PEMBALASAN DEWA MAUT
Angin bersiul melewati celah-celah tebing, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, tetapi dingin terbesar bersemayam di dalam kepalanya.
“Apakah masih jauh tempatnya? Kakiku pegal, nih,” keluh sebuah suara di benaknya, nadanya sengaja dibuat menyebalkan. “Eh, lupa. Aku kan tidak punya kaki. Tapi bosan sekali rasanya. Dari tadi pemandangannya batu, batu lagi. Tidak ada pemandangan lain lagi? Desa untuk dibakar, misalnya?”
Hot Chapters