PESONA ISTRI NAKAL CEO
Abian, CEO muda dan perfeksionis baru saja dikhianati oleh tunangannya. Luka itu belum sembuh, tapi keluarganya punya rencana lain yaitu sebuah perjodohan demi citra dan bisnis. Nama Reina terucap, membuat lelaki itu teringat akan hubungan FWB -nya bersama Reina.
Reina sendiri tentu saja menolak keras perjodohan itu karena ia sudah memiliki kekasih, seorang dokter muda spesialis kandungan, Raka. Namun, hubungannya tidak mendapatkan restu karena status Raka yang tak pantas untuk Reina. Sang mama bersikeras menjodohkan Reina dengan Abian.
Dalam sekejap, Abian dan Reina sudah terikat dalam pernikahan tanpa cinta dan kesepakatan antara mereka berdua. Tanpa mereka tahu, keduanya sedang menjadi korban dari dua pengkhianat yang sama.
Selingkuh. Manipulasi. Rahasia kelam.
Pernikahan yang dipenuhi dendam dan gairah yang belum padam. Mampukah mereka membangun cinta dari fondasi pengkhianatan, rahasia, dan kekuasaan?
Ikuti akun sosmed IG @hana_ryuuga untuk update novel
Read
Chapter: Bab 206. EndingDua tahun telah berlalu sejak tragedi yang hampir merenggut segalanya dari hidup Abian dan Reina. Kota Seoul menyambut mereka dengan riuh rendah lalu lintas dan cahaya lampu neon yang tak pernah padam. Bagi Abian dan Reina, dua tahun terakhir adalah masa ketenangan yang mereka bangun sendiri, jauh dari sorotan media yang dulu menyeret hidup mereka ke dalam kekacauan.Abian baru saja menerima kabar dari Roy. Cindy kini dirawat di rumah sakit jiwa, sementara ayahnya dipenjara dan Raka ikut merasakan akibatnya. Ibunya meninggal beberapa bulan setelah skandal keluarga mereka terungkap, meninggalkan kehampaan yang mendalam.Sementara Jay seolah hilang tanpa bekas, meninggalkan rasa sunyi yang menakutkan. Abian menyadari semua ini adalah ulah Arga, strategi yang rapi dan tanpa cela. Meski begitu, ia memilih diam dan tidak menanyakan apapun pada Arga, membiarkan segalanya berjalan sesuai rencana.“Mas,” panggil Reina lembut dari balkon apartemen me
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: Bab 205. Kekuasaan Tidak Lagi MenyelamatkanDi apartemen yang sepi, Cindy menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Notifikasi terus berdatangan, satu demi satu, membuat dadanya sesak. Wajahnya pucat, matanya membulat, sementara jantungnya berdebar tak menentu. Foto dirinya bersama Raka kini tersebar di semua portal berita. Tangkapan layar chat, dokumen transfer dana, dan percakapan rahasia yang ia kira aman kini terbuka untuk publik. Nama Cindy memenuhi headline media, komentar netizen berseliweran, menyeret citra keluarga dan hubungannya yang selama ini ia jaga. “Ini tidak mungkin,” gumamnya lirih, napas tersengal. Ia mencoba mengangkat telepon, berharap ada seseorang yang bisa menenangkan keadaan. Panggilan pertama tidak tersambung. Panggilan kedua juga tidak. Bahkan Raka seakan menghilang begitu saja. Cindy berjalan mondar-mandir. “Raka, di mana kamu?” suaranya bergetar. “Kamu harus melakukan sesuatu. Ini semua gila.” Ia menatap layar laptop d
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: Bab 204. Ketika Semua Topeng RuntuhSetelah panggilan terputus, Abian menurunkan ponsel. Rahangnya mengeras, menahan gelombang emosi yang ingin meledak. Wajahnya tetap tegap, menutupi kerentanan yang tersembunyi di dalam hati. Arga menatap lama. “Kamu yakin akan menghadapi media?” Abian menatap balik, rahangnya menegang. “Para wartawan dan paparazzi pasti akan memburu kabar tentang kejadian ini. Lebih baik aku yang menghadapi mereka, daripada membuat Reina kembali terluka.” Arga mengangguk pelan, menahan rasa khawatirnya. “Kalau begitu lakukan. Aku akan mendukungmu sepenuhnya.” Abian menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri sejenak. Suara detak jantungnya dan gema langkah di ruangan seolah menjadi latar bagi tekad yang baru terbentuk. Setiap tarikan napas membuatnya semakin fokus pada tujuan di depan. Ia menatap layar ponsel dengan mata tajam, menekan beberapa nomor penting satu per satu. Pesan demi pesan dikirim, memastikan setiap persia
