Home / Young Adult / RUMAHKU ADALAH KAMU / Bab 04. Getar di Tas

Share

Bab 04. Getar di Tas

Author: Kenzie
last update Last Updated: 2026-02-10 14:30:11

“Adrian, manajer baru yang dikirim Ivory Gallery,” jawab Aira sambil meraih ponselnya. “Dia yang bantu ngurus jadwal pameran dan promosi aku. Aku angkat dulu ya.”

Arsen mengangguk santai, sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu tanpa sedikit pun tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan dengan ekspresi tenang. Namun ada sesuatu yang tertahan di balik tatapannya, samar tapi sulit diabaikan.

“Halo?” suaranya lembut, dengan nada penasaran yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

“Selamat sore, Nona Aira. Maaf mengganggu,” suara Adrian terdengar tenang dan profesional, rapi seperti caranya bekerja. “Apakah Anda masih dalam perjalanan?”

Aira menelan ludah kecil. “Iya, aku lagi di mobil. Ada apa, Adrian?”

“Baik,” jawab Adrian tenang. “Saya hanya ingin memastikan Anda sudah menerima email terakhir dari galeri. Ada beberapa dokumen tambahan untuk pameran nanti, dan saya butuh konfirmasi Anda sebelum materi promosi dicetak.”

Aira mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya. “Oke, nanti aku cek begitu sampai. Terima kasih sudah mengingatkan.”

“Sudah menjadi pekerjaan saya, Nona.”

Panggilan pun berakhir. Aira menurunkan ponselnya, hendak langsung membuka email yang dimaksud. Namun tangan Arsen lebih dulu menepuk ringan pergelangan tangannya, membuat Aira menoleh dengan ekspresi bingung.

“Apa?” tanya Aira pelan, alisnya sedikit terangkat.

Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat tertahan di layar ponsel Aira yang sudah gelap, lalu naik ke wajahnya. “Itu manajer kamu?”

“Iya,” jawab Aira singkat, nadanya ringan.

Arsen tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang samar tertinggal di sorot matanya. “Manajer kamu kelihatannya cukup perhatian,” ujarnya, nadanya terdengar santai meski terselip makna lain.

Aira mengedikkan bahu ringan. “Semoga aja begitu.”

Arsen lalu mengalihkan pandangan ke depan. “Yuk, kita grocery dulu. Urusan kerja nanti saja.”

Aira menatap Arsen sesaat, lalu tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Ponselnya kembali ia masukkan ke dalam tas, seolah menutup sementara dunia di luar mereka. Untuk hari ini, ia memilih menikmati hal-hal sederhana lebih dulu.

Mereka melangkah masuk ke supermarket, roda troli bergeser pelan menyusuri lantai yang bersih. Aroma roti hangat bercampur dengan wangi buah segar, menyambut dengan hangat. Suasananya ramai, tapi tetap terasa nyaman.

“Mulai dari mana?” tanya Arsen sambil mendorong troli pelan.

“Sayuran dulu,” jawab Aira, lalu berbelok ke lorong hijau.

Ia mengambil wortel, paprika, dan bayam dengan gerakan yang lebih santai dari sebelumnya. Namun Arsen menangkap jeda kecil di ekspresi Aira, kilasan ragu yang cepat berlalu. Sesuatu yang samar, tapi cukup untuk membuatnya memperhatikan lebih lama.

“Ai,” panggil Arsen pelan. “Kamu kepikiran Adrian?”

Aira meringis kecil, sadar ia tak pernah benar-benar bisa membohongi Arsen. “Sedikit,” akunya jujur. “First impression -nya baik, tapi aku tetap takut.”

Arsen mengangguk pelan, ekspresinya tenang. “Tenang aja. Dia nggak bakal ngacak-acak dunia kamu dalam sehari.”

Aira menggeleng pelan, senyum kecil terselip di bibirnya. “Aku tahu, cuma dia orang baru. Aku belum kenal sama sekali, dan aku takut dia terlalu ketat.”

Arsen mendorong troli sedikit lebih dekat ke Aira. “Kamu selalu bisa pasang batas, Ai. Kalau sampai nggak nyaman, bilang aja. Nggak usah dipendam.”

Ia melirik sekilas ke arah lorong lain sebelum melanjutkan, nadanya tetap tenang. “Dari cara dia bicara juga kelihatan profesional. Nggak lebay, nggak maksa juga, ‘kan?”

“Iya sih. Makasih ya, Sen,” ucap Aira pelan, menatap Arsen dengan senyum lega. Perlahan, rasa ragu yang tadi mengendap di dadanya mulai mengendur.

Aira mengangguk pelan. Arsen kembali mendorong troli, langkah mereka menyusuri lorong supermarket dengan ritme santai. Di antara rak-rak tinggi, obrolan kecil mengalir tanpa perlu banyak kata.

Saat tiba di lorong bumbu, langkah Aira melambat. Ia menatap deretan botol rempah, tangannya sempat ragu di depan rak lada hitam. Arsen dengan santai mengambil satu dan meletakkannya ke dalam troli.

