LOGINLangit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley.
Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kulit Jolina, menciptakan gelembung kedamaian yang sangat rapuh.Felix masih bergumul mesra di balik selimut sutra, mendekap Jolina seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di duniLangkah kaki Jolina terasa sangat ringan namun tegas saat ia menyusuri koridor mansion yang remang-remang. Suasana malam itu benar-benar sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding kuno yang bergaung di sepanjang lorong. Alih-alih mematuhi perintah Felix untuk tetap diam dan mengunci diri di dalam kamar utama, dorongan di dalam dada Jolina jauh lebih kuat. Logikanya berteriak bahwa Felix sedang berada di titik terrapuhnya, dan sebagai seorang istri, dia tidak bisa membiarkan suaminya menghadapi kegelapan itu sendirian. Jolina berjalan menuju ujung lorong lantai bawah tanah, tempat di mana sebuah pintu kayu ek yang tebal dan berat berdiri dengan kokoh. Itu adalah ruang kerja rahasia milik Felix, sebuah tempat yang jarang dimasuki oleh siapa pun kecuali The Ghost untuk urusan mendesak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Jolina mendorong pintu tersebut secara perlahan. Ruangan itu sangat luas, namun hanya diterangi oleh sebuah lampu meja tunggal bersorot kuning temaram di sudut
Deru mesin mobil sedan Vico perlahan mati di halaman depan, menyisakan keheningan malam yang kembali mencekam. Dari balik jendela ruang kerjanya yang gelap, Felix menyaksikan siluet tangan kanannya itu turun dari mobil dengan langkah kaki yang sengaja dibuat tenang. Felix menyunggingkan senyum tipis, sebuah seringai dingin penuh cemooh. Vico baru saja kembali dari sarang serigala, membawa narasi palsu yang siap menghancurkan mansion ini. Felix membalikkan tubuhnya. Di tangannya, selembar foto usang yang ia ambil dari kamar tadi sore masih tergenggam erat. Pria bernama Addison di sudut foto itu, rahasia pengkhianatan Vico, dan keterlibatan Roberson, semuanya bertumpuk di kepala Felix, menciptakan badai senyap yang mematikan. Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor panjang yang sepi menuju kamar utama. Felix sengaja tidak ingin menemui Vico malam ini. Ia butuh menata taktiknya, dan yang paling penting, ia harus melihat wanita yang kini menjadi pusat dari seluruh pusar
Mansion Wesley tampak begitu tenang dari luar, seolah-olah dilapisi oleh kedamaian tiruan. Di dalam ruang kerja pribadinya yang terkunci rapat, Felix duduk tegap di balik meja mahoni. Ruangan itu gulita, hanya diterangi oleh pendar redup dari layar laptop dan sebuah perangkat audio frekuensi tinggi yang terhubung langsung dengan intel rahasianya di lapangan. Felix mengenakan sepasang headphone hitam. Di dalam benda itu, suara bising dari distrik kumuh terdengar samar, suara derit pintu tua, langkah kaki, hingga akhirnya gema percakapan tiga orang yang sangat ia kenal terdengar begitu jernih berkat alat penyadap yang berhasil ditanam oleh intelnya di rumah tua tersebut. Setiap kata yang keluar dari mulut Vico, Oliver, dan Roberson mengalir masuk ke dalam rungu Felix. Awalnya, rahang Felix mengeras saat mendengar keangkuhan Vico yang meremehkan dirinya dan Jolina. Namun, ketika percakapan itu beralih pada nama sebuah sosok yang asing namun terasa dekat... seluruh dunia Felix seaka