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: Bab 203. Harapan Tersisa Di ICU“Saturasi oksigen pasien turun drastis!” seru seorang tenaga medis sambil menatap monitor dengan tegang.Tubuh Reina lemas. Napasnya tersengal, warna bibirnya pucat. Tanda jelas bahwa kadar oksigen menurun drastis.“Pasang oksigen sekarang!” perintah seorang paramedis, menempelkan masker ke wajah Reina.Alarm monitor berdentang kencang, lampu merah berkedip cepat, menandakan saturasi Reina berada di bawah 90%. Abian menggenggam tangan istrinya sekuat tenaga. Setiap detakan alarm terasa menekan dadanya seperti palu yang berat.“Tenang, Tuan. Kami akan stabilkan dulu sebelum sampai rumah sakit,” ujar paramedis sambil menyesuaikan aliran oksigen dan memeriksa tekanan darahnya.Sementara itu, tangan salah satu paramedis menekan dada Reina dengan lembut sesuai protokol resusitasi non-invasif. Jantungnya tetap berdetak stabil di bawah pengawasan ketat. Abian hanya menatap, napas tersendat, hatinya bergetar setiap detik.Ambulans menemb
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: Bab 202. Detik-detik MenentukanSementara itu, mobil Abian benar-benar berhenti total. Pikirannya kosong saat ini. Sesekali matanya menatap GPS, berharap titik keberadaan Reina muncul kembali.“Tuan Abian, saya sudah menemukan jalurnya. Saya akan kirim—”“Pandu saja,” potong Abian singkat, nadanya dingin tapi tegas.“Baik, Tuan,” jawab suara di seberang, cepat menyesuaikan irama perintah.Bola Salju mulai memandu perjalanan Abian menuju lokasi Reina. Ia memaksa diri tetap fokus meski bayangan terburuk tentang istri dan anaknya terus menghantui pikirannya. Mobil melaju keluar dari terowongan, jalan utama terbentang di depan seperti menunggu setiap langkahnya.Beberapa meter kemudian, petugas menghentikan kendaraan. Sirine meraung dan palang turun, menghentikan laju mobil tepat saat Abian ingin menekan gas. Napasnya tercekat, tangan menegang di setir, jantung berdetak kencang.Abian menatap layar GPS dengan napas tertahan. Titik lokasi Reina yang sempat menghilan
Last Updated: 2025-12-19
Chapter: Bab 201. Ketegangan Saat FajarLampu lorong redup menyelimuti Reina saat ia berlari, napasnya terpecah, sementara langkah Jay terdengar mengejar dari belakang. Di tikungan, ia sengaja menabrak troli kosong, logamnya beradu keras dan memperlambat kejaran Jay beberapa detik. Gerakan itu cukup untuk berbelok, dan cukup untuk menghilang sementara waktu.Reina segera mengunci pintu darurat dari dalam. Dadanya naik turun, matanya basah oleh ketegangan. Untuk pertama kalinya sejak diculik, Reina tidak lagi sekadar menjadi target, ia kini menjadi ancaman.“Bagaimana caranya aku keluar dari bangunan ini?” tanyanya pada udara kosong dan keheningan ruangan.Ia menatap sekeliling, mencari jalan keluar sebelum Jay kembali. Pandangannya tertuju pada kaca jendela yang cukup tinggi. Ketinggian itu tak menjadi penghalang bagi tekadnya.Reina mulai menumpuk benda-benda di sekitarnya untuk mencapai jendela. Senyum tersungging saat balok kayu berhasil memecahkan kaca, serpihan kecil menempel di wa
Last Updated: 2025-12-19

RUMAHKU ADALAH KAMU
“Aku mau pindah,” kata Aira suatu malam.
Arsen hanya tersenyum, seolah itu keputusan paling wajar di dunia. “Kalau gitu, aku ikut.”
