Sistem Penakluk Heroine
Aku berputar, berusaha memahami apa yang terjadi, tapi pandanganku segera terfokus pada sosok di kejauhan.
Seorang pria paruh baya berdiri tegak di tengah tumpukan mayat. Rambutnya hitam panjang, sebagian sudah memutih, wajahnya keras penuh bekas luka. Di tangannya, sebuah pedang merah menyala seperti darah cair.
Lalu dia bergerak.
Satu ayunan pedang, dan belasan prajurit terbelah seakan tubuh mereka hanya kertas. Satu tebasan berikutnya, puluhan lagi roboh tanpa sempat menjerit.