Home / Romansa / Marinne's Wedding / Bab 5 - Tuan Putri Di Tengah Bayangan

Share

Bab 5 - Tuan Putri Di Tengah Bayangan

last update Last Updated: 2025-10-30 11:00:17

Baru saja tiba di Ruthven Wine, Anshel langsung meminta Philippe memberhentikan istrinya dari jabatannya.

“Philippe, jangan dengarkan dia!” seru Fleur dengan nada tinggi.

Philippe menatap keduanya bergantian lalu tertawa kecil.

“Baiklah, anggap saja ini hanya lelucon.”

Namun Anshel menatapnya serius.

“Aku tidak sedang bercanda. Aku ingin istriku bekerja bersamaku.”

Nada Philippe berubah.

“Baiklah, kita bicarakan di dalam.”

“Maaf, ini sudah siang. Aku ada rapat lain. Lain kali saja kita lanjutkan.”

Anshel mengalihkan pandangan pada istrinya.

“Fleur, aku sudah menyampaikan yang ingin kukatakan. Tolong pikirkan permintaanku.”

Tanpa di duga Anshel mencium bibir Fleur di depan mereka, membuat Fleur terdiam tak berdaya.

Philippe dan Pamela menutup mulut, terkejut melihat aksi adik iparnya, sementara Smith hanya bisa ternganga.

“Aku berangkat dulu ke kantor, sayang.”

Anshel pun pergi, diam-diam tersenyum puas karena berhasil mencuri ciuman dari istrinya.

Fleur menggertakkan giginya, dadanya berdebar tak karuan. Sentuhan Anshel masih terasa di kulitnya, membuatnya terhenti sejenak, sadar betapa dekat mereka tadi. Ia menatap bayangan suaminya yang menjauh, tubuhnya seolah menuntut lebih meski akal menolak.

Ruthven bersaudara kembali bekerja, namun Fleur tak mampu fokus. Ia akhirnya masuk ke ruang Philippe.

“Philippe, apa kau akan mengabulkan permintaannya?”

Philippe menutup berkas di tangannya dan menatap adiknya.

“Aku tidak akan keluar dari perusahaan kita,” kata Fleur tegas.

Philippe menggenggam tangannya di atas meja.

“Tidak. Aku akan memenuhi keinginannya.”

“Philippe!” seru Fleur, suaranya meninggi.

Kakaknya tetap tenang, tapi tajam.

“Untuk sementara, aku ingin kau bekerja di perusahaan suamimu.”

Fleur berdiri, menatapnya kecewa, lalu menutup pintu dengan agak keras.

Di ruangannya, ia mencoba menelpon Anshel, namun tidak diangkat.

Sementara itu, Anshel tengah memimpin rapat di Noblecrest Global, kerajaan bisnis milik keluarga Noble, perusahaan raksasa yang mengendalikan kekuatan finansial, teknologi, dan logistik di banyak negara.

Dari luar tampak megah, namun di baliknya mengalir rahasia dan ambisi yang bisa menelan siapa pun.

Pamela masuk ke ruangan Fleur dengan wajah penasaran.

“Aku cukup kaget dengan permintaan suamimu pagi ini,” katanya sambil duduk di depan meja.

Fleur cemberut.

“Aku juga.”

“Pamela, aku ingin bercerai dengannya dan fokus di perusahaan Ayah,” ucap Fleur pelan tapi pasti.

Pamela mengangguk ringan.

“Aku setuju kau tetap di sini. Aku ingin selalu dekat denganmu. Tapi… aku tidak akan membiarkan kalian bercerai.”

“Pamela!” protes Fleur kesal.

Pamela tersenyum kecil.

“Tapi bukankah dulu kau sendiri yang bilang ingin bekerja di perusahaan teknologi?”

Fleur menunduk, memberi alasan bahwa bekerja di Ruthven Wine juga membuatnya bisa menyalurkan ilmunya.

Tak lama, Smith mengetuk pintu dan masuk.

“Kalian membicarakan apa?”

Pamela menyeringai.

“Kau, tentu saja. Smith, apakah kau tidak pernah jatuh cinta padanya?”

“Kau ini! Kami ini sahabat baik. Mana mungkin aku jatuh cinta padanya?” jawab Smith tergelak.

