INICIAR SESIÓNAira tidak langsung menjawab. Jarum jam di dinding seolah berdetak lebih keras, tiap detiknya menghantam pelan ke telinganya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, lalu terlepas lagi, gelisah tanpa tujuan.
“Aku … takut,” katanya akhirnya. Kejujuran itu keluar dengan suara yang nyaris tak terdengar. Arsen mengernyit. “Takut kenapa?” Aira memijat pelipisnya pelan, seakan mencoba menenangkan riuh di kepalanya sendiri. “Takut gagal lagi. Takut semua orang masih ingat skandal itu. Takut mereka cuma mau namaku, bukan lukisanku.” Arsen menatapnya tanpa menyela. Ketakutan itu terlihat jelas di mata Aira, nyata dan tak dibuat-buat. Ada sesuatu di sana yang membuat Arsen memilih diam. Aira tersenyum tipis, penuh kegetiran. “Aku juga takut kalau masuk ke dunia itu lagi, kepalaku nggak kuat. Sekarang aja aku masih sering mimpi buruk.” Arsen meletakkan ponsel di meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. “Ai, kamu nggak harus memaksakan diri.” Aira menggeleng pelan. “Aku tahu, tapi aku juga capek lari terus.” Arsen menatap sahabatnya itu dengan serius. “Ai, kamu bukan pelukis yang sama seperti waktu itu. Kamu sudah bertahan sejauh ini. Itu saja sudah cukup jadi bukti kalau kamu hebat.” “Aku tahu,” jawab Aira lirih. “Namun kata tahu dan berani itu dua hal yang maknanya berbeda.” Arsen menyandarkan punggung ke kursi. “Ivory Gallery itu bukan galeri kecil. Mereka nggak sembarang nawarin comeback ke orang. Mereka selektif.” Ia kembali menatap Aira lekat-lekat. “Kalau kamu masih mau melukis, ini kesempatanmu. Mereka nawarin, artinya mereka tahu nilai bakatmu.” Aira kembali terdiam. Jemarinya meremas tepi bajunya, pelan tapi penuh tekanan. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang berusaha ia tahan agar tidak runtuh. “Aku nggak bilang kamu harus jawab sekarang,” lanjut Arsen, suaranya lebih lembut. “Ambil waktumu. Aku di sini, apa pun keputusanmu.” Aira menatap Arsen, lalu tersenyum kecil. “Makasih, Sen.” Malam kembali jatuh dalam hening. Kali ini, sunyi itu tidak sekadar kosong, melainkan berat dan rapuh, seperti menahan sesuatu yang belum berani diucapkan. Di antara kelelahan dan ketakutan, ada kemungkinan yang menakutkan, tetapi juga diam-diam menjanjikan. Di dalam dada Aira, sesuatu bergerak pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah kata kembali berani berdenyut, kecil dan ragu. Kata itu belum utuh, tapi cukup kuat untuk bertahan, percaya. “Kamu mandi dulu saja,” ujar Arsen kemudian. “Biar aku yang cuci piring kotornya.” Aira menurut. Ia beranjak dari kursi, melangkah menuju kamar, menoleh sebentar saat melihat Arsen mulai mengumpulkan piring dan gelas kotor. Ada rasa hangat yang menempel di dadanya sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu. Malam itu berakhir tanpa keputusan apa pun. Mereka tertidur dalam kelelahan yang sama, di ruang yang masih setengah asing. Sunyi datang lebih dulu, lalu mimpi menyusul tanpa sempat dimaknai. ***** Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah tirai. Aira terbangun lebih dulu, dan baru menyadari lengan Arsen yang melingkar di pinggangnya. Mereka sudah terlalu terbiasa tidur satu ranjang, saling berpelukan tanpa makna lain selain rasa aman. Aira menatap wajah Arsen yang terlelap dengan ekspresi damai, napasnya teratur seolah dunia tak pernah menyakitinya. Dorongan kecil muncul di ujung jemarinya untuk menyentuh wajah itu, namun ia menarik tangannya kembali. Ada garis tak kasatmata yang harus tetap dijaga, demi persahabatan yang selama ini menjadi satu-satunya tempat pulang. “Arsen, bangun. Sudah pagi,” ucap Aira pelan. “Lima menit lagi, Ai,” gumam Arsen dengan