LOGINKesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya.
Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang tampak sangat kalut. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, membuang napas berat seolah-olah paru-parunya kekurangan oksigen. Kejadian "kue ulang tahun" tadi benar-benar mKoridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."
Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang tampak sangat kalut. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, membuang napas berat seolah-olah paru-parunya kekurangan oksigen. Kejadian "kue ulang tahun" tadi benar-benar menghancurkan harga diri Felix sebagai seorang Don. "Felix? Apa yang sebenarnya terjadi di luar?" tanya Jolina lembut, mendekat ke arah suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Felix menarik Jolina ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jolina. Bahunya sedikit bergetar. "Maafkan aku... aku hampir saja membuat kita semua dalam bahaya karena kebodohanku," bisik Felix parau. "Ada apa?"
Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kulit Jolina, menciptakan gelembung kedamaian yang sangat rapuh.Felix masih bergumul mesra di balik selimut sutra, mendekap Jolina seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia yang fana ini. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik piyama Jolina, mengelus perut rata istrinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah kulit itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja."Aku masih tidak percaya," bisik Felix, suaranya serak khas orang bangun tidur. "Ada kehidupan di sini. Anakku."Jolina tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Felix, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu. "Aku juga, Felix. Tap
Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil Vico. Ia duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya, namun matanya setajam belati. "Vico," panggil Felix tanpa menoleh. Vico mendekat, berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. "Iya, Tuan." "Dua hari ini kau tampak sibuk. Apa ada masalah dengan pengiriman di pelabuhan?" Felix bertanya dengan nada yang terdengar seperti obrolan ringan, namun ia memperhatikan pergerakan tangan Vico. "Semua terkendali, Tuan. Hanya beberapa kendala birokrasi kecil," jawab Vico tenang. "Begitukah?" Felix menoleh, menatap mata tangan kanannya itu. "Lalu kenapa ponselmu terus berdering bahkan di jam-jam saat kau seharusnya beristirahat? Siapa yang begitu gigih menghubungimu?" Vico terdiam sesaat. Ekspr
Udara di dalam mansion Wesley terasa lebih berat daripada biasanya saat Jolina melangkah masuk melalui pintu utama. Ada kesunyian yang mencekam, seolah-olah dinding-dinding besar itu sedang menahan napas, menunggu sebuah ledakan yang tak terelakkan. Jolina mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, berusaha tampil setenang mungkin seolah ia baru saja kembali dari jalan-jalan sore yang biasa. Di ujung koridor, Felix berdiri membelakanginya, menatap ke arah taman melalui jendela besar. Sosoknya yang tinggi dan tegap tampak seperti patung batu yang dingin. Begitu mendengar langkah kaki Jolina, Felix berbalik perlahan. Ekspresi wajahnya datar, terlalu datar, hingga Jolina bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. "Dari mana kau, Jolina?" suara Felix terdengar tenang, namun ada getaran rendah yang mengancam di sana. "Kenapa kau pergi tanpa meminta izin atau setidaknya memberitahuku?" Jolina menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya. Di pikirannya, ia s
Pagi itu, kedamaian yang baru saja dirasakan Jolina di pelukan Felix seolah menguap begitu saja saat ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah ia blokir dari hidupnya selamanya. “Jolina, putriku yang cantik. Aku tahu kau sekarang hidup bak ratu di mansion Wesley. Jangan jadi anak durhaka. Felix punya uang yang tak berseri, mintalah padanya sepuluh juta dolar untukku. Atau aku akan membocorkan rahasia kecilmu pada dunia.” Jolina melempar ponselnya ke atas kasur dengan tangan gemetar. Roberson. Ayahnya itu tidak pernah berubah. Bahkan setelah menjual anaknya sendiri seperti barang dagangan, ia masih merasa memiliki hak atas hidup Jolina. Jolina mengabaikan pesan itu, mencoba fokus pada sarapannya, namun ponselnya kembali bergetar. Pesan demi pesan masuk, semakin memaksa, semakin kasar, dan penuh ancaman yang mulai mengusik ketenangan jiwanya. Ketakutan Jolina bukan pada ancaman ayahnya, melainkan pada kemungkin