Matahari baru saja menggelincir ke ufuk barat ketika Felix kembali masuk ke dalam mansion Wesley dengan wajah yang dipenuhi teka-teki baru. Di koridor lantai dua, Vico memastikan Don-nya itu sudah benar-benar aman dan teralih perhatiannya di dalam kamar utama bersama Jolina. Setelah merasa situasinya aman, Vico memberikan isyarat mata kepada salah satu pengawal bawahannya untuk mengambil alih pos penjagaan. Topeng kepatuhannya langsung tanggal begitu ia melangkah keluar dari gerbang luar mansion. Dengan gerakan yang senyap dan tak memancing kecurigaan, Vico memacu mobil sedannya membelah jalanan kota yang mulai meremang, menuju ke satu tempat yang paling ia hindari namun kini menjadi pusat poros takdirnya: distrik kumuh di pinggiran kota. Malam telah sepenuhnya jatuh ketika Vico memarkirkan mobilnya beberapa blok dari lokasi. Ia berjalan kaki menembus gang-gang sempit yang gelap, lembap, dan berbau bacin dari tumpukan sampah yang membusuk. Di ujung gang buntu yang nyaris tak ter
Kamar utama mansion malam itu terasa begitu sepi ketika Felix melangkah masuk. Keheningan yang menyambutnya terasa berbeda, bukan ketenangan yang menenangkan, melainkan jenis sunyi yang menyimpan banyak rahasia terpendam. Felix melepaskan jam tangan dan jas hitamnya, menyisakan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang, di mana Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Di dekat tangan Jolina, sebuah buku tebal mengenai ilmu genetika dasar tergeletak terbuka. Jolina tampak sedang melamun, menatap kosong ke arah jendela balkon yang tertutup tirai tipis. Ia berusaha bersikap senormal mungkin saat mendengar langkah kaki Felix, persis seperti yang suaminya minta demi menjaga keamanan mereka. Namun, bagi seorang Don yang terbiasa membaca gerak-gerik musuh, Felix bisa merasakan ada riak kecemasan yang coba disembunyikan oleh istrinya. Felix berjalan mendekat, lalu duduk di te
Ketegangan di mansion Wesley pasca-malam interogasi itu tidak lantas menguap begitu saja. Alih-alih mereda, atmosfer di dalam rumah mewah itu justru terasa kian mencekam, seolah-olah seluruh penghuninya sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis. Felix masih disibukkan dengan urusan luar dan investigasi sunyinya, sementara Vico semakin pandai menyembunyikan keangkuhannya di balik topeng kepatuhan yang dingin.Di tengah pusaran ketidakpastian itu, Jolina merasa otaknya butuh dialihkan. Rasa cemas yang terus-menerus mengintai jelas tidak baik untuk kesehatan janin di dalam kandungannya. Setelah makan malam yang sunyi dan larut, Jolina memilih untuk melangkah keluar dari kamar utama. Ia tidak berniat mencari Felix, melainkan mengarahkan langkah kakinya menuju perpustakaan pribadi mansion.Perpustakaan itu adalah salah satu ruangan terbesar di rumah ini, dipenuhi dengan rak-rak kayu ek setinggi langit-langit yang menyimpan ribuan jilid buku dari
Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menus
Keamanan di kediaman Felix Wesley kini berubah menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus. Kejadian kamera pengintai di rumah sakit tempo hari telah menyulut api kemarahan sekaligus kecurigaan yang luar biasa di dalam diri Felix. Ia tidak lagi bisa mempercayai bayangannya sendi
Mansion keluarga Benharg berdiri angkuh di atas perbukitan, sebuah monumen kemegahan yang dibangun di atas tumpukan rahasia dan pilih kasih. Namun, bagi Felix, setiap jengkal tanah di sini adalah pengingat akan luka lama yang tak pernah mengering. Ia melangkah masuk seorang diri, tanpa pengawal d
Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciuman Felix, menciptakan suasana dingin yang sangat ia benci. Di depannya, di atas bangsal putih yang tampak terlalu keras bagi tubuhnya yang mungil, Jolina terbaring tak berdaya. Wajahnya yang pucat hampir sewarna dengan sprei rumah







