Masuk
“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.”
“Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” Hujan Dingin Pengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja bisa meruntuhkan bangunan bobrok ini. “Sayang sekali, cantik. Uangmu sama terlalu sedikit untuk kami, kami hanya ingin sedikit mendapat kehangatan dari tubuhmu,” kata salah satu dari mereka sambil menyeringai mesum. “Tidak!!! Kalian harus tahu aku baru saja keguguran!!! Menyentuhku akan membuat kalian jijik!!” “Ah bagaimana ini, tapi kami sudah tidak tahan.” Salah satu laki-laki itu bicara dengan nada memelas yang makin membuat Kania ketakutan. “Suamiku tak akan memaafkan kalian kalau tahu!!!” Suaminya memang tak mencintainya, Kania yakin itu. Tapi kalau dia sampai berakhir menjadi mainan penjahat tentu akan mencoreng nama baiknya. Kania yakin sang suami akan menyelamatkannya, dia hanya perlu mengulur waktu sampai sang suami datang. “Suami, hahahha…. Dia tak akan sadar kalau istri kecilnya hilang, tenang saja suamimu masih punya dua istri lain yang bisa memuaskannya, kamu bagian kami…” Tangan Kania meraba tanah lembab di sekitarnya, dia butuh senjata… apapun yang bisa dia gunakan untuk mempertahankan diri. “Ayo cantik, kami pasti lebih bisa memuaskanmu.” Dengan tubuh lemahnya Kania berdiri dan menggenggam erat kayu kecil yang dia temukan tadi, mengacungkannya dengan tangan gemetar pada dua laki-laki yang malah menatapnya dengan geli, seolah dia badut. “Wah kami takut dengan senjatamu itu.” Kania menggenggam erat kayu di tangannya dan mulai memukul membabi buta, tapi apalah daya kekuatan wanita seperti dirinya dihadapan dua orang preman yang sudah dikuasai nafsu bejad itu menerkamnya. “Hentikan!!!” Pintu gudang tua itu terbuka kasar dan Kania langsung berlari pada orang yang baru datang. “Mbak Nayla tolong aku!!! Mereka menculikku!!!” Rasa syukur membanjiri hatinya, dia menatap istri kedua suaminya ini dengan penuh terima kasih. “Menculik?” Tanya Nayla dengan sangsi. “Bukankah kamu yang memang menemui mereka?” Tangan Kania yang memegang lengan kakak madunya ini melemah. “Enggak mbak!! Mereka menculikku dari rumah sakit, tolong bawa aku pergi dari sini.” Nayla menatap Kania tak yakin lalu tatapannya mengarah pada dua orang laki-laki di depannya. “Benarkah kalian menculiknya?” Tanyanya. “Apa menculik?! Yang benar saja, mana bisa kami menculik orang dari rumah sakit elit itu.” Tubuh Kania yang kedinginan makin gemetar, dia baru menyadari rumah sakit itu bukan rumah sakit biasa, dan penjagaannya tak perlu diragukan lagi. Otak cerdas Kania langsung memproses semuanya. Kakak madunya yang tiba-tiba datang kemari. Sendiri. Tanpa pengawalan. “Mbak Na-Nayla jangan bilang kalau-” “Ada apa, adik maduku?” Tanya wanita itu dengan manis. Kania melangkah mundur. “Mbak merencanakan ini semua?” Tanyanya dengan tak percaya. “Wah kamu memang pintar, sayang tapi itu tidak berguna.” Kali ini ketakutan yang dirasakan Kania langsung hilang berganti menjadi kekecewaan yang membuat tubuhnya bahkan tak sanggup untuk berdiri tegak. “Kenapa?” Tanyanya lemah nyaris tak terdengar. “Kenapa mbak melakukan ini? Mbak Nayla yang kukuh ingin aku menikah dengan mas Darma?” Dengan senyum manis yang selama ini menipunya, Nayla melangkah mendekati Kania yang terlihat hancur. “Memangnya kamu pikir