suara serak, mata masih terpejam. “Aku masih ngantuk.” “Kalau begitu lepas dulu tangannya. Aku mau bikin sarapan.” Arsen menggerutu pelan, pelukannya melonggar tapi tidak sepenuhnya dilepas. “Boleh request?” Aira tersenyum tipis. “Apa?” “Lima kali elusan,” jawab Arsen malas-malasan. “Habis itu pelukannya dilepas.” “Dikabulkan.” Aira menuruti permintaannya, mengelus kepala Arsen pelan, satu per satu, tepat lima kali. Pelukan itu akhirnya terlepas, disusul senyum kecil di wajah Arsen meski matanya masih terpejam. Aira hanya menggeleng pelan, setengah geli, setengah pasrah karena selalu saja ada permintaan aneh dari sahabatnya setiap pagi. Ia beranjak ke kamar mandi, lalu keluar dengan rambut masih sedikit lembap untuk menyiapkan sarapan. Kulkas yang setengah kosong memaksanya memilih menu paling sederhana. Aira menggoreng nasi dengan telur orak-arik, cukup untuk mengisi perut sebelum hari benar-benar dimulai. Saat dua piring nasi goreng tersaji, Arsen sudah duduk di meja makan sambil menyeruput teh hangat. Kemeja dan jasnya terpasang rapi, membuatnya tampak dewasa dan siap berangkat kerja. Penampilan itu terasa kontras dengan sikap manja yang ia tunjukkan beberapa menit lalu. Mereka makan perlahan, tanpa banyak bicara. Tidak ada canggung, hanya jeda yang terasa biasa bagi dua orang yang sudah terlalu lama berbagi hidup. Aira menatap jam di dinding sekilas, lalu mengangkat wajahnya. “Arsen, nanti kamu pulang jam berapa?” tanya Aira sambil mengaduk nasi gorengnya, seolah pertanyaan itu tidak penting, padahal ia menunggunya. “Kayaknya jam enam atau lebih,” jawab Arsen, menurunkan tabletnya dan menghela napas singkat. “Divisi kita lagi ada masalah internal.” Aira mengangguk santai. “Aku mau ketemu pihak Ivory Gallery nanti.” “Mau aku temani?” tawarnya refleks, nyaris tanpa pikir panjang. Aira menggeleng pelan sambil tersenyum. “Nggak perlu. Cuma sebentar kok, bahas kontrak.” “Oh.” Arsen mengangguk, lalu tersenyum kecil. “Berarti aku pulang bawa dessert. Buat jaga-jaga kalau hari kamu berat.” Aira terkekeh. “Okeh.” Arsen meliriknya sebentar, lalu bertanya santai tapi hati-hati, “Jadi, soal Ivory Gallery itu, kamu jadi ambil?” Aira mengangguk pelan. “Aku mikir semalaman,” katanya lirih. “Aku masih takut, sih. Kali ini aku mau coba lagi, pelan-pelan.” Arsen menatapnya sejenak, lalu tersenyum hangat. “Pelan-pelan juga nggak apa-apa,” katanya tenang. “Aku di sini, Ai. Kalau sewaktu-waktu kamu mau berhenti, putar arah, atau cuma duduk bengong sambil ngeluh, bilang aja.” Ia menggenggam tangan Aira, memberinya waktu sebelum melanjutkan. “Percaya dulu sama diri kamu sendiri,” ucapnya pelan. “Soal dunia di luar sana, itu belakangan.” Arsen tersenyum tipis. “Karena di luar sana, masih banyak yang nunggu karya kamu. Mereka nunggu Aira yang penuh bakat.” Aira mengangguk pelan. “Aku akan coba percaya,” katanya lirih. “Setidaknya … sekali ini.” Tak lama setelah itu, Arsen pamit berangkat kerja. Pintu apartemen menutup pelan, menyisakan sunyi yang perlahan mengisi ruangan. Aira berdiri beberapa saat di ruang tamu, lalu melangkah menuju kamar sebelah. Ruangan itu masih kosong dan bersih, belum diisi apa pun, rasanya seperti sengaja menunggu sesuatu dimulai. Aira mengeluarkan kanvas dari tasnya lalu menyandarkannya ke easel di sudut ruangan. Jemarinya menyentuh permukaannya pelan, masih ada ragu, tapi juga ada rasa ingin mencoba lagi. “Apa aku boleh percaya sekali lagi?” gumamnya. Aira meraih kuas, tapi jemarinya bergetar hebat sebelum ujungnya sempat menyentuh kanvas. Ia menarik tangannya kembali ke dada, napasnya tersendat seperti tersangkut di tenggorokan. Air mata jatuh begitu saja, tanpa peringatan, membasahi rasa takut yang belum sempat ia jinakkan. “Ternyata aku masih belum bisa,” bisiknya lirih, suara itu nyaris patah. “Apa aku harus menyerah saja?” . . . ~ To Be Continue ~“Arsen.” Suara Aira pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.