Aksara Handini
Pada malam aku mati, suamiku memelukku sambil berkata... 'Maaf. Kali ini aku tetap harus membunuhmu.' Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Dan kali ini... aku yang akan mencarinya lebih dulu."
Hujan badai menghantam kaca jendela kamar tidur utama dengan beringas. Di atas ranjang berseprai satin merah tua—warna yang kelak menyerupai genangan darah—aku terbujur lemah. Napasku tersengal, berat, dan berbau logam amis. Racun itu bekerja dengan sangat cepat, melumpuhkan setiap jengkal saraf di tubuhku.
Sosok pria berjas hitam legam itu berdiri tepat di atasku. Wajahnya yang rupawan, pahatan rahang yang tegas, serta sepasang mata kelam yang biasanya memancarkan kehangatan, kini terlihat dingin tanpa jiwa. Namun, di balik kengerian itu, aku melihat kilat keraguan yang teramat tipis.
Tangan dinginnya membelai leherku, seolah memastikan nadi terakhirku berhenti berdetak.
"Kenapa..." suaraku tercekat, nyaris tak terdengar di antara deru guntur.
Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang meremukkan sisa kewarasanku sebelum gelap total merenggut kesadaranku.
Lalu... semuanya sunyi.
475