wanita mana yang mau berbagi suami dengan wanita lain.” Kania menahan napasnya, selama ini dari semua orang hanya Nayla dan mertuanya yang memperlakukannya dengan baik. Sang suami bahkan menganggapnya hanya pemuas nafsu dan pabrik pembuat anak. “Ta-tapi mbak Nayla yang ngotot supaya mas Darma-” “Ah itu…. Tentu saja aku yang meminta mas Darma mendekatimu dan membuatmu jatuh cinta.” Kania menggelengkan kepalanya tak mengerti. “Kasihan sekali, biar aku jelaskan,” kata Nayla penuh ejekan. “Mertuaku mendesak mas Darma untuk segera punya keturunan, lalu aku bertemu denganmu.” Wanita itu terdiam sejenak masih dengan senyum manis yang menipunya selama ini. “Lalu aku berpikir dari pada mereka mencarikan madu untukku lebih baik aku yang mencari sendiri, wanita yang sesuai kemauanku.” Nayla menatap Kania dengan pandangan menghina. “Orang kampung, mata duitan dan lebih penting gampang dikendalikan.” Sampai disini Kania bisa mengerti tapi kenapa sekarang tiba-tiba Nayla ingin menghancurkannya. “Mbak Nayla berpikir aku sengaja menggugurkan bayiku?” Tanyanya dengan suara tercekat. Wanita itu menggeleng dengan anggun. “Tentu saja tidak karena aku yang melakukan semuanya.” Bola mata Kania langsung membesar, pantas saja… semua keanehan ini akhirnya terjawab. “Mbak!!! Mas Darma tidak akan memaafkan mbak kalau tahu ini semua!!!” “Sttt!!! Kebetulan sekali suami kita menelpon,” katanya sambil mengangkat ponselnya menghadap Kania. Dua orang preman yang sejak tadi diam seperti melihat pertunjukan sirkus langsung membungkam mulut Kania. Kania berontak gila-gilaan. Ini satu-satunya kesempatan untuknya. Jika suaminya tahu, pasti akan menolongnya. “Iya, mas?” “Sayang, kamu di mana?” Bahkan Nayla dengan sengaja mememperbesar volume ponselnya. “Aku sedang menjenguk dek Kania, kasihan dia baru saja kehilangan anak.” “Astaga, Dek. Kamu terlalu baik hati, jangan terlalu capek ingat kamu sedang hamil. Kania biar diurus pembantu.” Mata Kania membulat mendengar ucapan suaminya diseberang sana. Jadi ini alasannya. Dia harus disingkirkan. “Tapi mas, kasihan dek Kania mas tidak ingin menjenguknya.” “Untuk apa? Yang penting dia masih hidup, mas sibuk.” “Astaga, maafkan aku yang tidak pengertian ini. Padahal aku ingin mas temani makan di restoran favorit kita.” “Tidak… tidak mas selalu punya waktu untukmu dek, nanti mas jemput di mana?” Kania bahkan tidak sempat memikirkan sang suami yang tak peduli padanya, yang dia pikirkan sekarang bagaimana dia harus selamat dari tempat ini. “Di rumah saja, aku sudah jalan pulang dari-” “Mas tolong!!!” Kania berhasil berteriak dan mengigit tangan preman yang membekapnya. “Dek,ada apa? Itu seperti suara Kania.” “Mas pasti sedang memikirkan Kania, itu suara pasien rumah sakit yang mengamuk.” “Oh… maaf, jangan ngambek iya mas salah.” “Sudah mas, aku jalan pulang dulu.” Kania menatap kakak madunya dengan amarah yang menggunung. “Sudah dengar bukan, mas Darma pasti percaya padaku.” Nayla berjalan mendekati Kania. “Nikmatilah malam ini,” katanya tenang lalu berbalik pergi tanpa menoleh. Kania berusaha memberontak, dia memukul mencakar dan menendang dengan brutal, tapi dua preman itu seolah tak merasakan apapun. Air matanya mengalir deras saat satu per satu para preman itu memaksanya dan baru melepasnya setelah tubuhnya lemas tak bertenaga. Kania mencium bau