Suami Warisan
“Tuan, hari ini mau ngajar Silat?”
Ah, iya. Untung saja Ipah mengingatkan kewajibannya mengajar Pencak Silat di Perguruan Silat miliknya. Dia mengangguk, “Iya, Pah. Nanti agak siangan saya ke kota, ada apa?”
“Ipah boleh nitip sesuatu, Tuan?” tanya Ipah takut-takut.
“Nitip apa, Pah?”
“Belanja, Tuan.” Ipah menaruh secarik kertas di atas meja dengan tangan bergetar. Tangannya yang sempat cedera, berangsur sembuh berkat pengobatan yang dilakukan Narendra selama seminggu ini.