Aira melirik ke arah troli, lalu tersenyum kecil. “Kamu hafal juga, ya,” katanya ringan.

Arsen mengedikkan bahu santai. “Sering masak bareng kamu. Masa iya aku nggak hafal.”

“Masak bareng dalam artian apa nih?” goda Aira, matanya berkilat usil.

“Nggak usah mulai, ya, Ai.” Arsen meliriknya sekilas. “Nggak usah diperjelas juga kalau ujung-ujungnya aku cuma jadi tim cuci piring.”

Aira terkekeh pelan. Lucu juga melihat Arsen yang sedikit cemberut setiap kali kekurangannya disinggung. Mereka kembali mendorong troli, langkahnya mengarah ke lorong berikutnya.

Mereka berhenti di depan rak saus dan bumbu instan. Aira membaca label satu per satu, alisnya sesekali mengernyit sebelum meletakkannya kembali. Arsen menunggu di sampingnya, sabar, sambil sesekali melirik isi troli.

“Yang itu biasanya kamu pakai,” ujar Arsen sambil menunjuk botol favorit Aira.

“Iya sih,” sahut Aira sambil mengangkat dua botol lain, “Hanya saja kali ini aku ingin coba yang berbeda. Beberapa hari lalu aku lihat mereka merekomendasikan dua merek ini.”

“Ambil aja dua-duanya,” kata Arsen santai. “Sekalian tambah yang favoritmu, buat jaga-jaga kalau yang baru nggak cocok di lidah kita.”

“Boros, Sen,” protes Aira, meski sudut bibirnya terangkat kecil.

“Nggak masalah. Aku masih mampu bayarin semuanya,” balas Arsen santai. “Uangku banyak.”

“Sombong,” celetuk Aira, tapi nadanya ringan, sama sekali tak serius. Candaan semacam itu sudah terlalu akrab di antara mereka.

Mereka melangkah ke bagian protein, hawa dingin dari rak pendingin langsung menyergap. Aira berhenti sejenak, menatap deretan ikan, ayam, dan daging dengan raut bimbang. Matanya bergerak pelan, seolah sedang menimbang menu di kepalanya.

“Ikan, ayam, atau daging?” tanyanya akhirnya, meminta pendapat Arsen.

“Semua,” jawab Arsen tanpa ragu. “Kulkas penuh itu bikin hati tenang, walaupun dompet nanti mungkin nangis.”

“Tenang,” sahut Aira cepat. “Aku bakal mengobatinya dengan masakan rumahan.”

“Nah,” Arsen terkekeh, senyumnya melebar. “Itu terapi terbaik.”

“Selain itu, uangmu kan banyak,” sindir Aira ringan. “Nggak mungkin juga bikin dompetmu kosong.”

Arsen langsung tertawa, bahunya sedikit terangkat. “Kamu jahat, ya,” balasnya sambil tetap tersenyum.

Kini mereka berdiri di antrean kasir, troli di depan sudah penuh sesak. Sayur, buah, bumbu, protein, camilan, hingga susu dan minuman kaleng bercampur jadi satu. Terlalu banyak untuk dua orang yang baru pindah, tapi entah kenapa terasa pas.

Saat kasir mulai memindai barang satu per satu, ponsel Aira kembali bergetar di dalam tasnya. Getarannya bertahan lebih lama dari sebelumnya, seolah menuntut perhatian. Aira refleks meraih tasnya, ragu sejenak sebelum mengeluarkan ponsel.

Arsen melirik sekilas. Senyumnya memudar ketika layar ponsel Aira sempat menyala, menampilkan sebuah nama yang kini tak asing lagi. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk supermarket, ada jeda sunyi yang terasa canggung di antara mereka.

“Kali ini siapa yang nelepon?” tanya Arsen, nadanya terdengar santai tapi matanya awas.

“Mama,” jawab Aira singkat.

“Tumben,” ujar Arsen sambil melirik layar ponsel itu sekilas. “Ada apa Mama tiba-tiba nelepon kamu?”

.

.

.

~ To Be Continue ~

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 05. Suara yang Menghakimi

    “Kamu ada masalah lagi dengan papa?” tanya Aira pelan. “Biasanya mama telepon aku kalau kamu lagi ribut sama papa.”Arsen mendengus tipis. “Terus minta tolong supaya kamu yang ngebujuk aku, gitu?”Aira tidak menjawab. Ia menatap rak permen di dekat kasir, berpura-pura tertarik pada sesuatu yang sebenarnya tak ia perhatikan. Keduanya sama-sama paham, ini bukan tempat yang tepat untuk membuka urusan pribadi.Bunyi beep mesin kasir menutup percakapan di antara mereka. Arsen segera mengeluarkan kartu kreditnya, gerakannya otomatis, seolah kebiasaan itu sudah tertanam tanpa perlu dipikirkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada komentar, semuanya berjalan seperti biasa.Seperti yang selalu terjadi, Arsen mengambil kantong belanja yang paling besar dan berat. Aira kebagian yang kecil dan ringan di tangan. Arsen sengaja membiarkannya begitu, memberi ruang agar Aira tetap merasa bebas tanpa harus selalu berada di bawah perlindungan berlebihan.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Arsen

