로그인"Kamu hanya pengganti. Jangan bermimpi menjadi pemilik hatiku." Arkan Adhitama adalah pria kaya, dingin, dan tidak pernah tersenyum. Ia menikahi Aluna hanya demi janji orang tua dan warisan. Bagi semua orang, Aluna beruntung mempersuntingnya. Padahal, setiap hari ia hidup dalam bayang-bayang wanita lain: dibandingkan, diabaikan, bahkan dikhianati secara diam-diam. "Suatu hari, kamu akan menyesal," ucap Aluna pelan saat hatinya akhirnya hancur berkeping-keping. Ia pergi tanpa pamit, membawa luka dan rahasia besar yang tidak diketahui Arkan. Tiga tahun kemudian, Aluna kembali bukan lagi sebagai istri yang sabar dan tertindas. Di sisinya ada dua orang kecil yang mewarisi rupa dan tatapan mata Arkan yang sempurna. Saat Arkan berlutut memohon kesempatan dengan mata merah, Aluna tersenyum dingin. "Maaf, Arkan. Dulu aku yang mengejarmu. Sekarang, kamu sudah terlambat tiga tahun lamanya."
더 보기“Apa yang akan kau lakukan sekarang, Lun? Apa memang pernikahan ini sudah menjadi keputusan yang tepat? Bagaimana kalau dia gak datang ke pernikahan ini?” gumamnya pelan di depan cermin dengan ekspresi wajah yang tampak terlihat ragu.
Keresahan hatinya hari ini membuat hujan rintik-rintik yang membasahi pelaminan terlihat begitu sepi. Kain sutra berwarna putih gading yang dikenakannya pun tampak terlihat gelisah tak menentu. Gaun itu seperti mengejeknya. Mengejek satu-satunya sosok yang berdiri di sana dengan jantung yang berdebar kencang bukan karena bahagia, melainkan karena takut. Takut kalau pernikahan ini tidak sesuai dengan harapannya.
Aluna mengenakan gaun pengantin yang terlihat indah, rambut hitam panjangnya tersisir rapi jatuh bergelombang di bahu, dihiasi seuntai bunga melati yang harumnya perlahan kalah oleh bau lilin dan bunga-bunga mahal di sekelilingnya.
Matanya yang bening menatap pintu masuk dengan tatapan berharap, berharap sosok yang menjadi suaminya itu hari ini akan muncul. Setidaknya untuk sesaat, agar ia tidak terlihat seperti wanita yang dipersunting oleh kesepian di hadapan ratusan tamu yang mulai berbisik-bisik.
“Bagaimana ini? Kenapa dia belum datang juga,” katanya kembali terlihat gelisah.
Pintu itu tetap tertutup, orang yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung datang juga.
“Apa ini masih dibilang sebagai pernikahan? Rasanya, aku seperti sedang tidak menikah. Padahal, menikah dengan memakai gaun seperti ini adalah pernikahan impianku,” katanya terdengar lirih.
Pengantin prianya adalah Arkan Adhitama—pewaris tunggal kekayaan keluarga Adhitama. Pria yang namanya selalu disebut-sebut dengan rasa hormat sekaligus paling disegani di seluruh penjuru kota ini tampak tidak hadir. Pria itu seperti sedang mempermainkan sebuah pernikahan. Bahkan, ayah kandung Arkan pun tidak datang di pernikahannya setelah 3 tahun yang lalu menikah lagi dan memiliki istri baru, kemudian menetap di New York.
Sementara Aluna sendiri, kedua orang tuanya sudah meninggal karena sebuah kecelakaan 2 tahun yang lalu. Di pernikahannya kali ini pun hanya menyisakan orang tua angkatnya saja dan beberapa sepupunya yang masih bisa hadir.
“Jangan gugup, Lun,” tutur ibu angkatnya Aluna mencoba menenangkan.
“Bagaimana aku nggak gugup, Mah. Sejak tadi pagi, aku berdiam diri di atas pelaminan sednirian tanpa pasangannya.”
“Mungkin sebentar lagi sampai, kita tunggu aja,” tutur ayah angkatnya Aluna kali ini bersuara.
“Sudah hampir dua jam, Aluna,” suara berat terdengar dari samping.
Itu adalah Paman Surya, saudara laki-laki dari mendiang ibunya Arkan, pria yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan segala sesuatunya dengan tatapan menyelidik.
“Arkan memang sibuk. Kamu harus mengerti dia, pernikahan ini juga bukan sekadar pesta biasa, tapi perjanjian yang mengikat harta keluarga.”