Fleur menatapnya setengah menggoda.

“Smith, seharusnya kau yang menikahiku.”

Smith terkekeh. “Tanpa cinta?”

“Aku juga menikah dengannya tanpa melibatkan perasaan,” gumam Fleur sambil merengut.

Pamela menepuk meja pelan.

“Sudahlah. Ayo kembali bekerja!”

Ketiganya tertawa kecil sebelum beranjak ke ruangan masing-masing.

Tiga minggu berlalu. Fleur belum juga pulang ke rumah Anshel.

Malam itu, Anshel meneleponnya.

“Fleur, apa aku harus menyeretmu agar pulang?”

“Tidak perlu. Jangan memperdulikanku lagi. Aku ingin kita berpisah,” jawab Fleur dingin.

Anshel mendengus, lalu menyingkap tirai, menatap kota dari balik kaca.

“Baiklah. Ini belum terlalu larut. Aku akan menjemputmu.”

“Kalau kau memaksaku, aku akan bunuh diri!”

Anshel tertawa kecil.

“Silakan, Fleur. Media akan memberitakan: Putri bungsu keluarga Ruthven nekad menghilangkan nyawanya sendiri karena Depresi setelah kehilangan ayahnya.”

“Anshel!”

Fleur menjerit, lalu mematikan ponselnya. Ia berlari mengunci kamar, memeriksa jendela, lalu menutup mata dengan penutup tidur.

Sementara itu, Philippe berbicara dengan Dokter Leander di ruang kerja almarhum ayahnya.

Ruang kerja Wesley Ruthven masih berbau anggur dan kayu tua. Philippe berdiri di dekat jendela saat Dokter Leander datang membawa map cokelat di tangannya.

“Sesuai hasil uji laboratorium, kematian ayahmu disebabkan oleh racun Thallium,” ujar Leander perlahan.

Philippe memejamkan mata. Ia sudah menduga, tapi mendengar kata itu keluar dari mulut sang dokter terasa seperti hantaman batu.

“Beberapa hari lalu aku memeriksa CCTV. Tak ada yang mencurigakan,” katanya pelan.

Leander menatap kertas itu, lalu bergumam, “Tapi… ini bukan Wine yang produksi perusahaan kalian.”

“Apa?” Philippe spontan menoleh.

Leander mengangguk, suaranya menurun. “Kita perlu tahu dari mana botol itu berasal. Bisa jadi seseorang sengaja menaruh racun di dalamnya. Bisa kau panggil Clement?”

Philippe menekan interkom, meminta Emma memanggil sang sopir. Tak lama Clement masuk, wajahnya tegang.

“Dokter Leander menanyakan botol sisa wine waktu itu,” kata Philippe.

Flashback: Pagi itu setelah Dokter Leander memastikan Tuan Wesley sudah meninggal, ia langsung mengenakan sarung tangan, memasukkan botol wine ke plastik bening, dan mengambil sampel dari gelas serta sehelai rambut korban.

Clement melangkah. Ia menunduk lalu membuka lemari bawah meja kerja majikannya dan mengeluarkan botol yang terbungkus rapi, kemudian menyerahkannya pada sang dokter.

“Terima kasih, Clement. Kau boleh pergi.”

Begitu pintu tertutup, Philippe menatap botol itu lama.

“Apakah Ayah mendapatkannya dari partner bisnis?” gumamnya lirih.

Leander menggeleng. “Tugasmu sekarang mencari tahu dari mana botol ini berasal.”

Saat hendak pergi, Philippe sempat bertanya, “Apakah hanya kita berdua yang tahu soal ini?”

“Tidak. Clement tahu aku mengambil sampel dari gelas, tapi tidak tahu hasilnya. Tenang saja, ia bisa dipercaya. Lagipula publik sudah menerima kabar resmi kalau ayahmu meninggal karena serangan jantung.”

Philippe menatap ke arah potret besar ayahnya di dinding, memandangi nya dengan iba.

“Aku akan menyelidikinya diam-diam,” ujarnya datar.

Leander menatapnya sejenak. “Aku akan segera menyerahkan bukti ini ke pihak berwajib. Tapi kau tahu, Philippe... racun ini bukan hal yang bisa ditemukan sembarangan.”

