Ada nuansa menarik yang bisa digali ketika membahas perbedaan antara 'anti romantic' dan 'tidak romantis'. Keduanya memang terkesan mirip di permukaan, tapi sebenarnya punya konotasi yang cukup berbeda. 'Tidak romantis' cenderung netral—mungkin seseorang kurang ekspresif dalam hal hubungan atau kurang tertarik dengan hal-hal yang dianggap cliché seperti kencan lilin atau bunga. Sementara 'anti romantic' lebih aktif menolak romantisme, bahkan bisa sampai level sinis atau sarkastik terhadap konsep cinta idealis seperti di film atau novel.
Contohnya, karakter seperti Kaguya Shinomiya di 'Kaguya-sama: Love is War' awalnya terlihat tidak romantis karena dingin dan logis, tapi sebenarnya dia justru sangat romantis di dalam hati. Bandingkan dengan karakter seperti Hachiken dari 'Silver Spoon' yang lebih anti romantic—dia skeptis terhadap drama cinta dan lebih fokus pada realitas sehari-hari. Ini menunjukkan bagaimana dua label tersebut bisa memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia fiksi maupun kehidupan nyata.
Yang bikin semakin kompleks adalah bagaimana budaya pop memengaruhi persepsi kita. Anime seperti 'Oregairu' atau 'Watamote' menggambarkan protagonis yang anti romantic dengan cara berbeda-beda, dari yang sarkastik sampai yang justru tragis. Di sisi lain, tokoh yang tidak romantis sering muncul dalam cerita slice of life biasa tanpa konflik berarti. Jadi, meski sekilas terlihat sama, keduanya punya 'rasa' yang berbeda dalam storytelling dan dinamika karakter.
Kalau dilihat dari pengalaman pribadi, aku sering nemuin teman yang bilang 'Aku nggak romantis sih' tapi masih mau nonton film romcom atau baca shoujo. Sementara yang anti romantic biasanya langsung geleng kepala begitu lihat adegan mesra. Lucu juga ya bagaimana dua sikap ini memengaruhi preferensi hiburan kita. Jadi, meski sering dianggap sama, keduanya punya akar dan implikasi yang cukup unik.