Gerimis Bulan Desember
Kuhela napas kecil.
“Untuk Hyacinta. Hari ini dia datang ke rumah. Selayaknya bunga yang tumbuh tanpa ingin mengenal matahari, kau bersembunyi di dalam gelap. Tak membiarkan tanah menyapamu, kau berteman air. Kau angkuh, hanya ingin disentuh tangan tertentu. Saat kelopak mekar, wewangianmu menyebar ke penjuru mana saja yang kau sukai. Bahkan, kau bisa berwarna biru, langka bagi bunga manapun. Kau menunggu, hingga waktu datang untuk mencintaimu. Wisnu adalah waktumu.”