Drama Ahli Waris Keluarga Mafia
Kontraksi itu seakan merobekku menjadi dua. Penglihatanku pun mulai kabur.
Suamiku, Rendi, adalah Sang Ketua, seorang pemimpin keluarga mafia yang menguasai Kota Celion, menggenggam tanganku. Mata gelapnya menyala dengan penuh cinta.
"Sebentar lagi, Sayangku. Kau akan segera bertemu bayi kita."
Keringat mengalir deras di wajahku. Aku masih ada kekuatan untuk tersenyum padanya.
Lalu, seorang perawat masuk. Dia memegang sebuah jarum suntik. Kupikir itu untuk menghentikan rasa sakit.
Namun, tangan Rendi terlepas. Dia mundur selangkah.
Jarum itu menancap di lenganku. Aku mendengar suara Rendi yang dingin seperti baja. "Berikan dia suntikan dengan hati-hati. Dia harus bertahan sampai tengah malam. Tidak boleh semenit pun lebih cepat. Tunggu sampai Karin melahirkan terlebih dahulu."
Saat itulah, aku baru tahu kalau dia berpikir aku menikahinya karena uang.
Dia menunda persalinanku. Semua demi aturan Keluarga Ferano yang gila, bahwa putra pertama yang lahir adalah pewaris berikutnya.
Rasa sakit menyiksaku. Aku mencoba meraihnya. Air mata mengalir di wajahku. Aku memohon padanya untuk berhenti.
Dia hanya menggigit bibir dan suaranya sedingin es.
"Kakakku sudah mati. Karin mengandung satu-satunya ahli waris. Kau harus melakukan apa yang diperintahkan. Kau dan anakmu tidak boleh mencuri hak warisnya."
Obat itu masuk ke pembuluh darahku. Remasan hebat di perutku terasa seperti tangan tak terlihat, dan tiba-tiba saja … berhenti.