مشاركة

30. Syarat

مؤلف: bluaeya
last update تاريخ النشر: 2026-07-30 19:32:02

“Aku tahu ayahku lebih baik daripada siapa pun, Bram. Kalau dia sudah mabuk dan panik, cuma aku yang bisa membuatnya mendengar.” Mata Evelyn menatap suaminya dengan penuh permohonan.

Bram menatap Evelyn tajam, rahangnya mengeras. Akhirnya ia menghela napas panjang, mengalah. “Jangan bicara banyak. Biarkan aku yang bicara dengan mereka. Kamu boleh mendekat kalau aku mengizinkan.”

Evelyn mengangguk tegas. “Aku cuma ingin memastikan Papa nggak membuat masalah lebih besar.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   31. Urusan

    Ruangan menjadi sunyi setelah pintu tertutup. Hanya menyisakan Bram, Evelyn, dan ayah Evelyn yang masih terduduk lemas di kursi, kepalanya tertunduk.“Terima kasih, Tuan.” bisik ayah Evelyn akhirnya, suaranya serak dan pecah. Air mata mulai mengalir di wajahnya penuh penyesalan. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku janji ini yang terakhir—”“Diam.” potong Bram tajam. Ia mendekati ayah Evelyn, lalu membungkukkan badannya hingga sejajar dengan wajah pria tua itu. “Aku nggak melunasi utangmu karena aku peduli padamu. Aku melakukannya karena setiap kali kau muncul dengan masalah baru, itu mencoreng nama yang sekarang disandang anakmu. Evelyn adalah Nyonya Wijaya sekarang. Namanya terhubung dengan keluargaku dan aku nggak akan membiarkan siapa pun merusak reputasi itu.”Ayah Evelyn menunduk lebih dalam, bahunya bergetar pelan, tangisnya tertahan di tenggorokan.“Malam ini, kau akan diantar pulang oleh sopirku.” lanjut Bram. “Mulai besok, kau

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   30. Syarat

    “Aku tahu ayahku lebih baik daripada siapa pun, Bram. Kalau dia sudah mabuk dan panik, cuma aku yang bisa membuatnya mendengar.” Mata Evelyn menatap suaminya dengan penuh permohonan.Bram menatap Evelyn tajam, rahangnya mengeras. Akhirnya ia menghela napas panjang, mengalah. “Jangan bicara banyak. Biarkan aku yang bicara dengan mereka. Kamu boleh mendekat kalau aku mengizinkan.”Evelyn mengangguk tegas. “Aku cuma ingin memastikan Papa nggak membuat masalah lebih besar.”Mereka berjalan cepat meninggalkan aula utama. Di balik pintu gerbang, suara teriakan terdengar.Evelyn bisa melihat ayahnya berdiri sempoyongan dikelilingi tiga pria berbadan besar.“Aku cuma mau ketemu anakku! Buka gerbang ini!” teriak Ayah Evelyn, suaranya serak.Salah satu pria memegangi lengan Ayah Evelyn, sementara dua lainnya menatap mansion dengan tatapan menghitung banyak uang yang bisa mereka peras malam ini.“Papa!” Evelyn berlari kecil mendeka

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   29. Masalah

    Di meja utama, Ibu Wijaya sudah duduk dengan anggun. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang merah dan matanya puas saat melihat kartu nama Sinta di sebelah kursi Bram.Bram menarik kursi di sebelahnya sendiri, menggeser kartu nama bertuliskan Sinta ke posisi lain ujung meja, menggantinya dengan kartu nama Evelyn yang ia ambil dari saku jasnya.Wajah Ibu Wijaya menegang, rahangnya mengeras, tapi ia tidak bisa protes di depan tamu-tamu yang sedang memperhatikan.“Duduklah.” kata Bram pada Evelyn, menarik kursi di sebelahnya.Evelyn duduk, jantungnya berdegup kencang melihat betapa mudahnya Bram mengabaikan rencana ibunya di depan umum.Ia merasakan kemenangan, tapi ia tidak membiarkan dirinya tersenyum lebar. Ia duduk anggun, mengangguk pada tamu di sekitarnya, dan mengambil gelas air di depannya.Sinta yang baru tiba di meja utama langsung membeku melihat susunan meja berubah. Matanya membulat berubah menjadi kemarahan. Ia