Philippe mengepalkan tangan. “Aku akan menemukan siapa yang membunuh Ayahku.”

Dokter itu menepuk pundaknya lalu pergi.

Beberapa hari kemudian, Anshel datang ke kediaman mereka di Estate Ruthven. Mereka berempat mengobrol di ruang keluarga.

“Philippe, bagaimana keputusanmu?”

Philippe menarik napas panjang.

“Aku tidak keberatan. Kau suaminya. Tapi aku tidak ingin memaksanya, Fleur kau boleh pindah jika itu keinginanmu.”

“Keputusanku sama. Aku menolak,” kata Fleur tegas.

Anshel tertawa kecil.

“Fleur, bukankah kau suka mengutak-atik komputerku? Bagaimana kalau kau bergabung di Noblecrest Systems?”

Pamela dan Philippe saling pandang, terkejut, karena adiknya seusil itu.

“Tuan Anshel, sebaiknya Anda pulang saja,” kata Philippe menahan nada tegas.

“Kau sudah lama meninggalkan rumah, Fleur. Apa kau ingin kalau sampai Nenek tahu?” Anshel mendekat.

“Sudah lama juga kau tak menjenguk Ayahmu. Mari kita ke sana.”

“Anshel, aku tidak mau!”

Anshel menarik napas panjang.

“Baiklah Tuan Putri,”

Lalu ia berdiri dan melangkah mendekati istrinya.

“Philippe, Pamela, maaf. Aku tak punya pilihan lain. Aku merindukannya.”

Dan tanpa memberi waktu, Anshel mengangkat tubuh Fleur begitu saja di pundaknya.

“Philippe! Pamela! Tolong aku!” teriak Fleur, memukuli punggung suaminya.

Namun kedua kakaknya hanya tertawa, melihat adegan menggelikan itu di tengah ketegangan.

Anshel terus melangkah pergi, membawa Fleur seperti karung beras.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Marinne's Wedding   Bab 10 - Lidah Tajam

    Anshel mengeluarkan handphone dan menunjukkan sebuah berita. Fleur membacanya. “Kenapa beritanya menjelek-jelekanku? Harusnya mereka memberitakanmu, dengan simpananmu.” Diduga rumah tangga Anshel Robinson Noble dan istrinya, Princetta Fleur Ruthven, sudah tidak harmonis. Mereka jarang terlihat bersama di depan publik, dan dari beberapa foto yang beredar, Fleur tampak sangat dingin terhadap suaminya. Fleur mendengus. Tatapan Anshel langsung mengeras. Ia menarik Fleur ke ranjang, memaksa wajah mereka begitu dekat. Fleur refleks mengalihkan pandangan, tapi Anshel menahan dagunya dengan kuat. “Jangan memancing kemarahanku, Fleur,” desisnya. “Ini ulahmu yang keras kepala. Seharusnya kau tetap di sisiku, ke mana pun aku pergi.” Anshel mendekat ke telinganya. Fleur bisa merasakan napasnya sebelum giginya menyentuh kulit itu. “…termasuk di tempat tidur, bukan?”

  • Marinne's Wedding   Bab 9 - Reputasi Keluarga Robinson

    Fleur menahan napas di balik rak server, menunggu suara langkah itu menjauh. Setelah yakin area aman, ia keluar perlahan, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan kuat mencengkeram lengannya dan membantingnya ke dinding. Dingin logam pistol menempel di pelipisnya. “Siapa kau?!” Suara itu dalam, tenang, terlalu tenang untuk orang yang panik. Jantung Fleur berdetak hebat karena terkejut, lalu ia mulai menenangkan diri. “Aku—” “Jangan bergerak. Ini zona terbatas. Bagaimana kau bisa masuk?” Fleur bisa merasakan kesigapan militer dari caranya menahan posisi. Tidak gemetar. Tidak ragu. “Hanz, tahan!” seru Benjamin dari pintu. “Ini istri Tuan Anshel!” Serentak, ia me

