Chemistry Chapter
Saat dilingkarkan di jari manis Zea, ukurannya sangat pas, seolah memang ditakdirkan untuknya.
Dewa sempat tertegun sejenak melihat jemari Zea yang tampak makin cantik dengan cincin itu. Namun, gengsinya yang setinggi langit dengan cepat menguasai diri.
"Bagaimana, Pak Dosen? Bagus, kan? Harganya juga bagus, cukup buat beli motor matic empat biji," cerocos Zea riang.
Dewa dengan sigap mengeluarkan kartu kreditnya, menyerahkannya pada pegawai toko. "Saya ambil yang ini. Tolong proses cepat."