LOGIN
“Aku taruh di mana kardus ini?”
Aira berhenti mengancingkan tas kanvasnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Arsen berdiri di tengah ruang tamu apartemen mereka dengan satu kardus besar di pelukan. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya berdebu, dan dari cara ia berdiri, terlihat jelas ia sudah kelelahan sejak tadi. “Kardus yang isinya buku-buku taruh aja di dekat jendela,” jawab Aira. “Nanti biar aku pilah lagi.” Arsen mengangguk, tapi kakinya tidak langsung melangkah. Tatapannya justru jatuh ke tas kanvas yang tergantung di bahu Aira. “Kamu bawa kuas juga?” Pertanyaan itu membuat Aira terdiam. Tangannya yang tadi sibuk merapikan tali tas berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya menatap ujung tali itu, seolah kata-kata Arsen barusan membuka pintu ke sesuatu yang ingin ia kunci rapat-rapat. “Buat apa?” tanyanya datar. Arsen berkedip, lalu tersenyum kecil, agak canggung. “Nggak tahu. Refleks aja nanya.” Aira menghela napas pelan. “Aku nggak ngelukis lagi, Sen.” “Aku tahu.” “Kalau tahu, jangan tanya hal-hal yang bikin aku tambah capek.” Hening jatuh di antara mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang sudah terlalu sering hadir sampai tak lagi perlu dipertanyakan. Arsen berdiri di sana, menekan banyak hal yang tak pernah benar-benar menemukan jalan keluar. Arsen akhirnya mengangguk kecil. “Maaf.” Aira tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, seolah takut kalau satu kata saja bisa merobohkan pertahanannya. Tangannya kembali mengecek isi tasnya, pura-pura sibuk pada hal-hal kecil yang tidak benar-benar penting. Studio flat itu kecil, tapi selama tujuh tahun terakhir terasa cukup untuk mereka berdua. Sekarang, kardus-kardus menumpuk di sudut ruangan, membuat tempat itu terlihat semakin sempit. Atau mungkin bukan apartemennya yang menyempit, melainkan ruang di antara mereka. Di dinding ruang tengah, masih ada tiga kanvas besar yang dibalik menghadap tembok. Kain penutupnya sudah berdebu. Itu lukisan-lukisan terakhir Aira yang tidak pernah selesai. “Kita berangkat jam sepuluh, ‘kan?” tanya Arsen dari balik rak buku. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Aira menggeleng. “Nanti saja di jalan.” “Kamu belum makan dari tadi malam, Ai.” “Aku makan buah kok,” bantah Aira singkat. “Karbonya nggak ada, Ai.” Arsen mendesah kecil. “Aku bikinin mie, ya?” “Nanti aja, Sen. Sekarang mau beresin sisanya ini biar cepat selesai.” Arsen tidak memaksa. Ia tahu sejak semalam sahabatnya itu hampir tidak berhenti mengemasi barang. Kardus-kardus sudah memenuhi sudut apartemen, dan hari ini mereka benar-benar akan pergi dari tempat itu. Kontrak studio flat Aira sudah habis, dan ia menolak memperpanjangnya. Bukan karena uang, bukan pula karena tempat itu terlalu sempit. Melainkan karena di sanalah terlalu banyak kenangan yang ingin ia kubur. Perjalanan menuju apartemen baru berlangsung dalam sunyi. Aira duduk di kursi samping kemudi sambil memeluk tas kanvasnya, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Kota melintas di luar sana seperti potongan-potongan gambar yang terlepas dari cerita, hadir tanpa makna dan tanpa ingin ia simpan. “Kalau kamu terus meluk tas itu kayak gitu,” kata Arsen memecah keheningan. “Orang bisa mikir di dalamnya ada emas batangan.” Aira tersenyum tipis. “Isinya cuma kanvas kosong,” ujarnya. “Nah, itu. Lebih berharga dari emas, dong.” Arsen melirik lagi, kali ini lebih lama. “Kalau ada masalah, jangan ragu untuk cerita sama aku.” “Semua baik-baik saja.” Arsen tidak membalas. Ia tetap fokus menyetir. Dari sudut matanya, ia melihat jari-jari Aira mencengkeram tali tasnya terlalu kuat, seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya. Apartemen baru mereka berada di pinggir kota, jauh lebih sunyi. Tidak ada galeri, tidak ada studio, dan tidak ada orang-orang yang mengenal Aira sebagai apa pun selain perempuan biasa. Itulah yang ia mau. Gedung apartemen itu tidak tinggi, tidak juga istimewa. Cat dindingnya krem pucat, dengan lorong-lorong yang sedikit sempit. Mereka berhenti di lantai tiga. “Kuncinya di tasmu?” tanya Arsen. Aira mengangguk pelan. Ia merogoh tas kanvasnya, jarinya sempat ragu sebelum akhirnya menemukan gantungan kunci kecil berbentuk cat air. Ia tidak