Aluna terdiam sejenak, mencoba menahan agar suaranya tidak terdengar gelagapan. “Aku tahu itu, Paman. Aku cuma ingin dia setuju atas pernikahan ini dan dia datang di hari pernikahannya. Aku ingin menagih janji yang sudah kita sepakati 1 bulan yang lalu, kalau kami sepakat untuk menikah.”
“Setuju?” Paman Surya tersenyum miring, “Arkan setuju menikahimu karena syarat wasiat mendiang kakeknya dan juga mendiang kakekmu, bukan karena ia menginginkanmu apalagi menyukaimu. Jangan berharap lebih, Lun. Di keluarga ini, perasaan itu tidak dihitung, yang dihitung hanyalah kepatuhan. Ayah kandungnya saja tidak bisa hadir, jangan berharap yang bagus-bagus.”
Kalimat itu seperti jarum yang menusuk tepat ke ulu hati Aluna. Ia tahu hal itu sejak awal. Ia menikah bukan karena cinta, melainkan karena janji yang diucapkan kedua orang tuanya sebelum meninggal—janji untuk menyatukan 2 keluarga melalui pernikahannya dengan Arkan, dan demi menjaga agar kekayaan keluarga Adhitama tidak terpecah belah dan jatuh ke tangan yang salah.
Namun, mendengarnya langsung dari mulut orang lain, dan melihat kebenaran itu terpampang nyata dalam ketidakhadiran Arkan di hari pernikahannya, rasanya tetap menyakitkan.
“Lalu aku harus bagaimana? Pernikahan ini tidak sah jika mempelai laki-lakinya aja gak datang,” ujar Aluna dengan ekspresi tegang dan tampak panik.
“Waktunya tiba, tersenyum sedikit, Luna,” perintah paman Surya kembali.
“Sabar, Lun, semuanya akan segera berakhir,” ujar ibu angkat Luna mencoba menenangkan.
Tepuk tangan yang terdengar terpaksa memecah keheningan. Aluna dipandu untuk menandatangani buku pernikahan sendirian, di hadapan saksi yang ditunjuk oleh keluarga Arkan, dan tanpa kehadiran pengantin pria, juga orang tua dari keluarga pria. Di mata para tamu, ia tampak seperti wanita yang paling beruntung menyandang nama keluarga terkaya dan hidup dalam kemewahan yang tidak terbayangkan orang biasa.
Para tamu itu tidak ada yang tahu bahwa sejak detik itu, ia telah mengikatkan dirinya pada sebuah pernikahan tanpa kehadiran, tanpa janji cinta, dan tanpa harapan kebahagiaan.
“Apa menurut Papah dan Mamah pernikahan ini dikatakan sah? Pengantin prianya aja gak hadir di sini,” tanya Aluna setelah selesai menandatangani buku pernikahan miliknya.
“Harusnya, sih, nggak sah, Lun. Dia tidak datang di hai pernikahannya. Yang datang menyusul hanya beberapa dokumen dan buku pernikahan yang sudah ditandatangani Arkan sebelum pernikahan ini,” jawab sang ibu yang terlihat kecewa.
“Lalu, Luna harus bagaimana sekarang?” tanyanya kembali dengan mata berkaca-kaca.
“Ikuti saja alur pernikahan ini sesuai kehendak keluarga Adhitama, Lun.Walau bagaimana pun janji pernikahan ini harus ditepati dan dilaksanakan. Yang sabar, ya, Nak,” ujar sang ayah angkat sambil menggenggam tangan anak angkatnya yang tampak dingin.
Setelah rangkaian pernikahan menyesakkan itu berakhir, Aluna berpamitan kepada kedua orang tuanya karena mulai hari ini ia sudah sah menjadi istri dari Arkan Adhitama. Malam itu, Aluna masuk ke dalam rumah besar dan megah yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang. Ruangan-ruangan luas itu terasa dingin. Pelayan yang menyambutnya menundukkan kepala, namun tatapan mata mereka menyiratkan rasa iba sekaligus penasaran.
Berapa lama wanita lemah ini akan bertahan di sini, sebelum akhirnya diusir?
Bahkan, bisa dikatakan ini bukan rumahnya sendiri. Rumah ini memang besar, tapi ia akan tinggal dengan Paman Surya beserta keluarganya. Walau bangunan rumah mereka terpisah, tetap saja mereka akan tinggal di rumah yang sama dalam satu gerbang yang sama.
