Terjebak Cinta Kakak Tiri
Tapi langkahnya mundur sedikit, memberi ruang untuk masuk.
Marlina melangkah masuk, pelan, seolah tak yakin dirinya diizinkan benar-benar berada di sini. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu—hangat, rapi, dan terasa begitu hidup. Kontras sekali dengan rumah besar mereka dulu, yang lebih banyak dihuni oleh keheningan dan batas-batas tidak kasatmata.
“Aku… baru saja selesai membaca novelmu,” Marlina membuka suara. “Yang baru itu. Tentang ‘rumah yang dibangun diam-diam.’”