“Apa, Ai?” jawab Arsen singkat. Ia menoleh sepersekian detik, lalu kembali fokus ke jalan.“Kamu masih marah soal mama?” ulang Aira, kali ini lebih jelas.Arsen tidak langsung menjawab. Rahangnya menegang, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tertahan di ujung lidah. Ia tetap menatap jalanan di depannya.“Kamu mau aku nggak marah?” tanyanya balik, nada suaranya tenang tapi menyimpan sesuatu.Aira mengangguk refleks, lalu sadar Arsen tidak melihatnya. “Iya.”Mobil tiba-tiba menepi. Arsen mematikan mesin. Suasana mendadak sunyi, hanya ada suara kendaraan lain yang melintas.Ia akhirnya berbalik menghadap Aira sepenuhnya. Tatapannya dalam, bukan marah dan bukan pula lembut, hanya penuh keseriusan yang jarang ia tunjukkan. Di matanya ada sesuatu yang berat, sesuatu yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik candaan.“Jangan pernah bohongin aku. Sekalipun itu tentang Mama,” ucapnya pelan tapi tegas.Aira menelan
Mendengar pertanyaan itu, dadanya langsung berdetak lebih cepat. “Iya, saya Arsen, sahabatnya,” jawabnya tergesa, suaranya nyaris kehilangan napas.“Nona Aira mengalami kecelakaan kecil di depan minimarket. Saat ini sudah dibawa ke IGD—”“Rumah sakit mana?” potong Arsen cepat. Nada suaranya berubah, tegas dan tajam dalam sekejap.Perawat itu menyebutkan nama rumah sakit beserta lokasinya. Arsen tidak sempat mendengar penjelasan lebih lanjut. Tanpa pikir panjang, sambungan telepon langsung ia tutup sepihak.Tangannya gemetar saat meraih kunci mobil. Ia melangkah cepat keluar apartemen menuju basement. Langkahnya panjang dan terburu-buru, seolah waktu tak mau menunggunya.“Ai, padahal aku cuma palingkan wajah sebentar,” gumamnya pelan, napasnya tersengal. “Kamu sudah terluka sampai masuk rumah sakit.” Suaranya penuh penyesalan, bukan marah, tapi takut yang menekan dada.*****Perjalanan m
Aira dan Arsen serempak menoleh ketika Adrian mengulurkan sesuatu. Ponsel Aira.Arsen menerimanya lebih dulu. Jemarinya menyentuh ujung jari Aira sepersekian detik sebelum ia menyelipkan benda itu ke dalam tas kerjanya. Gerakan kecil yang seolah ingin memastikan semuanya kembali pada tempatnya.“Terima kasih,” ucap Arsen tulus, menatap Adrian dengan sopan namun tetap berjarak. “Kami izin pulang dulu.”Adrian mengangguk. “Hati-hati di jalan, Mr. Arsen, Nona Aira.”Arsen tidak menjawab panjang. Tangannya sudah lebih dulu merangkul pundak Aira, membawanya keluar dari galeri. Langkah mereka seirama, meski napas Aira masih belum sepenuhnya stabil.*****Mobil melaju meninggalkan halaman galeri. Siang terasa menyengat. Jalanan dipenuhi pelajar berseragam dan pekerja yang berbondong mencari makan siang. Kota tetap sibuk, seolah tidak peduli pada badai kecil yang barusan menghantam satu hati.Arsen menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam jemari Aira di atas konsol tengah. Geng
Aira menoleh. Seorang pria mendekat perlahan, kartu identitas penyelenggara tergantung di lehernya. Wajahnya menampilkan campuran ragu dan sopan.“Iya, saya Aira,” jawabnya singkat.Pria itu tersenyum sopan. “Saya pernah menghadiri pameran Anda dua tahun lalu. Tidak menyangka bisa bertemu langsung.”“Terima kasih sudah datang,” balas Aira, suaranya pelan tapi hangat.Pria itu mengangguk, kemudian nada bicaranya menurun. “Jujur, saya sempat mengikuti berita tahun lalu.”Aira menatap pria itu diam, rasanya jantungnya berdetak lebih kencang. Adrian melangkah sedikit ke samping, menjaga jarak tapi matanya tetap tertuju pada Aira. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa tegang dan sunyi.“Soal tuduhan plagiat itu,” lanjut pria tersebut hati-hati. “Apakah itu benar adanya?”Aira menelan ludah. Kedua tangannya mengepal, seolah hanya itu yang bisa ia pegang saat ini. Napasnya tersendat, jantungnya berdetak cepat.Ia mencoba tersenyum, meski gemetar. “Kali ini saya akan lebih berhati-hati lag