“Selamat datang di keluarga Adhitama, Nyona Aluna,” tutur seorang perempuan paruh baya bernama Inah tampak ramah, “saya Inah yang akan melayani nyonya di rumah ini.”
“Terima kasih sudah menyambutku, Bi Inah. Sepertinya di sini yang terlihat ramah cuma Bi Inah aja, ya?”
“Nyonya harus banyak bersabar, ya. Walau bagaimana pun, nyonya Aluna sekarang sudah menjadi Nyonya Adhitama di disni.”
“Mohon bimbingannya, ya, Bik.”
“Beristirahatlah di kamar, Nyonya. Biarkan saya antar ke kamar Nyonya.”
“Apa Arkan akan datang ke rumah ini, Bik?” tanya Aluna ragu.
“Tentu saja, Tuan Arkan itu adalah suami Nyonya Aluna sekarang dan rumah ini juga, kan, rumah miliknya. Tentu saja Tuan Arkan akan pulang ke rumah ini.”
Aluna menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Bik Inah dari belakang. Untungnya ada seseorang yang ramah di sini, jadi ia merasa tidak sendirian di sini, pikir Aluna saat itu.
“Kenapa mereka semua menatapku dengan tatapan menyedihkan seperti itu?” gumam Aluna merasa gugup begitu melihat para pelayan di rumah besar itu menatapnya dengan tatapan sinis dan menyelidik.
“Abaikan saja mereka, Nyonya. Mereka hanya sedang menjalankan tugas mereka sebagai pelayan di rumah ini. Silahkan beristirahat, Nyonya. Kalau ada perlu apa-apa, panggil saya saja.”
“Makasih, ya, Bik.”
Sesampainya di sebuah kamar yang terlihat anggun, Aluna langsung beristirahat di rumah yang besar dan tampak sepi itu. Kamarnya sangat besar sekali, bahkan ada ruang tamu terpisah di dalam kamar tersebut.
“Besar sekali kamar ini! Kamar ini saja sudah seperti satu rumah. Apa bisa aku tinggal di sini?” katanya lagi merasa tak yakin.
Aluna merasa kesepian di rumah ini, tak ada keluarga maupun teman yang menemaninya. Bahkan, setelah menikah, kamarnya pun terpisah dengan suaminya. Apa mungkin pasangan yang baru menikah tinggal di kamar yang berbeda? Bahkan, untuk melihat wajah suaminya saja ia belum bisa.
Aluna menghela napas panjang. “Apa aku bisa bertahan di rumah ini?”
Sepanjang malam, Aluna sama sekali tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur yang luas, menatap pintu yang tertutup rapat, dan menunggu. Entah menunggu apa. Mungkin menunggu Arkan datang hanya sekadar untuk melihat wajahnya dan sekadar untuk mendengar suaranya. Namun, setelah matahari terbit, pintu itu pun tidak pernah terbuka dan wajah Arkan sama sekali tak tampak di malam pertamanya.
Aluna kembali menghela napas panjang. “Sepertinya, dia mungkin tidak akan pernah datang, apa pantas status pernikahan ini aku pertahankan?”
Dua hari berlalu dalam kesunyian. Aluna mulai mengenali setiap sudut rumah itu, sekaligus mulai menyadari bahwa setiap langkahnya tampak diawasi. Setiap kali ia berbicara dengan pelayan, atau sekadar berjalan menuju taman, selalu ada seseorang yang lewat seperti kebetulan semata kemudian meliriknya sekilas lalu pergi. Kabar yang sampai ke telinganya pun terdengar samar, paman Surya sering berbicara lewat telepon dengan nada rendah dan beberapa kali menyebut namanya, diikuti suara tawa yang terdengar merendahkan.
“Gadis itu tidak tahu apa-apa,” pernah terdengar ucapan Paman Surya dari balik pintu yang tertutup sebagian saat Aluna kebetulan lewat.
“Dia pikir dengan menikah dan masuk ke keluarga ini, masa depannya akan terjamin apa? Biarkan saja dululah, selama belum ada tanda sah dari Arkan, pernikahan ini bisa saja dibatalkan kapan saja. Warisan itu juga belum tentu pasti jatuh ke tangannya.”
Jantung Aluna berdegup kencang.
Jadi, pernikahan ini belum sah sepenuhnya menurut aturan keluarga? Selama Arkan tidak menyatakan persetujuannya secara langsung dan tidak menandatangani persyaratan warisan, maka semua yang ia miliki di sini hanyalah bayang-bayang status semata?
