Share

Ruang Panas Bersama Guru Privat
Ruang Panas Bersama Guru Privat
Penulis: SILAN

Bab 1

Penulis: SILAN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-29 08:46:08

"ALEXA!"

Teriakan lantang memecah keheningan kamar. Pintu terbuka kasar, dan Rose, wanita paruh baya dengan wajah tegang penuh emosi muncul sambil menghentakkan selembar kertas ke atas meja.

"Bu, bisakah ibu tidak menggangguku? Aku sedang main game," keluh Alexa malas, tak melepaskan pandangannya dari layar.

Namun Rose tak memberi kesempatan. Dengan sekali tarik, kabel komputer tercabut. Layar gelap seketika. Alexa mendengus kesal, melepaskan headphone dan berdiri.

Belum sempat ia melawan, sang ibu sudah mengacungkan kertas itu di depan wajahnya.

"Kau sudah delapan belas tahun, Lexa. Sebentar lagi sembilan belas! Tahun ini seharusnya kau lulus. Tapi dengan nilai seperti ini…" Rose menepuk keras kertas itu, "universitas mana yang mau menerima murid sepertimu?!"

Alexa hanya memutar bola mata. "Bu, lulus atau tidak, aku tetap pewaris perusahaan ayah dan ibu. Aku anak satu-satunya. Tidak ada yang bisa merebut itu dariku."

Ucapan itu membuat Rose menarik nafas panjang, berusaha menahan ledakan emosinya.

"Siapa bilang kau otomatis jadi pewaris? Dengan sikapmu sekarang, perusahaan bisa hancur di tanganmu!"

Alexa menyeringai sinis. "Lalu apa? Aku cuma menikmati hidupku. Main game, belanja, jalan-jalan. Apa itu salah?"

"Itu justru masalahnya!" suara Rose meninggi, nadanya meledak. "Mulai besok, ibu tidak mau tahu lagi. Ujian tahun ini kau harus lulus dengan nilai bagus. Kalau tidak, kau akan kehilangan semua asetmu!"

Alexa terbelalak. "Apa ibu akan mencoret namaku dari kartu keluarga?!"

Rose menatap tajam. "Kalau kau terus begini, ya. Besok ada orang yang akan menjemputmu. Kau akan tinggal bersamanya sampai sikapmu menjadi lebih baik. Sementara waktu, semua aset atas namamu akan dibekukan, jadi tidak ada cara lain untukmu bisa bepergian sesuka hati lagi, Lexa!"

Alexa tercekat. "Apa?! Ibu mau buang aku? Aku putri satu-satunya di keluarga ini!"

Rose menempelkan kertas nilai itu tepat di wajah Alexa. "Dengan nilai seperti ini, kau bahkan tak pantas jadi asisten, apalagi pemimpin perusahaan!"

Setelah mengucapkan ultimatum itu, Rose berbalik dan keluar, meninggalkan Alexa yang masih membeku di tempat.

Detik berikutnya, Alexa menggertakkan gigi. "Dibuang? Tidak! Sebelum orang suruhan ibu datang, aku akan kabur!"

Malam itu, dengan nekat ia mengemasi barang-barang berharganya. Menjelang tengah malam, ia melompat dari balkon kamar di lantai dua dan lari ke jalan gelap.

Namun nasib sial segera menamparnya. Seorang pencopet merampas tas berisi uang dan pakaiannya. Alexa panik, mencoba mengejar, tapi sia-sia.

Belum sempat bernafas lega, dua pria asing menghadangnya. Sorot mata mereka tajam, penuh niat buruk. Alexa mundur, tubuhnya gemetar karena ia tidak punya kemampuan beladiri yang bagus.

"Pergi!" serunya, tapi tangan kasar sudah menyeretnya. Alexa menjerit minta tolong, tapi gelap malam menelan suaranya.

Ketika situasi semakin mencekam dan membuat Alexa berpikir malam ini tamat riwayatnya, tiba-tiba seseorang muncul. Pertarungan singkat terjadi, pukulan, teriakan, langkah tergesa sebelum Alexa ditarik masuk ke sebuah mobil berwarna hitam.

