Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan
Baru saja dia hendak membuka mulut untuk menyusun kalimat yang pas agar ibunya tak khawatir, sebuah suara cempreng dari arah karpet lebih dulu memotongnya.
"Yaelah, boro-boro dikenalin ke Mama! Mas Hanif mah masih ditolak mentah-mentah!" celetuk Latifa dengan semangat menggebu-gebu, meletakkan ponselnya di atas meja. Mata Hanif langsung melotot menatap adik perempuannya itu.
"Jangan sembarangan kalau ngomong," balas Hanif sedikit kesal.
"Siapa yang sembarangan, Mas? Fakta, kan?" Latifa membalas tatapan kakaknya dengan cengiran tanpa dosa. Dia lalu beringsut mendekati ibunya, bersiap membongkar rahasia.