ingat kapan terakhir kali membeli gantungan itu. Pintu apartemen itu terbuka dengan bunyi klik kecil. Apartemen itu lebih luas dari studio flat lama mereka, tapi terasa jauh lebih hampa. Tidak ada bau cat, tidak ada kanvas. Tidak ada apa pun yang mengingatkan Aira pada dirinya yang dulu. “Lumayan juga,” komentar Arsen, memecah keheningan. “Setidaknya nggak ada tetangga yang hobinya nyetel dangdut jam enam pagi.” Sudut bibir Aira terangkat. “Setidaknya mereka bisa bikin pagi kita lebih hidup dengan bahan gibahan dari lagu yang diputar.” Arsen terkekeh kecil. “But, not my style.” “Iya juga sih. Kita berdua kan pecinta musik R&B,” sambung Aira sambil melangkah lebih dalam ke ruangan. “Kita mulai dari mana dulu?” tanya Arsen setelah memasukkan kardus terakhir. “Terserah,” jawab Aira ringan. Arsen menatapnya tanpa ekspresi. “Jawaban paling membantu sedunia.” Aira tertawa kecil, tapi tawanya cepat mereda. Mereka berdiri di tengah ruangan yang masih terasa asing, dikelilingi kardus-kardus yang belum dibuka. Dua pintu kamar di depan mereka tampak seperti pilihan yang sama-sama tidak ingin disentuh lebih dulu. “Gimana kalau kita pakai kamar yang sebelah kanan?” usul Arsen sambil melirik ke arah pintu itu. “Yang dekat jendela kita jadikan studio kamu saja. Cahaya paginya pasti bagus.” “Aku nggak kepikiran sejauh itu, tapi kalau menurutmu itu yang paling pas, it’s okay.” Butuh hampir seharian penuh untuk membereskan semuanya. Saat matahari mulai condong ke barat, apartemen itu akhirnya mulai terasa seperti rumah. Kardus-kardus sudah jauh berkurang, rak buku terisi, dan kasur terpasang rapi. Malam itu, mereka memilih memesan makanan, terlalu lelah untuk sekadar memikirkan masak. “Besok aku mulai kerja lagi,” kata Arsen sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Aira mengangguk pelan. “Di perusahaan ayahmu?” “Iya.” “Kalian masih … buruk?” tanya Aira ragu. Arsen tersenyum miring. “Masih.” Aira tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu hubungan Arsen dan ayahnya tak pernah sederhana, selalu penuh jarak dan luka yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Ia juga tahu, ada alasan yang terlalu panjang dan terlalu menyakitkan untuk diungkapkan malam ini. “Kalau kamu?” tanya Arsen kemudian. “Kamu mau ngapain setelah ini?” Aira menunduk, menatap piring di depannya. “Aku nggak tahu.” Jawaban itu meluncur begitu saja, jujur sekaligus menakutkan. Setelah itu, mereka kembali membiarkan sunyi mengisi ruang makan. Hanya cahaya lampu temaram dan bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring yang menemani. “Aira,” panggil Arsen saat melihat sahabatnya itu terlalu lama terdiam. Aira menoleh. “Ada apa?” Arsen menatapnya sejenak sebelum bertanya, suaranya lebih pelan. “Ai, kamu lagi mikirin sesuatu?” Aira tersentak kecil. Ia menatap Arsen sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerahkan ponselnya. Arsen menerimanya dan membaca email yang terbuka di layar. “Aku dapat tawaran comeback dari Ivory Gallery,” ucap Aira pelan, seolah kalimat itu sendiri masih terasa berat di lidahnya. “Bukankah itu galeri di bawah naungan WS Group?” Arsen mengangkat wajahnya, tatapannya terang oleh rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. Aira mengangguk kecil. “Iya, tapi aku belum ngasih jawaban ke mereka.” “Kenapa?” tanya Arsen, suaranya kali ini lebih lembut, tapi penuh perhatian. . . . ~ To Be Continue ~“Kamu ada masalah lagi dengan papa?” tanya Aira pelan. “Biasanya mama telepon aku kalau kamu lagi ribut sama papa.”Arsen mendengus tipis. “Terus minta tolong supaya kamu yang ngebujuk aku, gitu?”Aira tidak menjawab. Ia menatap rak permen di dekat kasir, berpura-pura tertarik pada sesuatu yang sebenarnya tak ia perhatikan. Keduanya sama-sama paham, ini bukan tempat yang tepat untuk membuka urusan pribadi.Bunyi beep mesin kasir menutup percakapan di antara mereka. Arsen segera mengeluarkan kartu kreditnya, gerakannya otomatis, seolah kebiasaan itu sudah tertanam tanpa perlu dipikirkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada komentar, semuanya berjalan seperti biasa.Seperti yang selalu terjadi, Arsen mengambil kantong belanja yang paling besar dan berat. Aira kebagian yang kecil dan ringan di tangan. Arsen sengaja membiarkannya begitu, memberi ruang agar Aira tetap merasa bebas tanpa harus selalu berada di bawah perlindungan berlebihan.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Arsen