Ia terengah-engah, jantungnya berdebar tak karuan. Perlahan menoleh, dan pandangannya langsung terpaku.

Seorang pria matang dengan tubuh berotot duduk di sampingnya. Aura maskulin, rahang tegas, dan tatapan tajam itu membuat Alexa nyaris lupa bernafas.

"Anda baik-baik saja, Nona." suaranya berat, dalam, dan seksi.

Alexa menelan ludah. Tidak disangka malam ini ia justru bertemu dengan pria yang sangat menggoda seperti ini, tanpa sadar lidahnya terceplos sebelum sempat berpikir.

"Apa paman punya istri?" tanyanya.

Pertanyaan yang sama sekali tak seharusnya ia ucapkan di malam penuh malapetaka itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   TAMAT

    Hari demi hari berlalu dengan cepat, hingga tanpa terasa seluruh persiapan pernikahan akhirnya berada di garis akhir. Gaun pernikahan Alexa telah selesai, tergantung rapi di balik pintu kaca butik di ruangan khusus, berkilau anggun seolah hanya menunggu satu momen sakral untuk dikenakan. Undangan telah tersebar, dekorasi venue hampir sempurna, dan tanggal itu kini tercetak jelas di kalender, dilingkari tinta merah.Tinggal menghitung hari.Bagi Alexa, perasaan itu aneh, campuran antara gugup, berdebar, dan bahagia yang sulit dijelaskan. Setiap kali ia bangun tidur, hal pertama yang terlintas di kepalanya bukan lagi kuliah, bukan pekerjaan, melainkan satu pertanyaan sederhana, Aku benar-benar akan menikah.Pagi itu, Alexa berdiri di depan cermin kamar tamu kediaman ibunya di Boston. Di tangannya, sebuah kotak beludru kecil terbuka. Cincin pertunangan yang Theo berikan berkilau tertimpa cahaya matahari. Ia memutar cincin itu perlahan di jarinya, merasakan dingin logamnya, lalu menarik na

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 85

    Ketika hari pernikahan Kevin dan Lucy tiba, suasana kediaman keluarga Klein berubah menjadi jauh lebih khidmat dari biasanya. Tidak ada keramaian berlebihan, hanya wajah-wajah keluarga yang berkumpul dengan balutan busana formal dan senyum penuh harap. Alexa berdiri di sisi Theo, matanya menyapu ruangan menangkap sosok-sosok asing yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita.Pandangan Alexa tertahan pada seorang pria tua yang duduk di kursi roda. Tubuhnya tampak rapuh, punggungnya sedikit membungkuk, dan langkah pun bukan lagi sesuatu yang bisa ia andalkan. Namun ada wibawa yang tak luntur dari sorot matanya, ketegasan yang hanya dimiliki seseorang yang pernah berdiri di puncak dunia.Theo yang menyadari arah pandangan Alexa segera melangkah mendekat. Tanpa ragu, ia mengambil alih kursi roda dari tangan penjaga yang mendorongnya. Alexa ikut melangkah di belakang, langkahnya otomatis melambat, seolah ia sedang memasuki bagian lain dari hidup Theo yang selama ini belum tersentuh.“Alex

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 84

    Makanan telah tersaji rapi di atas meja makan, aroma hangatnya memenuhi ruangan dan membangkitkan selera siapa pun yang menciumnya. Theo selesai membasuh tangan, menyisakan tetesan air di ujung jemarinya, sementara Lucy sibuk merapikan meja dan memastikan semuanya siap untuk makan malam.“Theo, lihat ke sana,” ujar Kevin pelan.Theo menoleh mengikuti arah pandangan Kevin sambil mengelap tangannya dengan lap bersih.Di tengah ruang tamu, Alexa tengah duduk di sofa dengan Darren di pangkuannya. Sebuah mainan kecil ia gerakkan perlahan di depan wajah bayi itu. Darren tergelak, tawanya nyaring dan polos, memenuhi ruangan dengan kebahagiaan sederhana yang tak dibuat-buat. Alexa ikut tertawa, wajahnya berseri, matanya berbinar setiap kali bayi itu meraih mainan dengan tangan mungilnya.Pemandangan itu membuat dada Theo terasa hangat.Ada perasaan asing yang perlahan merambat, tenang, utuh, dan penuh harap. Mungkinkah ia memang sudah harus mulai menyiapkan diri untuk menjadi seorang ayah? Ba

