Ditipu Mertua dan Suami
sambil menunggu suster yang masih sibuk di layar komputer, mataku menyapu ruangan yang penuh dengan ibu-ibu berperut besar didampingi pasangannya.
Mungkin hanya aku yang tidak didampingi pasangan. Kuat Tiara. No problem. Ini baru awal karena sampai lahir nanti pun kamu juga tidak akan didampingi suami. Nggak boleh cengeng. Kukuatkan hati dengan mata yang sudah berkaca kaca pengin nangis.
"Ibu, ini nomor antriannya ya, Bu. Ibu antrian pertama."
"O, Iya, Mbak. Saya tinggal ke mushola dulu, ya. Di sini mushola dan kantin dimana ya, Mbak?"