Gerimis Bulan Desember
“Untuk Hyacinta. Hari ini dia datang ke rumah. Selayaknya bunga yang tumbuh tanpa ingin mengenal matahari, kau bersembunyi di dalam gelap. Tak membiarkan tanah menyapamu, kau berteman air. Kau angkuh, hanya ingin disentuh tangan tertentu. Saat kelopak mekar, wewangianmu menyebar ke penjuru mana saja yang kau sukai. Bahkan, kau bisa berwarna biru, langka bagi bunga manapun. Kau menunggu, hingga waktu datang untuk mencintaimu. Wisnu adalah waktumu.”
Kakek menggambarkanku dalam bentuk bunga hyacinthus. Iya, aku memang selayaknya bunga itu, angkuh dan tak ingin dikuasai oleh Inu dalam kata pernikahan. Namun, tatkala aku mengenal cinta – yang Inu kenalkan dengan caranya, aku tak bisa berpaling la