POEDJAN
Semuanya kering.
Ia kembali berada di hutan, namun kali ini hutan itu dikelilingi dengan pohon cemara raksasa. Dedeng mendongak lantaran setitik air menganai bahunya. Sempat terpikir hujan, rupanya langit tak menaungi hutan ini, melainkan air rawa dengan tanaman yang mengapung di atas kepalanya. Sesekali ia melihat sesuatu berenang di hamparan air itu, namun ia tidak yakin apakah itu adalah seekor ikan atau bukan lantaran gerakannya sangat cepat. Sebagian pucuk pohon cemara tenggelam di hamparan air menyerupai langit itu. Dedeng tidak sempat berpikir tempat apa ini, atau sedang apa ia di sini. Di hadapannya ada sebuah jalan setapak, seperti sebuah jalan yang memang sengaja dibuah oleh para p
Hot Chapters