“Eh?”Aira terkejut ketika mobil tiba-tiba berbelok dan berhenti tepat di depan sebuah toko bunga sederhana. Papan kayu kecil di atas pintu bertuliskan nama toko dengan huruf yang sedikit pudar. Aneka warna bunga memenuhi etalase depan, segar dan kontras dengan bangunan di sekitarnya.Ia menoleh ke samping. Benar saja, Adrian sudah membuka seatbelt dengan gerakan tenang. Ekspresinya sulit ditebak, seolah pemberhentian ini memang sudah ia rencanakan sejak awal.“Adrian, kita ke toko bunga?” tanyanya, tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.“Iya, Nona,” jawab Adrian sopan. “Apa Nona ingin ikut melihat-lihat?”“Tentu saja,” sahut Aira cepat, antusiasnya spontan.Adrian turun lebih dulu, lalu berputar ke sisi Aira dan membukakan pintu untuknya. Aira ikut turun, masih menyimpan tanda tanya kecil di wajahnya. Aroma bunga segar langsung menyambut begitu mereka melangkah masuk ke dalam toko.“Selamat datang, Mas Adrian,” sapa seorang karyawan dengan senyum ramah. “Mau langsung seperti biasa
Arsen menghela napas pelan. Rahangnya sempat mengeras sebelum akhirnya kembali netral. “Kita sudah bahas ini tadi malam, Ai.”Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya, tapi Arsen memilih menahannya. Wajahnya tetap tenang, tidak memberi celah pada emosi yang sebenarnya muncul. Tatapannya lurus ke Aira, memastikan maksudnya jelas tanpa perlu suara keras.“Kamu juga bilang nggak akan bikin aku merasa nggak nyaman lagi.” Nada Arsen tenang. Terlalu tenang, sampai terasa seperti sesuatu yang sengaja ditahan.Aira melangkah mendekat satu langkah kecil. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman kok.”Tatapan Arsen beralih ke wajahnya, dalam dan penuh perhitungan, seolah sedang menimbang sesuatu yang penting. “Kalau aku minta kamu buat tunggu aku … bisa?”Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Sederhana, tapi rasanya berat. Seolah jawabannya bisa mengubah banyak hal.Aira menggeleng pelan. “Aku sudah bikin jadwal, Sen. Kamu tahu sendiri aku nggak suka jadwalku berantakan.”Keheni
Arsen menegang seketika. Alisnya berkerut tipis, jawaban tertahan di tenggorokan saat pertanyaan itu terasa lebih berat dari yang seharusnya. Hening tipis menggantung, belum sempat pecah— “Maaf lama,” ujar Aira yang kembali dari dapur sambil membawa nampan berisi tiga ge
Aira mengangguk pelan. “Aku angkat dulu ya.”Belum ada jawaban dari Arsen, tetapi jempol Aira sudah lebih dulu menggeser tombol hijau. Ponsel ia dekatkan ke telinga. Sedetik kemudian suara Adrian terdengar, halus dan profesional.“Iya, aku sudah sampai. Hah? Sekarang?”
“Kamu ada masalah lagi dengan papa?” tanya Aira pelan. “Biasanya mama telepon aku kalau kamu lagi ribut sama papa.” Arsen mendengus tipis. “Terus minta tolong supaya kamu yang ngebujuk aku, gitu?” Aira tidak menjawab. Ia menatap rak permen di dekat kasir, berpura-pura tertarik pada sesuatu yang
“Adrian, manajer baru yang dikirim Ivory Gallery,” jawab Aira sambil meraih ponselnya. “Dia yang bantu ngurus jadwal pameran dan promosi aku. Aku angkat dulu ya.” Arsen mengangguk santai, sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu tanpa sedikit pun tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan den







