Di film-film, sering ada plot guru keras ala militer yang mengubah siswa nakal—tapi realitanya kompleks. Beberapa sekolah swasta mengadopsi sistem 'asrama militer' dengan guru yang dilatih khusus, tapi ini minoritas. Program seperti 'TNI Manunggal Membangun Desa' pun punya elemen pelatihan keterampilan untuk masyarakat, termasuk guru. Namun, tujuannya lebih ke pengabdian sosial. Aku justru tertarik dengan gagasan pelatihan mental ala militer untuk guru—bagaimana menghadapi tekanan dengan resilience. Di Korea Selatan, ada program pelatihan guru berbasis mindfulness yang terinspirasi dari latihan tentara, tapi tanpa unsur fisik yang keras. Intinya, jiwa mengajar tetap harus cair, bukan kaku seperti baris-berbaris.
Ada beberapa program yang menghubungkan dunia militer dengan pendidikan, meski tidak secara eksplisit disebut 'pelatihan guru'. Misalnya, di Indonesia, program 'Bela Negara' pernah mengajak masyarakat, termasuk pendidik, untuk memahami nilai-nilai kedisiplinan dan patriotisme ala militer. Ini lebih tentang pembentukan karakter daripada pelatihan teknis mengajar. Beberapa negara seperti Amerika juga punya 'Troops to Teachers' yang membantu veteran beralih profesi menjadi guru dengan pelatihan pedagogi khusus. Menariknya, pendekatan militer dalam pendidikan sering memicu debat—apakah struktur hierarkis cocok untuk ruang kelas yang butuh kreativitas?
Dari pengamatan, guru yang punya latar belakang militer cenderung membawa disiplin ketat tapi kadang kurang fleksibel. Justru di Finlandia, yang sistem pendidikannya diakui dunia, guru dilatih untuk menjadi fasilitator yang egaliter. Mungkin kolaborasi idealnya adalah mengambil sisi positif militer seperti manajemen waktu dan tanggung jawab, tanpa menghilangkan esensi pendidikan yang humanis.
Pernah dengar soal sekolah taruna di Indonesia? Itu salah satu contoh nyata bagaimana metode militer diterapkan dalam pendidikan. Guru-guru di sana dilatih untuk mengelola kelas dengan disiplin tinggi, seragam, bahkan upacara rutin. Tapi ini spesifik untuk sekolah tertentu, bukan program nasional. Kalau dilihat dari sejarah, banyak negara pasca-konflik memanfaatkan mantan tentara sebagai guru darurat—timor Leste dulu pernah melakukannya. Namun, pelatihan guru ala militer dalam arti literal jarang ada.
Yang lebih umum justru pelatihan soft skill berbasis nilai militer, seperti leadership atau crisis management. Di Jepang, misalnya, ada workshop untuk guru tentang tanggap bencana dengan pendekatan semi-militer. Menurutku, yang penting adalah menyeimbangkan ketegasan dengan empati—guru bukan komandan, tapi panutan.
2026-07-20 07:25:05
1
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
Duvessa
10
34.9K
Anindya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang bekerja paruh waktu sebagai guru les privat. Tugasnya sederhana, mengajar seorang bocah cerdas bernama Elvio.
Namun, sejak Arvendra Satwika Pradipta–ayah dari muridnya–hadir, hidup Anindya perlahan berubah arah. Apakah gadis itu masih berjalan di jalurnya sendiri, atau hanya mengikuti keputusan yang dibuatkan untuknya?
Akibat dijebak oleh kekasihnya sendiri, Nindi Xaviera berakhir menghabiskan satu malam yang panas bersama Zeeshan Lavroy Azam–CEO yang terkenal dingin, kejam, dan misterius. Karena takut menghadapi pria itu, Nindi memilih melarikan diri dan bersembunyi.
Namun, akibat dari malam panas itu, Nindi dinyatakan hamil. Dia sangat panik dan bertambah panik karena Zeeshan menemukannya.
"Jangan kabur dan bertanggung jawablah, Nona Nindi Xaviera!" Zeeshan Lavroy Azam.
