Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 94 — Kriteria pria yang layak.

Share

Bab 94 — Kriteria pria yang layak.

Author: Za_dibah
last update Last Updated: 2026-02-19 13:37:26

Jantungku berdetak keras.

Itu bukan janji manis.

Itu ancaman.

Air mata yang sejak tadi bertahan akhirnya jatuh.

“Aku tidak mau dilindungi seperti ini,” bisikku. “Aku tidak mau hidup dengan leher terikat tali emas.”

Dominic tidak bergerak.

"Aku belum mengenal Lukas Kaiser Vance, aku bahkan tidak tahu dia pria seperti apa selain dari kertas-kertas formal itu. Pendidikan. Gelar. Reputasi. Semua sempurna. Tapi aku tidak tahu siapa dia sebagai manusia.”

“Dia stabil,” jawab Dominic.

“Stabil bukan be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 94 — Kriteria pria yang layak.

    Jantungku berdetak keras.Itu bukan janji manis.Itu ancaman.Air mata yang sejak tadi bertahan akhirnya jatuh.“Aku tidak mau dilindungi seperti ini,” bisikku. “Aku tidak mau hidup dengan leher terikat tali emas.”Dominic tidak bergerak. "Aku belum mengenal Lukas Kaiser Vance, aku bahkan tidak tahu dia pria seperti apa selain dari kertas-kertas formal itu. Pendidikan. Gelar. Reputasi. Semua sempurna. Tapi aku tidak tahu siapa dia sebagai manusia.”“Dia stabil,” jawab Dominic.“Stabil bukan berarti baik.”“Dia legal. Sistematis. Tidak emosional,” jelas Dominic.“Dan kau pikir aku ingin menikahinya?”Hening.Aku mengusap air mataku kasar."Kenapa Ayah repot-repot menjodohkanku? Padahal kalian berdua, putra-putranya, yang seharusnya dijodohkan terlebih dahulu untuk aliansi bisnis, bukan aku!" ​Dominic mengeratkan rahangnya. Kilat aneh melintas di matanya, sesuatu yang gelap, haus, dan penuh rahasia. ​"Kami?" Dominic mendengus dingin. "Aku dan Matteo menginginkan wanita yang sama, Nad

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 93 — Perlindungan dibalik pengendalian.

    ​Aku baru saja menyisipkan dokumen tentang Lukas Kaiser Vance ke bawah bantal ketika suara derit pintu terdengar. Tanpa ketukan, tanpa izin. Di rumah ini, privasi adalah kemewahan yang tidak pernah diberikan kepadaku.Pintu terbuka perlahan.Dominic melangkah masuk.Ia tidak pernah terburu-buru. Tidak pernah ragu. Setiap langkahnya terukur, seperti pria yang tahu dunia akan memberi jalan tanpa perlu ia minta.Cahaya lampu lorong membingkai tubuhnya yang tinggi dan kokoh. Bayangannya memanjang di lantai, menyentuh kakiku yang masih terlipat di atas tempat tidur. Ia tidak datang dengan tangan kosong; sebuah nampan berisi makan malam mewah, yang tadi gagal kunikmati karena amukan Matteo yang menghancurkan suasana ruang makan, berada di tangannya.Steak setengah matang, saus lada hitam, kentang panggang, segelas wine merah tua yang mengilap di bawah cahaya.Aroma steak dan wine mahal menguar, namun bagiku, itu tercium seperti suap untuk seorang narapidana. ​Aku menghela napas panjang

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 92 — Data Lukas Kaiser Vance

    Aku membuka pintu sedikit, hanya menyisakan celah sempit. Ren berdiri tegak di sana. Wajahnya tetap datar, seolah ia terbuat dari batu yang sama dengan fondasi mansion ini, tetapi matanya memancarkan keseriusan yang tidak bisa ia sembunyikan. “Dari Tuan Hans,” katanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan angin. Ia menyerahkan sebuah amplop hitam pekat, warna yang selalu membawa kabar buruk di rumah ini. “Data tentang Tuan Lukas.” Aku menerima amplop itu, namun jemariku tertahan di permukaannya yang halus. “Kenapa kau memberikannya padaku?” tanyaku dengan nada curiga. “Karena Anda berhak tahu siapa yang akan berdiri di hadapan Anda minggu depan. Ini perintah lagsung dari Tuan Sebastian.” Kalimat itu terasa seperti peringatan. Bukan sebuah pemberian tulus, melainkan instruksi agar mangsa mengenal siapa pemburu yang akan datang. ​Cklek. Pintu kamarku tertutup rapat kembali. Aku masih bersandar di baliknya, membiarkan kayu dingin itu menyangga punggungku yang rapuh. D

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 91 — Empat pria.