amis darah yang menguar di udara… Darahnya. Dendam dan sumpah serapah hanya mampu dia ucapkan dalam hati sebelum dia menyerah kalah pada kegelapan yang menelannya…. Saat membuka matanya kembali, dia sudah ada di sebuah ranjang empuk dan ruangan yang bersih. Meski tubuhnya terasa sakit semua tapi dia selamat. Apa mas Darma yang datang menyelamatkanku? Buru-buru dia bangun saat mengingat kejadian yang menimpanya tapi sebuah tangaan langsung menahannya. “Jangan bangun dulu anda baru saja menjalani kuret.” “Kuret?” Tanya Kania bingung. “Benar. Kami tak bisa menyelamatkan bayi anda.” Kania menatap sang dokter bingung, bukankah ini kejadian minggu lalu mungkinkah…“Kamu kan sudah berpengalaman hamil, dek. Bisakan nanti juga ikut merawat aku.” Nayla bersandar manja di bahu Darma, seolah Kania yang duduk di depannya itu bukan istri laki-laki itu juga. Rumah ini memang sangat besar, tapi hanya Nayla dan Kania istri Darma yang tinggal di sini. Hera, Istri pertama laki-laki itu lebih memilih tinggal di sebuah apartemen mewah di dekat kantornya, pada hari kerja Darma juga akan ada di sana dan akan kembali pulang di rumah ini hari jum’at malam. Kania tahu Hera memang bukan wanita yang dicintai Darma tapi wanita itu adalah pemegang kunci semuanya, pernikahan mereka dulu juga atas dasar perjodohan. Hera sosok wanita modern, yang tak mau ribet mengurus suami apalagi punya anak. Uang dan kepiawaian wanita itu dalam bisnis membuatnya tak tergantikan oleh dua istri Darma yang lain, bahkan bisa dihitung dengan jari Kania bertemu wanita itu. “Dek Kania kok diam saja, katakan sesuatu.” Untuk sesaat Kania menatap dua orang di depannya itu. “Na
TinggiTampan GagahDan yang pasti bau duit bisa tercium dari jarak jauh. Siapa wanita yang tidak akan tergoda dengan semua itu, apalagi orang miskin seperti dirinya yang seumur hidup bergelut dengan kekurangan.“Ini buatan anak gadis saya ini kho, tuan. Baru lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai Chef di hotel bintang lima.” Bulek Marni menyodorkan rantang yang dia bawa ke depan hidung Darma membuat laki-laki itu mau tak mau mengambil makanan yang ada di dalamnya. “Bagaimana enak bukan?” tanya wanita itu saat Darma baru saja mengigit makanan di tangannya. “Iya, terima kasih.” “Ini silahkan ambil lagi, kalau kurang Lyra pasti membuatkan lagi, atau tuan Darma mau makan apa lagi biar anak saya buatkan.” Kania yang baru saja keluar dari kamar hanya menggeleng pelan melihat tetangganya yang julid itu sedang mempromosikan anak gadisnya, andai saja mereka tahu…Bukan hanya bulek Min yang ada di sana tapi banyak juga ibu-ibu yang ada di depan rumahnya, tapi yang membuat heran ada
Kaburrrr!!!Katakankah Kania pengecut, dia tak berani untuk menuntut orang yang membunuh bayinya, juga yang berniat menculiknya. Akan tetapi dia bisa apa. Dia hanya wanita kampung yang dipersunting orang kaya dengan koneksi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan seperti kata Nayla diantara dirinya dan wanita itu tentu sang suami akan lebih percaya pada Nayla. Dengan menggunakan taksi online Kania nekad pulang ke rumahnya, rumah yang dulu kumuh dan hampir roboh kini sudah menjadi bangunan dua tingkat yang mewah, bahkan tak kalah dengan rumah pejbat daerah.“Lihat, nduk gelang baru ibu bagus kan.” Baru saja Kania turun dari taksi dengan tubuh lemah, tapi ibunya segera menyambutnya dengan antusias bukan menanyakan tentang kabarnya tapi malah memamerkan perhiasan yang baru saja dia beli. “Sekarang ibu bisa beli gelang yang sama seperti punya bu lurah, dan suamimu juga beberapa hari lalu membelikan adikmu mobil.” Kania masih berdiri diam dengan wajah pias. Dia menatap wajah ibunya yang