  • Marinne's Wedding   Bab 8 - Log Terlarang

    Fleur dan Anshel sedang bertengkar di kantor Noblecrest Systems. Fleur menutup telinganya, mencoba menahan kebosanan sekaligus amarah, tapi setiap kata yang diucapkan Anshel tentang masa lalunya membuat dadanya semakin sesak. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Aku akan mengembalikan semua uang itu padamu,” katanya dengan suara bergetar tapi tegas. “Aku menyetujui kesepakatan awal, dan seharusnya kita segera mengakhiri pernikahan sialan ini, Tuan Anshel.” Anshel menatapnya lama, senyum tipisnya seperti pisau. “Oh ya?” bisiknya. “Sayangnya, Ayahmu sudah memberimu padaku sepenuhnya, Fleur.” Fleur menatapnya dengan mata membara. Rasa marah bercampur kecewa, membakar dari dalam. Tanpa sadar ia melangkah mendekat dan menarik kerah suaminya. Bibirnya bergetar saat bicara.

  • Marinne's Wedding   Bab 7 - Obrolan di Queen Tea Rooms

    Fleur sedang mengobati mata Anshel yang kesakitan karena kena tinjunya. Tapi ia melihat samar merah di lehernya, ia meyakini kalau Anshel telah bercumbu dengan kekasihnya, hingga membuatnya tersulut amarah. Ia menyuruh Anshel mengobatinya sendiri. Ketika Fleur hendak pergi, Anshel menarik pinggang Fleur hingga ia terduduk di pangkuannya. Anshel juga sempat melihat lehernya yang merah di cermin dan ia tidak membiarkan Fleur pergi saat mencoba membebaskan diri. “Fleur, apa kau cemburu?” Fleur menyipitkan matanya. “Kau tahu kau itu menjijikan, kau punya istri tapi masih tidur dengan wanita lain?” Anshel menyeringai. “Jadi kau mau melayaniku?” Fleur panik, dan gugup. “Bu.. Bukan seperti itu maksudku?” desisnya. Anshel berdiri sambil me

  • Marinne's Wedding   Bab 6 - Hadiah Dari Fleur

    “Philippe! Pamela! Tolong aku!” teriak Fleur sambil memukuli punggung suaminya.Namun kedua kakaknya hanya tertawa, menikmati pemandangan yang menggelikan di tengah ketegangan itu.Anshel terus melangkah pergi, membawa Fleur seperti karung beras.Setiba di rumah, Fleur langsung menuju kamar, tapi Anshel mengikutinya dari belakang. Saat ia hendak menutup pintu, Anshel menahannya dengan tangan.“Aku ingin bicara denganmu,” katanya datar.Fleur menolak, tapi ia mendorong pintu lebih keras dan tiduran di ranjang.“Fleur… aku akan tidur di sini,” ucapnya.Fleur menautkan alisnya. “Benarkah? Kau yakin?”Anshel mengangguk dan tersenyum manis.Fleur membalas senyumannya. “Silakan saja. Tapi aku akan tidur di kamar sebelah.”Anshel tertawa kecil, seolah meledeknya, lalu duduk tegap di tepi ranjang.“Fleur, ini perintahku, bukan tawaran. Berhentilah bekerja di perusahaan ayahmu dan bekerjalah di

  • Marinne's Wedding   Bab 5 - Tuan Putri Di Tengah Bayangan

    Baru saja tiba di Ruthven Wine, Anshel langsung meminta Philippe memberhentikan istrinya dari jabatannya. “Philippe, jangan dengarkan dia!” seru Fleur dengan nada tinggi. Philippe menatap keduanya bergantian lalu tertawa kecil. “Baiklah, anggap saja ini hanya lelucon.” Namun Anshel menatapnya serius. “Aku tidak sedang bercanda. Aku ingin istriku bekerja bersamaku.” Nada Philippe berubah. “Baiklah, kita bicarakan di dalam.” “Maaf, ini sudah siang. Aku ada rapat lain. Lain kali saja kita lanjutkan.” Anshel mengalihkan pandangan pada istrinya. “Fleur, aku sudah menyampaikan yang ingin kukatakan. Tolong pikirkan permintaanku.”Tanpa di duga Anshel mencium bibir Fleur di depan mereka, membuat Fleur terdiam tak berdaya.Philippe dan Pamela menutup mulut, terkejut melihat aksi adik iparnya, sementara Smith hanya bisa ternganga.“Aku berangkat dulu ke kantor, sayang.”Anshel pun pergi, diam-diam tersenyum puas karena berhasil mencuri ciuman dari istrinya.Fleur menggertakk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status