“Adrian, manajer baru yang dikirim Ivory Gallery,” jawab Aira sambil meraih ponselnya. “Dia yang bantu ngurus jadwal pameran dan promosi aku. Aku angkat dulu ya.” Arsen mengangguk santai, sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu tanpa sedikit pun tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan dengan ekspresi tenang. Namun ada sesuatu yang tertahan di balik tatapannya, samar tapi sulit diabaikan. “Halo?” suaranya lembut, dengan nada penasaran yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Selamat sore, Nona Aira. Maaf mengganggu,” suara Adrian terdengar tenang dan profesional, rapi seperti caranya bekerja. “Apakah Anda masih dalam perjalanan?” Aira menelan ludah kecil. “Iya, aku lagi di mobil. Ada apa, Adrian?” “Baik,” jawab Adrian tenang. “Saya hanya ingin memastikan Anda sudah menerima email terakhir dari galeri. Ada beberapa dokumen tambahan untuk pameran nanti, dan saya butuh konfirmasi Anda sebelum materi promosi dicetak.” Aira mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya. “Oke,
Aira mengusap pipinya kasar, mencoba menghentikan tangis yang makin tidak terkendali. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, kuas itu masih tergenggam tapi terasa terlalu berat. Ruangan yang tadi terasa penuh harap kini dipenuhi sunyi yang menekan dada.Ia memejamkan mata, mengingat suara Arsen pagi tadi. Tentang pelan-pelan. Tentang tidak apa-apa berhenti sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, meski masih bergetar.“Bukan menyerah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Hanya istirahat sebentar.”Ia meletakkan kuas itu di lantai, lalu memeluk lututnya. Kanvas putih itu masih berdiri di easel, kosong, tapi tidak lagi terasa menghakimi. Untuk hari ini, ia memilih duduk diam, memberi ruang pada dirinya sendiri, tanpa memaksa apa pun untuk lahir.*****Siang itu, Aira duduk di kafe kecil bernuansa hangat dengan aroma kopi yang menenangkan. Dua perwakilan Ivory Gallery di seberangnya membahas hal-hal teknis dengan nada tenang sambil membuka map berlogo sed
Aira tidak langsung menjawab. Jarum jam di dinding seolah berdetak lebih keras, tiap detiknya menghantam pelan ke telinganya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, lalu terlepas lagi, gelisah tanpa tujuan.“Aku … takut,” katanya akhirnya. Kejujuran itu keluar dengan suara yang nyaris tak terdengar.Arsen mengernyit. “Takut kenapa?”Aira memijat pelipisnya pelan, seakan mencoba menenangkan riuh di kepalanya sendiri. “Takut gagal lagi. Takut semua orang masih ingat skandal itu. Takut mereka cuma mau namaku, bukan lukisanku.”Arsen menatapnya tanpa menyela. Ketakutan itu terlihat jelas di mata Aira, nyata dan tak dibuat-buat. Ada sesuatu di sana yang membuat Arsen memilih diam.Aira tersenyum tipis, penuh kegetiran. “Aku juga takut kalau masuk ke dunia itu lagi, kepalaku nggak kuat. Sekarang aja aku masih sering mimpi buruk.”Arsen meletakkan ponsel di meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. “Ai, kamu nggak harus memaksakan diri.”Aira menggeleng pelan. “Aku tahu, tapi aku ju
“Aku taruh di mana kardus ini?”Aira berhenti mengancingkan tas kanvasnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Arsen berdiri di tengah ruang tamu apartemen mereka dengan satu kardus besar di pelukan. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya berdebu, dan dari cara ia berdiri, terlihat jelas ia sudah kelelahan sejak tadi.“Kardus yang isinya buku-buku taruh aja di dekat jendela,” jawab Aira. “Nanti biar aku pilah lagi.”Arsen mengangguk, tapi kakinya tidak langsung melangkah. Tatapannya justru jatuh ke tas kanvas yang tergantung di bahu Aira. “Kamu bawa kuas juga?”Pertanyaan itu membuat Aira terdiam. Tangannya yang tadi sibuk merapikan tali tas berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya menatap ujung tali itu, seolah kata-kata Arsen barusan membuka pintu ke sesuatu yang ingin ia kunci rapat-rapat.“Buat apa?” tanyanya datar.Arsen berkedip, lalu tersenyum kecil, agak canggung. “Nggak tahu. Refleks aja nanya.”Aira menghela napas pelan. “Aku nggak ngelukis lagi, Sen.”“Aku tahu.”“Ka







