar dugaan ibu malah pergi dari rumah mewah ini,
Baca selengkapnya
Ponselmu untukku
bab 9 Ponselmu untukkuIbu menangis kejer seperti anak kecil, ia duduk di tanah sambil meraung, aku dan Sela saling memandang, merasa heran melihat nenek tua meraung seperti anak kecil."Allah ga ridho kali ya duitnya dirampas paksa sama mertua Mbak, makanya ga lama langsung dicopet," bisik Sela.Kali ini aku setuju dengan pendapatnya."Mau disamperin ga? aku mah ogah mending masuk lagi, panaas," ujar Sela, lalu ia menjauh dari kerumunan.Sebenarnya aku ingin pergi saja dan memilih melaksanakan salat Dzuhur, tapi kasihan juga melihat ibu yang sedang terkena musibah, masa iya kutinggalkan sendirian."Bu, kenapa uangnya bisa dijambret sih? terus jambretnya ketangkep ga?" tanyaku sekaligus pada orang-orang yang berkerumun."Engga, jambretnya naik motor, Neng," jawab seorang bapak tukang parkir."Iya, jambretnya langsung kabur mana bawa motornya secepat kilat kaya
Baca selengkapnya
Balasan datang begitu cepat
Bab 10Balasan datang begitu cepat"Gimana, Mir? ngalah aja ya, kamu tahu sendiri mana sanggup aku beli hape baru." Mas Heri menatapku iba.Aku mendelikkan mata, sebel juga ngasih nafkah seenaknya, giliran ia yang perlu maksa, suami macam apa coba."Engga! Enak aja main ambil-ambil, hape itu sering dipake Nasya belajar daring," balasku dengan tegas."Sudahlah, ambil aja sana," bisik ibu yang masih bisa kudengar.Dengan sigap Mas Heri menyambar ponselku yang sedang di cas di atas meja, sayangnya tanganku terlambat satu detik untuk meraih dan sudah keduluan sama Mas Heri."Balikin hape aku!" teriakku penuh emosi.Tak menghiraukan teriakkanku gegas lelaki itu berlari keluar."Beli lagi aja kenapa sih, kamu 'kan jualan tiap hari masa hape aja ga kebeli."Lelaki itu naik ke atas motor, tak dipedulikan istrinya yang menjerit memanggil di belakang, aku tak bisa mengejar kar
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status