Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Terus mulailah parade itu. Satu per satu mereka dorong anak gadis mereka ke depan mukaku. ‘Kenalin, ini Sinta, lulusan S1’. ‘Kenalin, ini Wulan, pinter masak’. ‘Ini ponakan Tante, pinter ngaji’. Ada yang malu-malu, ada yang cemberut, ada juga yang senyum-senyum genit.”
“Wow,” komentar Rani, ada nada sedikit aneh dalam suaranya, mungkin sedikit cemburu yang tak disadari. “Laku keras ya kamu.”
“Laku keras apanya? Itu namanya mimpi buruk!” bantah Joko cepat. “Terus ada satu ibu-ibu, Bu Ida namanya. Dia yang paling nekat. Dia nawarin aku tinggal di rumahnya, kerja di toko material suaminya, asalkan mau nikah sama anaknya. Bayangin, Ran! Aku baru dua hari di Jakarta, masa sudah mau dijadiin ‘pia