"He-hei! Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Akulah yang harusnya meminta pertanggung jawaban mu." Nindi Xavier Adam.
"Baik. Aku akan menikahimu."
[ Mature 21+ ]
Dion Pratama adalah pelatih renang muda di klub elite tempat para sosialita berkumpul. Dan berbeda dari kelab renang biasanya, tempatnya bekerja mengharuskan para pelatihnya menawarkan jasa penuh sensualitas.
Mampukah Dion melawan godaan dari para muridnya? Atau justru sebaliknya. Menjadi pemuas bagi para sosialita?
Dia dijadikan persembahan bagi seorang bangsawan kaya raya.
Cinta dan kasih sayang yang dia impikan hanya fatamorgana untuknya.
Dia ingin berlari dari semua ini sampai dia sadar kalau jalannya untuk lari sudah tertutup dinding air mata keluarganya.
Dia terjebak menjadi istri ketiga dari seorang suami yang hanya menginginkannya melahirkan keturunan saja.
Dia disiksa, dihina lalu dibunuh dengan keji.
Akan tetapi Tuhan rupanya kasihan padanya, dia hidup kembali, dan bertekad akan mengubah takdir hidupnya.
Alexa tidak pernah menyangka, pengkhianatan dari kekasihnya justru menyeretnya ke dalam permainan berbahaya dengan sosok yang sama sekali tak terduga. Theo, guru privat yang dipercaya ibunya, sekaligus pria matang yang dingin, tegas, dan sulit disentuh.
Hubungan mereka seharusnya sebatas murid dan guru. Tidak lebih. Namun semakin sering bertemu, semakin kuat pula rasa penasaran Alexa terhadap pria itu. Apalagi ketika luka hatinya membuatnya ingin membuktikan diri, bahwa ia bukan gadis kecil yang bisa diremehkan, bahwa ia cukup menggoda untuk diperhitungkan.
Theo menolak sekaligus terpikat. Usia mereka terpaut jauh, tanggung jawabnya jelas, dan godaan itu seharusnya ia patahkan sejak awal. Tapi Alexa terus menantang, terus mengusik, hingga batas antara larangan dan keinginan melewati batas wajar.
Namun, Alexa tidak tahu bahwa ada rahasia besar yang tersembunyi dibalik status Theo, akankah hal itu yang akan menghentikan Alexa mencintai pria yang lebih dewasa darinya?
Seratus tiga puluh hari setelah Ayah pergi, Ibu menghadirkan lelaki lain di rumah ini. Pernikahan kedua yang menyakiti hati kami. Dalam semalam saja, Dia berubah, dari Ibu paling sempurna menjadi Ibu yang pantas dibenci. Tapi ternyata, ada sebuah rahasia yang tak pernah kutahu.
Kubiarkan Ibu pergi, setelah menorehkan luka terdalam di hatiku dan Kiara, adikku yang masih terlalu kecil untuk mengerti. aku harus kuat, berdiri di atas kakiku sendiri, juga menjadi penopang bagi Kaki Tiara. segala rintangan itu akan ku singkirkan meski harus berdarah-darah.
aku Keysha, usiaku tujuh belas tahun. Dan inilah kisahku
Ada beberapa aplikasi yang bisa jadi teman latihan menyetir mandiri, dan pengalaman pribadi saya menggunakan 'Driving School Simulator' cukup membantu. Aplikasi ini menyajikan simulasi berkendara yang realistis dengan berbagai skenario, mulai dari parkir hingga menghadapi lalu lintas padat. Yang saya suka adalah fitur feedback instannya—aplikasi akan memberi tahu kesalahan seperti melanggar lampu merah atau tidak memberi tanda saat belok.
Selain itu, 'Drivvo' juga berguna untuk melacak progres latihan. Meski bukan simulator, aplikasi ini membantu mencatat durasi menyetir, rute, dan konsumsi bahan bakar. Kombinasi keduanya memberi gambaran komprehensif, baik dari segi teori maupun praktik. Kalau sedang malas keluar rumah, bermain simulator bisa jadi alternatif seru sekaligus edukatif.