Masalah terbesar Kania saat ini adalah bagaimana dia bisa mengubah takdir hidupnya dalam keadaan sesulit ini.“Anda belum boleh keluar dari rumah sakit dulu.” Terlalu nekad memang. Tubuhnya memang masih lemah, bahkan untuk berdiripun dia harus melakukan upaya keras. Dia tahu, tidak ada satu pun pelayan untuknya. Itu memang telah direncanakan. Tapi tak mengapa itu memudahkannya. Kepercayaannya sudah hancur. Saat visit dokter Asti adalah satu-satunya kesempatannya untuk bicara, tentu saja setelah mengusahakan berbagai cara agar dia bisa bicara dengan sang dokter tanpa ada orang lain.Kania merasa dokter Asti adalah satu-satunya harapannya.“Tapi saya takut.” “Takut?” “Iya saya merasa ada beberapa orang yang memperhatikan gerak-gerik saya.” Dokter wanita itu menghela napas panjang. “Itu hanya perasaan ibu saja, rumah sakit ini memiliki sistem keamanan ketat.” Sistem keamanan itu sendiri yang dia curigai sudah bekerja sama dengan penculiknya. “Saya tahu, tapi tetap saja saya ta
Ini kejadian seminggu yang lalu. Dia sangat yakin. Tapi kenapa sekarang kejadian ini terulang kembali.Mungkinkah dia hidup kembali?Kania menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas tertahan. Bau antiseptik yang menusuk hidung, suara langkah perawat, selimut putih yang terlalu bersih...Semua terasa nyata.Dia bahkan mencubit tangannya sendiri. Sakit. Jadi ini….Bukan mimpi.Tangannya gemetar saat meraba perutnya.Kempis.Ke-gu-gu-ran.Janin berusia empat bulan itu telah luruh.Air mata tak juga keluar. Mungkin sudah habis… kering… tak bersisa.Apa dia memang tidak pantas menjadi seorang ibu hingga dua kali harus melalui musibah ini?“Sejujurnya saya tidak mengerti, ibu punya suami tapi kenapa harus menggugurkan janin yang ibu kandung sampai dua kali.”Terlalu fokus pada keadaan dirinya dia lupa kalau dokter Asti ada di sini.Kania mengangkat kepalanya perlahan.Menggugurkan?“Apa maksud dokter?”Tatapan dokter Asti kali ini berbeda. Tidak ada kelembutan seperti biasany
“Lihat… tubuh mulus ini pasti perawatannya mahal.” “Goblok!!! Jangan samakan dia dengan wanita pinggir jalan yang sering kamu pakai.” “Hahhaha benar-benar, wanitanya bos besar pasti rasanya beda.” HujanDinginPengap Bau alkohol menyengat. Seharusnya dia masih ada di ranjang empuk rumah sakit, meski dengan hati luluh lantak. Tapi sekarang tak ada lagi bau khas rumah sakit sama sekali hanya ada bau apek dan lembab gedung tua ini. Kania makin meringkuk ketakutan. Tubuhnya yang baru saja keguguran terasa sakit sekali. Dia masih menggunakan baju rumah sakit, tapi… “Siapa kalian!! Pergi!!!” “Tenang cantik, kami hanya ingin menyenangkanmu sebentar.” Pandangan penuh nafsu menjijikkan itu membuat Kania makin ketakutan. Puluhan tikus dan kecoa yang tadi berkumpul di tempat ini berlari tunggang langgang mendengar tawa kedua orang itu. “Kalian ingin uang? Aku akan berikan tapi bebaskan aku!” Kedua laki-laki itu saling pandang lalu bersama-sama tertawa keras, tawa yang mungkin saja