    Pecahan kaca berhamburan ke segala arah, mengenai kaki meja dan beberapa percikannya memantul ke dekat kakiku. Cairan merah tua itu merembes di atas karpet, terlihat seperti luka yang menganga. ​“Nadine bukan pion dalam permainan catur!” teriak Matteo frustrasi. ​Dominic menoleh pada adiknya, tatapannya datar namun tajam. “Semua orang di meja ini adalah pion, Matteo. Termasuk kau. Termasuk aku.” ​Matteo menatap Dominic dengan benci. “Aku tidak akan menyerahkannya padanya. Tidak pada pria Vance itu, tidak juga pada Miller.” ​“Kau tidak punya kuasa politik untuk menentukan itu,” balas Dominic dingin. ​“Aku tidak butuh politik. Aku punya peluru,” desis Matteo. ​Suasana di antara mereka berdua berubah seketika. Dari amarah bersama terhadap ayah mereka, kini menjadi ancaman terbuka satu sama lain. Aku merasa seperti berada di tengah-tengah dua badai yang siap bertabrakan. ​Aku berdiri perlahan, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhku. “Cukup,” suaranya nyaris retak,

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 90 — Keputusan final Sebastian.

    Hening.​Hanya suara ombak dari speaker yang terdengar.Dominic menatap lurus ke layar, rahangnya mengeras seolah ia sedang menahan beban ribuan ton.​“Jawab dia, Ayah,” desis Dominic.​Sebastian menghela napas ringan, sebuah gestur meremehkan seolah aku adalah anak kecil yang baru saja menanyakan hal bodoh tentang dunia.“Hak memilih datang bersama kebebasan, Nadine. Dan kebebasan bukan sesuatu yang kita miliki. Kebebasan adalah dongeng untuk orang-orang lemah di luar sana.”​Jawaban itu seperti tamparan yang sangat pelan namun mendarat tepat di titik paling rapuh di jiwaku.​“Lukas akan menjadi perisaimu,” kata Sebastian lagi, seolah itu adalah berkah.​“Perisai… atau penjara baru?” bisikku pelan, menatap pantulan diriku yang hancur di sendok perak di atas meja.​Matteo menoleh cepat padaku, matanya berkilat penuh emosi yang campur aduk, amarah, posesif, dan... sesuatu yang mirip dengan rasa sakit.​Dominic menggeser sedikit posisinya, berdiri tegap di kepala meja. “Lukas boleh dat

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 89 — Apakah aku punya hak untuk memilih?

    Dunia seolah berhenti berputar. Oksigen di ruang makan mewah itu mendadak lenyap, menyisakan kehampaan yang mencekik paru-paruku. Kalimat Sebastian Moretti barusan bukan sekadar pengumuman; itu adalah sebuah palu hakim yang menjatuhkan vonis mati atas sisa-sisa kebebasanku.​Lalu... keheningan itu pecah dengan cara yang paling brutal.​BRAK! Matteo menghantam meja kayu ek itu dengan tinjunya yang kuat. Suara dentuman itu memantul keras ke dinding marmer, membuat gelas-gelas kristal bergetar hebat dan cairan merah di dalamnya tumpah seperti genangan darah di atas meja putih.​“TIDAK! APA-APAAN INI?”Raungan Matteo menggelegar, merobek atmosfer kaku yang sejak tadi menyiksa. Ia berdiri dengan sentakan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang dan jatuh menghantam lantai. Matanya merah, menyala dengan kegilaan yang biasanya hanya ia tunjukkan di ruang penyiksaan.​“Kau menjodohkannya?” Matteo menunjuk ke arah layar monitor 60 inci itu dengan tangan gemetar karena amarah. “Ayah, apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status