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 04. Getar di Tas

    “Adrian, manajer baru yang dikirim Ivory Gallery,” jawab Aira sambil meraih ponselnya. “Dia yang bantu ngurus jadwal pameran dan promosi aku. Aku angkat dulu ya.” Arsen mengangguk santai, sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu tanpa sedikit pun tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan dengan ekspresi tenang. Namun ada sesuatu yang tertahan di balik tatapannya, samar tapi sulit diabaikan. “Halo?” suaranya lembut, dengan nada penasaran yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Selamat sore, Nona Aira. Maaf mengganggu,” suara Adrian terdengar tenang dan profesional, rapi seperti caranya bekerja. “Apakah Anda masih dalam perjalanan?” Aira menelan ludah kecil. “Iya, aku lagi di mobil. Ada apa, Adrian?” “Baik,” jawab Adrian tenang. “Saya hanya ingin memastikan Anda sudah menerima email terakhir dari galeri. Ada beberapa dokumen tambahan untuk pameran nanti, dan saya butuh konfirmasi Anda sebelum materi promosi dicetak.” Aira mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya. “Oke,

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 03. Langkah Pelan Aira

    Aira mengusap pipinya kasar, mencoba menghentikan tangis yang makin tidak terkendali. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, kuas itu masih tergenggam tapi terasa terlalu berat. Ruangan yang tadi terasa penuh harap kini dipenuhi sunyi yang menekan dada.Ia memejamkan mata, mengingat suara Arsen pagi tadi. Tentang pelan-pelan. Tentang tidak apa-apa berhenti sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, meski masih bergetar.“Bukan menyerah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Hanya istirahat sebentar.”Ia meletakkan kuas itu di lantai, lalu memeluk lututnya. Kanvas putih itu masih berdiri di easel, kosong, tapi tidak lagi terasa menghakimi. Untuk hari ini, ia memilih duduk diam, memberi ruang pada dirinya sendiri, tanpa memaksa apa pun untuk lahir.*****Siang itu, Aira duduk di kafe kecil bernuansa hangat dengan aroma kopi yang menenangkan. Dua perwakilan Ivory Gallery di seberangnya membahas hal-hal teknis dengan nada tenang sambil membuka map berlogo sed

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 02. Percaya Sekali Lagi

    Aira tidak langsung menjawab. Jarum jam di dinding seolah berdetak lebih keras, tiap detiknya menghantam pelan ke telinganya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, lalu terlepas lagi, gelisah tanpa tujuan.“Aku … takut,” katanya akhirnya. Kejujuran itu keluar dengan suara yang nyaris tak terdengar.Arsen mengernyit. “Takut kenapa?”Aira memijat pelipisnya pelan, seakan mencoba menenangkan riuh di kepalanya sendiri. “Takut gagal lagi. Takut semua orang masih ingat skandal itu. Takut mereka cuma mau namaku, bukan lukisanku.”Arsen menatapnya tanpa menyela. Ketakutan itu terlihat jelas di mata Aira, nyata dan tak dibuat-buat. Ada sesuatu di sana yang membuat Arsen memilih diam.Aira tersenyum tipis, penuh kegetiran. “Aku juga takut kalau masuk ke dunia itu lagi, kepalaku nggak kuat. Sekarang aja aku masih sering mimpi buruk.”Arsen meletakkan ponsel di meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. “Ai, kamu nggak harus memaksakan diri.”Aira menggeleng pelan. “Aku tahu, tapi aku ju

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 01. Panggilan dari Masa Lalu

    “Aku taruh di mana kardus ini?”Aira berhenti mengancingkan tas kanvasnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Arsen berdiri di tengah ruang tamu apartemen mereka dengan satu kardus besar di pelukan. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya berdebu, dan dari cara ia berdiri, terlihat jelas ia sudah kelelahan sejak tadi.“Kardus yang isinya buku-buku taruh aja di dekat jendela,” jawab Aira. “Nanti biar aku pilah lagi.”Arsen mengangguk, tapi kakinya tidak langsung melangkah. Tatapannya justru jatuh ke tas kanvas yang tergantung di bahu Aira. “Kamu bawa kuas juga?”Pertanyaan itu membuat Aira terdiam. Tangannya yang tadi sibuk merapikan tali tas berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya menatap ujung tali itu, seolah kata-kata Arsen barusan membuka pintu ke sesuatu yang ingin ia kunci rapat-rapat.“Buat apa?” tanyanya datar.Arsen berkedip, lalu tersenyum kecil, agak canggung. “Nggak tahu. Refleks aja nanya.”Aira menghela napas pelan. “Aku nggak ngelukis lagi, Sen.”“Aku tahu.”“Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status