Mereka sudah hidup bersama sejak kuliah. Berbagi ruang, waktu, dan kebiasaan kecil yang tanpa sadar berubah menjadi kebutuhan. Saling bergantung, saling menjaga, tanpa pernah berani menyentuh satu batas yang terlalu berisiko untuk dilanggar, yaitu perasaan.
Hingga suatu hari, Arsen mendengar rumor bahwa Aira menyukai seseorang.
“Bener?” tanyanya, setenang mungkin.
Aira mengangguk. Ia mengakui perasaannya, tapi saat Arsen bertanya lebih jauh, ia memilih diam. Bukan karena tak ingin jujur, melainkan karena nama yang ingin ia sebut adalah milik Arsen sendiri.
Namun kebungkaman itu justru melahirkan salah paham. Arsen mulai percaya bahwa pria yang disukai Aira adalah Adrian, manajernya. Dari satu kesalahpahaman kecil, jarak pelan-pelan tercipta di antara mereka, meski keduanya masih berdiri di tempat yang sama. Karena sejak awal, mereka sama-sama tahu, rumah itu selalu ada di samping.
Lantas, jika mereka sama-sama saling mencintai, apa lagi yang sebenarnya mereka tunggu?
Ikuti akun sosmed IG @hana_ryuuga untuk update novel
Read
Chapter: Bab 17. Satu Pernyataan dari Arsen“Arsen.” Suara Aira pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.“Apa, Ai?” jawab Arsen singkat. Ia menoleh sepersekian detik, lalu kembali fokus ke jalan.“Kamu masih marah soal mama?” ulang Aira, kali ini lebih jelas.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tertahan di ujung lidah. Ia tetap menatap jalanan di depannya.“Kamu mau aku nggak marah?” tanyanya balik, nada suaranya tenang tapi menyimpan sesuatu.Aira mengangguk refleks, lalu sadar Arsen tidak melihatnya. “Iya.”Mobil tiba-tiba menepi. Arsen mematikan mesin. Suasana mendadak sunyi, hanya ada suara kendaraan lain yang melintas.Ia akhirnya berbalik menghadap Aira sepenuhnya. Tatapannya dalam, bukan marah dan bukan pula lembut, hanya penuh keseriusan yang jarang ia tunjukkan. Di matanya ada sesuatu yang berat, sesuatu yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik candaan.“Jangan pernah bohongin aku. Sekalipun itu tentang Mama,” ucapnya pelan tapi tegas.Aira menelan
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 16. Si Paling ProtektifMendengar pertanyaan itu, dadanya langsung berdetak lebih cepat. “Iya, saya Arsen, sahabatnya,” jawabnya tergesa, suaranya nyaris kehilangan napas.“Nona Aira mengalami kecelakaan kecil di depan minimarket. Saat ini sudah dibawa ke IGD—”“Rumah sakit mana?” potong Arsen cepat. Nada suaranya berubah, tegas dan tajam dalam sekejap.Perawat itu menyebutkan nama rumah sakit beserta lokasinya. Arsen tidak sempat mendengar penjelasan lebih lanjut. Tanpa pikir panjang, sambungan telepon langsung ia tutup sepihak.Tangannya gemetar saat meraih kunci mobil. Ia melangkah cepat keluar apartemen menuju basement. Langkahnya panjang dan terburu-buru, seolah waktu tak mau menunggunya.“Ai, padahal aku cuma palingkan wajah sebentar,” gumamnya pelan, napasnya tersengal. “Kamu sudah terluka sampai masuk rumah sakit.” Suaranya penuh penyesalan, bukan marah, tapi takut yang menekan dada.*****Perjalanan m
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 15. Rumah Bisa RetakAira dan Arsen serempak menoleh ketika Adrian mengulurkan sesuatu. Ponsel Aira.Arsen menerimanya lebih dulu. Jemarinya menyentuh ujung jari Aira sepersekian detik sebelum ia menyelipkan benda itu ke dalam tas kerjanya. Gerakan kecil yang seolah ingin memastikan semuanya kembali pada tempatnya.“Terima kasih,” ucap Arsen tulus, menatap Adrian dengan sopan namun tetap berjarak. “Kami izin pulang dulu.”Adrian mengangguk. “Hati-hati di jalan, Mr. Arsen, Nona Aira.”Arsen tidak menjawab panjang. Tangannya sudah lebih dulu merangkul pundak Aira, membawanya keluar dari galeri. Langkah mereka seirama, meski napas Aira masih belum sepenuhnya stabil.*****Mobil melaju meninggalkan halaman galeri. Siang terasa menyengat. Jalanan dipenuhi pelajar berseragam dan pekerja yang berbondong mencari makan siang. Kota tetap sibuk, seolah tidak peduli pada badai kecil yang barusan menghantam satu hati.Arsen menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam jemari Aira di atas konsol tengah. Geng
