Akulah Perancang Pernikahan Suamiku
Sebagai perencana pernikahan, aku sendiri yang merancang pernikahan suamiku dan selingkuhannya.
Bersama Julian selama lima tahun: tiga tahun pandemi, dua tahun menikah dan punya anak.
Pernikahan yang kuimpikan, di mulutnya selalu saja menjadi "lain kali".
Sampai suatu hari, aku menerima proyek pernikahan baru.
Pemberi tugasnya seorang gadis muda dengan alis dan mata yang melengkung indah, senyumnya merekah.
"Ini lokasi yang khusus dipilih pacarku, katanya pernikahan harus diadakan di sini."
Aku menerima berkas itu, pandanganku tertahan pada nama lokasinya:
sebuah gereja di Negara Faricia yang sudah berkali-kali kusebut pada suamiku, tempat impianku.
Aku baru saja hendak tersenyum sambil mengagumi, ternyata ada orang di dunia ini yang seleranya begitu sejalan denganku.
Detik berikutnya, nama mempelai pria masuk ke pandanganku.
Julian.
Ujung jariku terhenti tanpa suara di atas lembaran kertas.
Gadis di seberang masih tenggelam dalam kebahagiaan, lalu menambahkan dengan lembut, "Katanya, meski kami baru bersama dua bulan, dia ingin memberiku pernikahan terbaik."
Aku melengkungkan bibir, menatap wajah yang selama lima tahun ini bersamaku dari pagi hingga malam.
Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya tiba juga hari di mana aku merancang pernikahannya.
Sayangnya ... pengantinnya bukan aku.