Rumah Ramaria
Ia berkumis dan cara jalannya memperlihatkan bahwa ia adalah orang yang tenang namun tegas.
“Papa, ada Rama,” kata Maria.
“Selamat malam Om, mohon maaf mengganggu malam-malam begini,” kataku, menundukkan kepalaku ke tangannya, memberi salam.
“Oh, iya-iya Rama, tidak masalah. Duduk dulu sebentar. Mau minum apa?”
Dengan tidak enak hati karena takut membuat repot penghuni rumah, namun tetap diyakinkan untuk duduk sebentar oleh Papa Maria, aku menurutinya.
Bab Populer