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 14. Di Antara Tuduhan dan PelukanAira menoleh. Seorang pria mendekat perlahan, kartu identitas penyelenggara tergantung di lehernya. Wajahnya menampilkan campuran ragu dan sopan.“Iya, saya Aira,” jawabnya singkat.Pria itu tersenyum sopan. “Saya pernah menghadiri pameran Anda dua tahun lalu. Tidak menyangka bisa bertemu langsung.”“Terima kasih sudah datang,” balas Aira, suaranya pelan tapi hangat.Pria itu mengangguk, kemudian nada bicaranya menurun. “Jujur, saya sempat mengikuti berita tahun lalu.”Aira menatap pria itu diam, rasanya jantungnya berdetak lebih kencang. Adrian melangkah sedikit ke samping, menjaga jarak tapi matanya tetap tertuju pada Aira. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa tegang dan sunyi.“Soal tuduhan plagiat itu,” lanjut pria tersebut hati-hati. “Apakah itu benar adanya?”Aira menelan ludah. Kedua tangannya mengepal, seolah hanya itu yang bisa ia pegang saat ini. Napasnya tersendat, jantungnya berdetak cepat.Ia mencoba tersenyum, meski gemetar. “Kali ini saya akan lebih berhati-hati lag
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: Bab 13. Edelweis“Eh?”Aira terkejut ketika mobil tiba-tiba berbelok dan berhenti tepat di depan sebuah toko bunga sederhana. Papan kayu kecil di atas pintu bertuliskan nama toko dengan huruf yang sedikit pudar. Aneka warna bunga memenuhi etalase depan, segar dan kontras dengan bangunan di sekitarnya.Ia menoleh ke samping. Benar saja, Adrian sudah membuka seatbelt dengan gerakan tenang. Ekspresinya sulit ditebak, seolah pemberhentian ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.“Adrian, kita ke toko bunga?” tanyanya, tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.“Iya, Nona,” jawab Adrian sopan. “Apa Nona ingin ikut melihat-lihat?”“Tentu saja,” sahut Aira cepat, antusiasnya spontan.Adrian turun lebih dulu, lalu berputar ke sisi Aira dan membukakan pintu untuknya. Aira ikut turun, masih menyimpan tanda tanya kecil di wajahnya. Aroma bunga segar langsung menyambut begitu mereka melangkah masuk ke dalam toko.“Selamat datang, Mas Adrian,” sapa seorang karyawan dengan senyum ramah. “Mau langsung seperti biasa
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab 12. Kenapa Harus Dia?Arsen menghela napas pelan. Rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya kembali netral. “Kita sudah bahas ini tadi malam, Ai.”Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya, tapi Arsen memilih menahannya. Wajahnya tetap tenang, tidak memberi celah pada emosi yang sebenarnya muncul. Tatapannya lurus ke Aira, memastikan maksudnya jelas tanpa perlu suara keras.“Kamu juga bilang nggak akan bikin aku merasa nggak nyaman lagi.” Nada Arsen tenang. Terlalu tenang, sampai terasa seperti sesuatu yang sengaja ditahan.Aira melangkah mendekat satu langkah kecil. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman kok.”Tatapan Arsen beralih ke wajahnya, dalam dan penuh perhitungan, seolah sedang menimbang sesuatu yang penting. “Kalau aku minta kamu buat tunggu aku … bisa?”Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Sederhana, tapi rasanya berat. Seolah jawabannya bisa mengubah banyak hal.Aira menggeleng pelan. “Aku sudah bikin jadwal, Sen. Kamu tahu sendiri aku nggak suka jadwalku berantakan.”Keheni
Last Updated: 2026-02-22