Home / Mafia / Dekapan Tuan Mafia / 27. Kabut Paranoia

Share

27. Kabut Paranoia

Author: Marfia Aphro
last update publish date: 2026-02-02 19:00:00

Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley.

Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kulit Jolina, menciptakan gelembung kedamaian yang sangat rapuh.

Felix masih bergumul mesra di balik selimut sutra, mendekap Jolina seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di duni
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Tuan Mafia   31. Bayang-bayang di Balik Loyalitas

    Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gala mewah itu, namun suasana di mansion Wesley tidak kunjung mencair. Bagi orang awam, mansion itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dengan penjagaan yang sempurna. Namun bagi Felix, setiap sudut rumahnya kini terasa seperti sarang ular.Anehnya, Oliver Benharg seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan balasan, tidak ada teror pesan singkat, bahkan tidak ada pergerakan dari anak buah Oliver di perbatasan wilayah. Felix tahu betul karakter Oliver, pria itu bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipukul hingga berdarah. Oliver sedang menunggu. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar, menunggu saat di mana Felix benar-benar merasa aman dan menurunkan pertahanannya.Dan yang paling membuat Felix tidak tenang adalah Vico. Selama satu minggu ini, tangan kanannya itu bekerja dengan sangat efisien, hampir terlalu sempurna. Vico tetap menunjukkan loyalitas tanpa cela, mengurus keamanan Jolina dengan ketat, dan bersikap seolah tida

  • Dekapan Tuan Mafia   30. Jejak yang Tertinggal

    Mansion Wesley berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan, tampak tenang namun menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Suara deru mesin SUV Felix perlahan mati, digantikan oleh kesunyian malam yang mencekam. Felix segera turun, ia tidak membiarkan Jolina menyentuh aspal. Dengan gerakan protektif yang begitu lembut, ia menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Jolina tidak memprotes. Kelelahan fisik dan trauma dari insiden di gala tadi benar-benar menguras energinya. Ia hanya menyandarkan kepala di dada Felix, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelabuhannya. Langkah kaki Felix menggema di koridor yang sunyi. Namun, meski fokusnya tertuju pada Jolina, mata elangnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling. Felix adalah pria yang tumbuh dalam dunia di mana dinding pun bisa memiliki telinga. Itulah sebabnya, ia memasang alat penyadap rahasia di titik-titik yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanannya sendiri. Saat melewati pilar besar deka

  • Dekapan Tuan Mafia   29. Bisikan Sang Pengkhianat

    Koridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."

  • Dekapan Tuan Mafia   28. Malam di Bawah Cahaya Crystal

    Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang tampak sangat kalut. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, membuang napas berat seolah-olah paru-parunya kekurangan oksigen. Kejadian "kue ulang tahun" tadi benar-benar menghancurkan harga diri Felix sebagai seorang Don. "Felix? Apa yang sebenarnya terjadi di luar?" tanya Jolina lembut, mendekat ke arah suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Felix menarik Jolina ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jolina. Bahunya sedikit bergetar. "Maafkan aku... aku hampir saja membuat kita semua dalam bahaya karena kebodohanku," bisik Felix parau. "Ada apa?"

  • Dekapan Tuan Mafia   27. Kabut Paranoia

    Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kulit Jolina, menciptakan gelembung kedamaian yang sangat rapuh.Felix masih bergumul mesra di balik selimut sutra, mendekap Jolina seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia yang fana ini. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik piyama Jolina, mengelus perut rata istrinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah kulit itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja."Aku masih tidak percaya," bisik Felix, suaranya serak khas orang bangun tidur. "Ada kehidupan di sini. Anakku."Jolina tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Felix, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu. "Aku juga, Felix. Tap

  • Dekapan Tuan Mafia   26. Rahasia Dibalik Janji

    Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil Vico. Ia duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya, namun matanya setajam belati. "Vico," panggil Felix tanpa menoleh. Vico mendekat, berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. "Iya, Tuan." "Dua hari ini kau tampak sibuk. Apa ada masalah dengan pengiriman di pelabuhan?" Felix bertanya dengan nada yang terdengar seperti obrolan ringan, namun ia memperhatikan pergerakan tangan Vico. "Semua terkendali, Tuan. Hanya beberapa kendala birokrasi kecil," jawab Vico tenang. "Begitukah?" Felix menoleh, menatap mata tangan kanannya itu. "Lalu kenapa ponselmu terus berdering bahkan di jam-jam saat kau seharusnya beristirahat? Siapa yang begitu gigih menghubungimu?" Vico terdiam sesaat. Ekspr

  • Dekapan Tuan Mafia   25. Retaknya Sebuah Kepercayaan

    Udara di dalam mansion Wesley terasa lebih berat daripada biasanya saat Jolina melangkah masuk melalui pintu utama. Ada kesunyian yang mencekam, seolah-olah dinding-dinding besar itu sedang menahan napas, menunggu sebuah ledakan yang tak terelakkan. Jolina mencoba mengatur napasnya yang tidak ber

  • Dekapan Tuan Mafia   24. Ancaman

    Pagi itu, kedamaian yang baru saja dirasakan Jolina di pelukan Felix seolah menguap begitu saja saat ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah ia blokir dari hidupnya selamanya. “Jolina, putriku yang cantik. Aku tahu kau sekar

  • Dekapan Tuan Mafia   23. Pengakuan

    Keheningan kembali merayap di ruang kerja rahasia itu setelah monitor menampilkan pesan ancaman dari Oliver. Sinyal merah yang berkedip-kedip seolah menjadi alarm bagi nyawa mereka, namun reaksi Felix sungguh di luar dugaan. Alih-alih melompat berdiri, menyiapkan senapan laras panjangnya, atau be

  • Dekapan Tuan Mafia   22. Penyatuan Di balik Pintu Baja (18+)

    Lampu temaram di ruang kerja rahasia itu seolah ikut memanas seiring dengan deru napas yang memenuhi udara. Felix menatap Jolina dengan tatapan yang membara, seolah sedang memuja dewi yang baru saja bangkit dari kematian. Tantangan Jolina tadi benar-benar meruntuhkan pertahanan te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status