Aluna terus berjalan seolah tidak mendengarnya, namun keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Ia bukan sekadar berada di tempat yang tidak diinginkan, ia seperti sedang berdiri di atas tanah yang bisa runtuh kapan saja.
“Aku harus melakukan sesuatu agar bisa bertemu dengan Arkan dan mempertanyakan status pernikahan ini dengan jelas,” tuturnya pelan lalu berjalan dengan terburu-buru.
Pada hari ketiga, pintu utama rumah itu terbuka lebar tepat saat tengah malam.
Aluna terbangun karena mendengar suara derap langkah berat yang memecah keheningan malam. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah perlahan menuju pintu kamar, dan sedikit membukanya. Cahaya lampu aula menyinari sosok pria yang baru saja melangkah masuk.
Pria itu berdiri membelakangi pintu, mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, dengan bahu yang lebar tampak tegang. Rahang yang tegas, bibir yang terkatup rapat dalam garis lurus, dan sepasang mata yang tampak dingin tanpa sedikit pun kehangatan. Wajah itu memang terlihat tampan luar biasa, namun sedingin es yang tidak pernah bisa mencair.
Itu Arkan. Suaminya.
Arkan? Dia muncul setelah 4 hari kami menikah? Bagaimana bisa seperti itu? Batin Aluna gugup.
Aluna menahan napas saat Arkan berbalik dan pandangan matanya seketika menatap lurus ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka, tepat ke arah mata Aluna.
Jarak mereka hanya beberapa langkah. Namun, tatapan yang diberikan Arkan bukan tatapan suami kepada istrinya. Itu adalah tatapan penuh kebencian, seolah-olah keberadaan Aluna di sana adalah hal yang paling menjijikkan dan tidak diinginkan di dunia ini. Mungkin, bisa dikatakan dia adalah satu-satunya orang tak diinginkan di keluarga ini.
Arkan melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan pintu kamar Aluna. Tingginya membuat Aluna harus mendongak, merasa kecil, dan tidak berdaya di hadapan pria itu.
“Kau pikir dengan berdiri di sana dan menunggu, aku akan menerimamu? Kamu hanya boneka yang dikirim keluargaku untuk merebut hartaku, bukan? Kamu pikir pernikahan ini akan membuatmu menjadi pemilik separuh hidupku dan separuh kekayaanku?” suaranya terdengar merendahkan.
Aluna tercengang mendengarnya. Sekian lama tak bertemu, yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang sangat menusuk dan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri meski suaranya sedikit bergetar.
“Aku tidak pernah menginginkan hartamu, Arkan. Aku menikahimu karena perjanjian itu. Perjanjian keluarga kita, mendiang kakekmu dan Kakekku.”
“Perjanjian keluarga?”
Arkan menyela dengan tawa singkat yang terdengar penuh penghinaan. Ia melangkah selangkah lebih dekat, hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal. Aluna bisa mencium aroma wangi yang bercampur bau hujan dan sesuatu yang tajam mengintimidasi.
“Perjanjian itu dibuat oleh mereka yang menginginkan keuntungan. Dan kamu adalah alat yang mereka kirim untuk mengambil apa yang sudah menjadi milikku!”
“Aku tidak seperti itu,” jawab Aluna tegas meski matanya mulai berkaca-kaca, “aku tidak meminta pernikahan ini, aku hanya mematuhinya. Tapi lihatlah, sekarang aku di sini, dan aku berusaha menghormati perjanjian itu dengan cara menjadi istri yang baik, setidaknya sampai semuanya jelas.”
Arkan menatapnya lama, seolah sedang menilai kebenaran di balik mata itu. Namun, alih-alih melembut, sorot matanya justru semakin mengeras.
“Dengarkan aku baik-baik, kamu boleh tinggal di rumah ini. Tapi jangan pernah berharap aku akan menganggapmu sebagai istriku. Bagiku, kamu hanyalah pengganti, pengganti wanita yang sebenarnya ingin kulihat berdiri di posisimu saat 4 hari yang lalu. Jangan bermimpi kamu bisa masuk ke dalam hidupku, apalagi ke dalam hatiku,” ucapnya dingin, satu per satu kata terucap dengan tegas.
Hatinya hancur seketika. Lebih menyakitkan daripada ketidakhadirannya di pelaminan dan lebih perih daripada bisikan-bisikan orang di belakang punggungnya.
