ENAK, PAK DOSEN!
Di kedalaman mata itu, bukan pantulan dirinya yang ia temukan, melainkan bayangan oranye dari api yang berkobar.
"Kebakaran, Mas," bisiknya, dan suaranya pecah, hancur. "Salah satu empat laundry-ku ... Mereka baru telepon. Semuanya hangus dan habis?"
“Kok bisa?”
“Aku gak tahu, Mas! Aku gak tahu!”
“Ya Allah!”
Air mata Diana akhirnya luruh, panas dan deras.
Kalimat terakhir itu menusuk Damar seperti bau asap yang tiba-tiba memenuhi paru-parunya. Ia merasakan jantungnya mendadak berdebar kencang, meniru ritme sirene darurat.
Hot Chapters