ANMELDENJika di dunia ini ada gelar laki-laki paling bahagia, maka aku adalah orangnya. Penantian panjang penuh perjuangan untuk memiliki wanita bernama Ayunina Maharani kini hampir berakhir.Hah, entah aku bermimpi apa semalam, hingga sekarang benar-benar bisa mengenakan pakaian pengantin dan siap menyandang status baru. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diganti oleh apa pun.Kutatap pantulan diriku lewat cermin. Kuletakkan tangan ini tepat di bagian hati. Menikmati rasa cinta yang kian meningkat berkali-kali lipat untuk satu anak manusia.Tuhan ... apa aku sudah gila? Padahal, aku belum resmi menjadi suaminya. Kenapa sekarang aku sudah merasa memiliki dia seutuhnya?"Papa!"Suara bocah yang selalu kurindu masuk pada pendengaran. Kuputar tubuh ini ke belakang hingga terlihat sosok cantik dan manis tengah berlari sembari mengangkat ujung gaunnya tinggi-tinggi."Halo, Princess."Cup!Satu kecupan kudaratkan di pipi calon putri sambungku ini. Sontak saja dia terkekeh lu
Malam ini begitu mendebarkan. Bukan hanya karena aku akan bertemu dengan keluarga Bas, tapi karena acara ini juga terjadi begitu cepat. Bayangkan saja, siang tadi Ibu tiba-tiba meminta pria itu datang tanpa menerima penolakan. Beruntung Bas yang memang tengah menunggu momen ini pun langsung bersedia untuk memboyong keluarganya."Wah, Mama cantik sekali!" Aiza berseru dari ambang pintu. Aku yang tengah mematut di depan cermin pun menoleh pada putriku. "Sini, Sayang!"Aiza mendekat, disusul oleh Risma yang muncul juga. Aiza mengitari tubuhku sembari memeriksa dress yang kukenakan. Ya, sebuah dress berwarna nude dengan lapisan brukat sederhana. Hah, aku ingin tertawa saat mengingat bagaimana perjuangan untuk mendapat dress ini.Siang tadi, aku bersama Risma langsung menuju butik untuk mencari dress yang akan aku kenakan. Namun, ketika sampai kami justru malah kebingungan. Bayangkan saja, harga dress paling murah di sana begitu jauh di atas budget yang kupunya. Alhasil, aku dan Risma me
Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Bahkan sudah kejelaskan berkali-kali pun Ibu tetap memandang rendah pada Bas."Pilihanmu itu selalu jelek, Yuni! Lihat pernikahanmu sama Bagus, nggak awet, kan? Itu karena dulu Ibu nggak setuju!" hardik Ibu.Kupejamkan mata ini untuk menahan emosi yang bergejolak. Setelah dirasa tenang, baru kembali kubuka untuk menatap pada Ibu. "Jangan samakan Bas sama Bas Bagus, Bu! Lagipula aku dan Mas Bagus pisah karena sudah nggak cocok lagi, bukan karena hal lain!" Ibu menatapku makin tajam. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh. "Terus! Bela saja terus! Nanti kalau rumah tanggamu kacau lagi, baru tahu rasa dan percaya omongan ibumu ini!"Aku diam, tak menyahut hingga Ibu keluar dari kamarku. Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan pada Bas?Tadi saat Ibu benar-benar tak bisa diajak bicara baik-baik, aku meminta Bas untuk pergi lebih dulu. Biar aku yang mengurus Ibu. Namun, nyatanya hingga ma
"Jangan pergi lagi, Yu. Jangan ...."Ucapan itu terus terngiang di kepalaku sepanjang perjalanan. Lihatlah, sebuah tangan kekar bahkan tak mau melepaskan genggaman sejak mobil ini melaju. "Kenapa lihat aku gitu? Makin ganteng, ya?"Aku hanya terkekeh menghadapi sikap Bas yang sudah berubah seperti semula setelah tadi sempat kacau. Namun, dengan cepat dia bisa mengendalikan perasaan hingga aku pun kembali tenang."Aku mau beli sesuatu untuk Aiza. Tapi, apa ya?" tanyanya."Nggak usah," larangku. "Lihat kamu saja Aiz pasti senang." Bahkan gadis kecil itu selalu menyebut nama Bas ketika hendak tidur. Entahlah apa yang membuat dia begitu jatuh cinta pada sosok Bas."Tapi aku mau kasih Aiz hadiah," tukas Bas. Dia menghentikan laju kendaraan tepat di sebuah toko mainan. Hem, aku tahu apa yang hendak dia beli untuk Aiza."Nggak mau ikut turun?" tanyanya dengan alis yang tertarik. Mungkin bingung karena aku hanya diam tanpa membuka pintu mobil.Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku d
Rasa panas menjalar di pipiku saat Bas bertanya seperti itu. Gejolak di dalam sana pun semakin kuat terasa. Tapi, tidak! Aku harus sadar jika Bas kali ini sudah berbeda.Kutepis tangan Bas yang masih memegang daguku hingga terlepas. Lalu, kutatap dia dengan tajam. "Jangan kurang ajar, Bas! Aku bukan perempuan yang bisa kamu mainkan!" Aku menekan setiap kata yang terucap. Bukannya apa, aku hanya ingin berhati-hati dan menjaga jarak dari pemuda ini."Sejak kapan aku mempermainkanmu? Kalau mau, dulu aku bisa diam-diam membongkar kamarmu. Aku bisa melakukan hal bodoh sesuka hatiku. Tapi, buktinya aku nggak melakukan itu, Ayu!" Bas membantah penuh penekanan, tapi masih dengan nada rendahnya."Aku nggak peduli! Intinya, mulai sekarang tolong jauhi aku, dan jangan lihatkan wajahmu lagi di depan aku dan putriku! Silakan urus hidup kamu dan kekasihmu, Bas!" Gegas aku beranjak dari atas sofa setelah mengatakan itu. Kubawa kaki ini melangkah menuju pintu. Namun, sial! Pintunya malah tak bisa di
Aku terkejut setengah mati. Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa sesak dan senang secara bersamaan saat bisa menatap pria tampan yang kini ada di hadapan.Ini ... bukan mimpi, kan?Laki-laki yang mengenakan setelan jas warna abu itu beranjak dari duduk. Kakinya melangkah perlahan seiring jantungku yang kian berdebar kencang. Semakin dekat langkahnya, maka bertambah beku tubuhku."Apa kabar?" tanyanya yang kini benar-benar ada di depanku dengan jarak yang sangat dekat.Aku sedikit mendongak dengan sudut mata yang mulai terasa panas. Lidah ini kelu. Mulut pun ikut terkunci rapat hingga hanya bisa terdiam sembari menatap wajah tampan yang masih sama.Jika saja tak ingat laki-laki ini sudah memiliki kekasih, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi istri, maka aku akan langsung memeluk erat tubuhnya untuk melepas rindu yang tertahan. Namun, aku tak bisa. Ada wanita lain yang lebih berhak atas dirinya.Kubawa pandangan ini menunduk setelah puas menatapnya. Kutarik napas dalam agar sesak di dada