Arkan melanjutkan dengan nada yang lebih terkesan sinis. “Dan satu hal lagi, jangan pernah berpikir kamu bisa mengurus urusan warisan atau apa pun yang berkaitan dengan keluargaku. Selama kamu di sini, kamu akan menuruti semua aturanku. Tidur di kamar terpisah, berpura-pura harmonis di depan publik, dan jangan pernah menanyakan ke mana aku pergi atau dengan siapa aku berada.”
Aluna menarik napas panjang, menahan agar air matanya tidak jatuh di hadapan pria itu, lalu ia mengangguk pelan.
“Oke. Aku menuruti akan aturanmu.”
Arkan tampak terkejut sejenak mendengar jawaban itu. Namun, Aluna hanya menatapnya lurus, tanpa kemarahan, tanpa tuntutan. Hanya kesabaran yang entah berapa lama mampu ia pertahankan.
“Bagus. Ingat janjimu!” ucap Arkan singkat.
Ia berbalik hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat dari arah laci meja di sudut ruangan, terjatuh selembar kertas yang terselip di balik buku catatan. Kertas itu meluncur tepat di dekat kaki Arkan. Secara tidak sengaja, Arkan membaca baris pertama yang tertulis di atasnya, surat wasiat tambahan yang menyebutkan bahwa pernikahan ini tidak hanya mengikat soal warisan, tetapi juga mengandung klausul tersembunyi.
Jika salah satu pihak meninggal dalam kurun waktu lima tahun pernikahan, maka seluruh harta akan jatuh mutlak kepada pasangan yang masih hidup.
Arkan membaca kalimat itu berulang kali. Perlahan, wajahnya yang dingin berubah menjadi pucat. Ia mendongak menatap Aluna yang masih berdiri diam di tempatnya dan menatapnya dengan tatapan polos tanpa curiga sedikit pun.
Paman Surya, ini pasti ulahnya. Bisik hati Arkan.
Memang benar semua ini pasti dilakukan oleh adik semata wayang mendiang ibunya Arkan yang haus akan kekayaan keluarga Adhitama. Dan, Arkan sudah mengetahui kalau pernikahan ini pasti akan, dibumbui oleh beberapa drama adik dari mendiang ibunya itu. Tapi bagaimana pun itu, ia tidak menyangka ada klausul tersembunyi di balik dokumen tentang warisan ini yang sebelumnya pernah ia lihat.
Paman Surya-lah yang mendesak pernikahan ini agar secepatnya dilaksanakan. Paman Surya pula yang selalu memastikan Arkan tidak pernah membaca isi lengkap perjanjian itu. Dan sekarang, Aluna berada di sini—hidup di bawah atap yang sama, setiap hari, dan setiap malam.
Arkan menatap Aluna dengan pandangan yang berubah seketika. Bukan lagi sekadar kebencian atau penghinaan. Ada ketakutan yang bercampur kecurigaan terlihat jelas di sana, namun Arkan berusaha menyembunyikannya.
Ia melipat kertas itu perlahan, menyimpannya ke dalam saku tanpa membiarkan Aluna membaca isinya. Lalu, ia menatapnya dalam-dalam dengan senyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
“Oke, Aluna,mulai malam ini aku akan memastikan kamu akan tetap hidup di sisiku. Bahkan sangat dekat. Meski kita tidak tidur di satu kamar yang sama."
Aluna mengerjap, bingung dengan perubahan nada suara suaminya yang tiba-tiba.
“Apa maksudmu?”
Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lekat-lekat.
“Turuti saja semua perintahku jangan banyak bertanya,” ucapnya pelan, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan Aluna yang masih berdiri terpaku di ambang pintu.
Namun, sebelum Arkan menghilang di ujung lorong, Aluna melihat sesuatu yang membuat terdiam dengan gugup. Di balik bahu Arkan, di kegelapan ruangan seberang, sosok Paman Surya berdiri diam di sana. Matanya menatap tajam ke arah Arkan yang sedang memegang kertas itu, lalu beralih menatap Aluna dengan senyum mencekam yang perlahan melebar di wajahnya.
Dan di detik itu, Aluna menyadari satu hal yang mengerikan. Pernikahan tanpa cinta ternyata bukan hal terburuk yang menantinya. Sebuah jebakan jauh lebih besar sedang terbuka di hadapannya dan ia baru saja melangkah masuk ke dalamnya, tanpa sadar sama sekali.
“Firasatku buruk sekali soal Paman Surya,” tutur Aluna pelan.
