Ada sesuatu yang menarik sekaligus misterius dari judul 'Gigi #11 Januari'. Aku pertama kali menemukan karya ini ketika sedang menjelajahi rak-rak toko buku indie, dan langsung terpana oleh keunikannya. Judulnya seperti potongan fragmen cerita yang belum lengkap, tapi justru itu yang membuatku penasaran. 'Gigi' mungkin merujuk pada gigi sebagai simbol kekuatan atau kerapuhan, sementara '#11 Januari' bisa menjadi tanggal spesifik atau kode tertentu. Aku membayangkan ini seperti puzzle—penulis sengaja membiarkan pembaca menafsirkan maknanya sendiri dengan imajinasi mereka. Setelah membaca beberapa bab, aku merasa judul ini mencerminkan tema tentang memori yang terfragmentasi atau identitas yang terpecah—sesuatu yang personal tapi sekaligus universal.
Di komunitas diskusi online, beberapa teman berpendapat bahwa 'Gigi' adalah metafora untuk sesuatu yang tajam dan tak terlupakan, seperti kenangan menyakitkan yang tertanam dalam diri. '#11 Januari' mungkin mewakili momen spesifik ketika segala sesuatu berubah. Aku sendiri melihatnya sebagai eksperimen sastra; judulnya tidak konvensional, tapi justru itulah daya tariknya. Karya ini mengajak kita untuk tidak hanya membaca, tapi juga merasakan dan menebak-nebak—seperti menggigit sesuatu yang keras tapi perlahan-lahan terasa manis.