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   28. Berlian

    Di dalam ruang kerja, Bram berdiri di depan mejanya, sebuah kotak beludru hitam tergeletak di meja. Kotak itu berlogo toko perhiasan ternama.“Apa ini?” tanya Evelyn, menatap kotak itu curiga.“Buka.” perintah Bram singkat, tangannya di saku celana.Evelyn membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, sebuah kalung berlian dengan liontin bulan sabit di tengahnya.“Untuk gala. Kamu nggak bisa memakai perhiasan pinjaman lagi seperti saat pernikahan. Kamu istriku, dan harus memakai yang milikmu. Ini milikmu, Evelyn.” kata BramEvelyn menatap kalung itu, lalu menatap Bram dengan bingung. “Ini pasti sangat mahal, Bram. Aku nggak—”“Aku nggak ingin mendengar penolakan.” potong Bram, melangkah mendekat. “Ini bukan hadiah, ini investasi. Penampilanmu di gala nanti akan mencerminkan keluarga ini. Kalung pinjaman terlihat murahan kalau ada yang tahu, dan aku nggak mau ada yang bergosip bahwa Nyonya Besar Wijaya nggak punya perhiasan sendiri.”

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   27. Menolak

    Keesokan paginya, saat Evelyn baru saja selesai sarapan dan bersiap latihan etiket, suara mobil kembali terdengar di halaman.Mobil hitam Ibu Wijaya memasuki gerbang mansion, kali ini datang bersama dua orang penata acara profesional yang membawa map tebal.Ibu Wijaya melangkah masuk. Matanya langsung mencari Evelyn yang sedang duduk di ruang tengah.“Evelyn!” panggil Ibu Wijaya begitu masuk ke ruang tengah. “Aku sudah menyiapkan susunan meja final. Aku ingin kamu lihat dan setujui sekarang juga karena nggak ada waktu untuk perubahan lagi.”Evelyn mengangkat kepala. “Baik, Bu.”Ibu Wijaya membuka map besar di atas, mengeluarkan peta meja yang sudah dicetak berwarna. Jarinya menunjuk ke satu titik di sisi kanan peta. “Kau duduk di posisi kedua dari kanan, di antara Ibu Surya dan Pak Handoko.”Evelyn mengerutkan kening. “Kenapa bukan di sebelah Bram? Bukankah nyonya rumah duduk di samping tuan rumah? Itu protokol dasar dalam setiap

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   26. Tantangan

    Setelah suara mobil benar-benar menghilang di balik gerbang, Evelyn merosot ke sofa. Tangannya gemetar, pipinya masih perih, dan air mata mulai menetes, mengalir di pipi yang memerah.“Kamu gila menerima tantangan itu.” kata Bram, berdiri di depannya dengan tangan terlipat di dada.Evelyn mendongak, menatap suaminya dengan mata merah dan basah. “Aku nggak punya pilihan lain, Bram. Kamu lihat sendiri gimana dia menyerangku. Kalau aku menolak, dia akan bilang aku memang nggak pantas, dan semua yang sudah aku perjuangkan selama ini akan sia-sia.”“Gala amal ini bukan main-main, Evelyn.” Bram duduk di kursi seberangnya, bersandar ke belakang dengan ekspresi serius. “Satu kesalahan kecil bisa jadi gunjingan bertahun-tahun.”Evelyn mengusap pipinya. “Aku tahu, tapi kalau aku terus mundur setiap kali Ibu memberiku tantangan, aku nggak akan pernah dianggap. Aku sudah lelah menjadi bayangan, Bram. Aku harus membuktikan kalau aku lebih dari sekadar nama.”

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status