Darah segar seketika membasahi gaun sutra merah yang dikenakan Sheila dan menyebar luas. Wanita itu terkulai lemas di pelukan Arkan, napasnya tersengal-sengal namun matanya tetap menatap Aluna lekat-lekat penuh kemenangan. “Sheilaa!!” teriak Arkan panik. Arkan terpaku. Matanya membelalak menatap darah yang merembes deras di balik jari-jari Sheila yang menekan perutnya. Kepanikan seketika menyergap akal sehatnya. Ia menoleh cepat ke arah Aluna, dan tatapan itu adalah tatapan yang diberikan Arkan kepada Aluna bukan lagi kebingungan atau keraguan. Itu adalah tatapan penuh kemarahan yang meledak-ledak. “Kau!” suara Arkan bergetar hebat, tangannya memeluk tubuh Sheila yang semakin dingin, matanya menatap Aluna seakan wanita di hadapannya adalah makhluk paling kejam di muka bumi, “kamu menyakiti Sheila! Kamu pelakunya, kan?” “Bukan! Aku gak menyentuhnya!” Aluna melangkah maju dengan tangan terulur, napasnya tertahan melihat darah itu, namun Arkan mundur selangkah sambil mendekap Sheil
Kertas itu tergenggam erat di tangan Aluna. Tinta merah yang membentuk ancaman itu tampak segar, seperti baru saja ditulis beberapa saat lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut, melainkan karena kesadaran yang semakin mengerikan karena orang itu sudah masuk ke dalam kamarnya. Menyentuh barang-barangnya dan meninggalkan pesan. Dan ia sama sekali tidak menyadarinya. Perlahan, Aluna melangkah mendekati lemari yang pintunya sedikit terbuka. Napasnya tertahan di kerongkongan. Dengan tangan gemetar, ia merentangkan jari dan mendorong pintu lemari itu terbuka lebar. Kosong. Tak ada siapa pun di dalamnya. Hanya deretan gaun yang tersusun rapi. Namun di lantai dalam lemari, tergeletak sehelai kain sutra berwarna merah menyala yang sama sekali bukan milik dirinya. Kain itu beraroma wangi yang sangat khas—wangi yang pernah ia cium dari kerah jas Arkan beberapa hari lalu. Wangi yang sama persis dengan wangi yang dibawa oleh wanita yang berdiri bersama Bi Inah di halaman bawa
Keheningan di balik pintu itu terasa mencekam. Aluna menatap pintu kayu kokoh itu dengan napas tertahan, jepit rambut berwarna merah menyala masih tergenggam erat di tangannya hingga permata itu menekan telapak kulitnya. Ia menunggu suara langkah kaki menjauh, menunggu bisikan itu kembali terdengar, namun tak ada apa-apa selain kesunyian. Lama Aluna berdiri terpaku di sana, hingga akhirnya kesadaran perlahan menyusup masuk. Wanita itu—wanita yang menjadi bayang-bayang di hati Arkan bukan sekadar hadir kembali. Ia telah masuk, menyusup, dan menjebaknya dengan sangat rapi hingga tak ada satu pun yang berani membelanya. Termasuk Arkan. “Perempuan itu lagi, perempuan yang ada di bingkai foto meja kerja Arkan. Apa yang ingin dia lakukan dan rencanakan?” Aluna menyembunyikan jepit rambut itu di tempat yang paling tersembunyi di dalam laci pakaiannya, di bawah tumpukan kain tebal yang tak akan disentuh siapa pun. Benda itu adalah bukti. Satu-satunya bukti bahwa ia tidak bersalah. Dan ia
Jebakan Pertama Kegelapan menyelimuti ruangan seketika. Aluna merasakan tangan Arkan mencengkeram pergelangan tangannya dengan cepat, kemudian menariknya bersembunyi di balik tirai jendela tepat saat pintu terdorong terbuka kasar. Cahaya lampu lorong menyusup masuk, menyinari sepasang sepatu kulit mengkilap yang berdiri di ambang pintu. “Arkan! Aku tahu kau ada di dalam!” Suara aman Surya terdengar tajam, disusul suara langkah kaki berat yang melangkah masuk perlahan. “Kenapa mematikan lampu? Kau sedang melakukan apa di dalam gelap-gelapan?” Aluna menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Di sampingnya, ia bisa merasakan detak jantung Arkan yang berpacu sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Tangan pria itu menekan pelan punggung tangan Aluna, memberi isyarat agar tetap diam. “Jangan bergerak!” Paman Surya melangkah semakin dekat. Cahaya samar-samar menyinari wajahnya yang tampak gelap dan penuh curiga. Matanya menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.