DENDAM
katanya dengan semangat, dia pun berdiri, dan berjalan mengikuti langkah kami.
"Apakah kamu tidak dendam kepadaku, Mir?" tanyaku pelan.
Amira menggeleng. "Bukan saat nya untuk di bahas! Mending kamu fokus senangkan hati Naira dulu," katanya dengan lembut.
"Wih, bagus-bagus banget, di kampung nggak ada yang begini," celetuk Naira dengan riang.
"Pilih dong! Yang mana pun kamu suka, kita beli," kataku.