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 83

    Theo dan Alexa serempak menoleh saat dua sosok familiar melangkah masuk ke butik, Lucy dan Kevin, pasangan yang sebentar lagi akan mengikat janji suci. Aura kebahagiaan tampak jelas dari wajah mereka, meski seperti biasa, Lucy selalu membawa energi yang sulit ditebak.Theo bangkit dari duduknya, menoleh sebentar ke arah belakang sebelum akhirnya fokus pada kakaknya. “Di mana bayi kecilmu?” tanyanya ringan.Lucy mengangkat alis, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Tidak ikut. Tapi kalau kau ingin menemuinya, datang saja ke rumah,” jawabnya santai namun mengandung sindiran halus. “Rumahku dan Kevin tidak pernah berpindah tempat. Kami harap kau belum lupa alamatnya.”Theo mendengus pelan, jelas menyadari sindiran itu.Pandangan Lucy kemudian beralih, matanya berhenti pada Alexa yang berdiri tak jauh dari Theo. Senyumnya melebar manis, hangat, namun menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Tanpa ragu, Lucy melangkah mendekat, bahkan mendorong Theo sedikit ke samping.“Oh, jadi ini calo

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 82

    Waktu berputar cepat. Hitungan bulan yang terasa seperti puluhan tahun akhirnya terlewati, dan kini Alexa kembali menginjakkan kaki di Boston, kota yang dulu penuh keraguan, namun sekarang terasa seperti rumah karena ada seseorang yang menunggunya.Begitu keluar dari pintu kedatangan, matanya langsung menangkap sosok yang paling ia rindukan. Theo berdiri di sana, tegap, hangat, dan dengan senyum yang membuat dada Alexa terasa sesak oleh rasa bahagia. Tanpa pikir panjang, Alexa langsung berlari dan melompat ke pelukan pria itu, seperti anak kecil yang menemukan tempat paling aman di dunia.Theo tertawa kecil sambil menahan tubuh Alexa agar tidak jatuh. “Bagaimana perjalananmu?” tanyanya lembut.Alexa melepaskan pelukan hanya untuk kembali memeluknya lebih erat, kali ini dengan manja. “Semuanya baik-baik saja… tapi rasanya terlalu lama. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.”Theo membalas tatapannya dengan penuh kasih, jemarinya terulur mencubit ujung hidung Alexa dengan gemas. “

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 81

    Setelah Alexa mengetahui segalanya, alasan di balik kedekatan ibunya dengan Theo, rahasia yang selama ini disembunyikan darinya, serta kebenaran tentang perjodohan itu, rasanya hidupnya seperti kembali bernapas lega. Beban yang dulu mengikat dadanya kini perlahan menguap. Hari-harinya terasa lebih ringan, pikirannya jauh lebih jernih dari sebelumnya.Kini, Alexa hanya perlu fokus pada pendidikannya sebelum kembali ke Boston dalam waktu dekat. Bukan hanya untuk melanjutkan hidupnya… tapi juga untuk mempersiapkan sesuatu yang selama ini tak berani ia bayangkan, pernikahannya dengan Theo. Setiap kali memikirkannya, ada rasa bahagia yang menyelinap lembut… disertai malu yang sulit ia jelaskan, terutama karena wanita yang dulu ia kira adalah istri Theo ternyata hanyalah kakak kandung pria itu.“Kau tidak bisa tinggal lebih lama di sini?” tanya Alexa pelan saat melihat Theo sudah berkemas.Theo menoleh, lalu berdiri menghampirinya. “Maaf, aku tidak bisa lebih lama,” ucapnya lembut sambil me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status