MasukAira mengusap pipinya kasar, mencoba menghentikan tangis yang makin tidak terkendali. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, kuas itu masih tergenggam tapi terasa terlalu berat. Ruangan yang tadi terasa penuh harap kini dipenuhi sunyi yang menekan dada.
Ia memejamkan mata, mengingat suara Arsen pagi tadi. Tentang pelan-pelan. Tentang tidak apa-apa berhenti sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, meski masih bergetar. “Bukan menyerah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Hanya istirahat sebentar.” Ia meletakkan kuas itu di lantai, lalu memeluk lututnya. Kanvas putih itu masih berdiri di easel, kosong, tapi tidak lagi terasa menghakimi. Untuk hari ini, ia memilih duduk diam, memberi ruang pada dirinya sendiri, tanpa memaksa apa pun untuk lahir. ***** Siang itu, Aira duduk di kafe kecil bernuansa hangat dengan aroma kopi yang menenangkan. Dua perwakilan Ivory Gallery di seberangnya membahas hal-hal teknis dengan nada tenang sambil membuka map berlogo sederhana. Percakapan itu mengalir ringan, tanpa tekanan, terasa ramah dan apa adanya. Aira mendengarkan sambil sesekali mengangguk, jemarinya melingkari cangkir kopi yang sudah mulai hangat di telapak tangan. Degup di dadanya perlahan mereda, digantikan rasa aman yang asing tapi menenangkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sedang diadili, hanya diajak berjalan bersama. Salah satu perwakilan Ivory Gallery tersenyum tipis. “Jika Nona Aira setuju dengan seluruh persyaratan kami, kontrak ini bisa ditandatangani sekarang.” Aira menarik napas kecil. “Boleh saya bertanya dulu?” “Tentu saja, Nona.” “Untuk pameran nanti, apakah saya punya wewenang penuh menentukan tema?” Aira menatap keduanya bergantian. “Lalu, apakah pihak galeri menyediakan manajer selama masa kerja sama?” Pria yang sejak tadi berbicara mengangguk mantap. “Setiap seniman kami beri kebebasan menentukan tema pamerannya sendiri, Nona Aira.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Selama Anda terikat kontrak dengan Ivory Gallery, kami juga menyiapkan manajer pribadi untuk mendampingi.” Tatapan pria itu mengarah lurus pada Aira, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. “Karena itu, kerja sama ini tidak kami batasi hanya sampai pameran selesai. Kami percaya, bekerja dengan Anda adalah pilihan yang tepat untuk perjalanan jangka panjang.” Aira mengangguk pelan. “Saya menerima semua persyaratannya.” Ia kemudian membubuhkan tanda tangan di tempat yang telah ditandai, disusul oleh kedua perwakilan Ivory Gallery. Pria itu lalu menoleh ke rekannya di sebelah, seolah memberi isyarat tanpa kata. Rekannya mengangguk kecil, siap melangkah ke tahap berikutnya dari kerja sama mereka. “Kalau begitu, Nona Aira,” ujarnya dengan senyum profesional. “Mulai hari ini, pria di sebelah saya, Adrian Mahesa, akan menjadi manajer pribadi Anda. Dia yang akan mengurus seluruh kebutuhan Anda, baik untuk proses melukis maupun komunikasi dengan pihak galeri.” Aira menoleh ke Adrian dengan rasa gugup yang bercampur lega. Adrian membalasnya dengan anggukan sopan dan jabat tangan singkat, sikapnya tenang tanpa banyak basa-basi. Kesan pertama itu cukup membuat Aira sedikit lebih rileks untuk hari pertama mereka bekerja sama. “Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Nona Aira,” ucap Adrian dengan nada tenang tapi hangat. Aira tersenyum tipis, “Senang bertemu denganmu juga, Adrian. Semoga kita bisa lancar bekerja sama ke depannya.” Adrian mengangguk, matanya menatap Aira sebentar, “Tentu. Saya akan pastikan semuanya berjalan mulus, jadi Anda bisa fokus pada lukisan.” Setelah perkenalan singkat itu, pembicaraan kembali ke hal-hal teknis yang ringan. Adrian sesekali mencatat, sesekali melirik Aira untuk memastikan ia nyaman dengan arah diskusi. Aira menyadari, untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa sendirian menghadapi langkah barunya ini. Pertemuan itu ditutup dengan jabat tangan dan senyum sopan. Begitu keluar dari kafe, Aira menarik napas panjang, baru menyadari betapa tegang pundaknya sejak tadi. Langkahnya terasa lebih ringan, seolah ada beban kecil yang akhirnya dilepaskan. “Ai,” panggil seseorang. Aira menoleh dan sedikit terkejut mendapati Arsen sudah berdiri di luar kafe. Pria itu bersandar di sisi mobilnya, senyum hangat terbit seolah sore itu memang disisakan khusus untuknya. Padahal pagi tadi, Arsen sempat bilang akan pulang lebih malam. Aira membalas senyum itu sambil melangkah mendekat. “Katanya pulang telat?” “Masalahnya kelar lebih cepat dari perkiraan,” jawab Arsen santai. “Jadi sekalian aku jemput kamu.” Tatapan Arsen turun sejenak ke wajah Aira, mencari tanda-tanda yang ia kenal betul dari sahabatnya itu. “Kamu baik-baik saja?” Aira mengangguk pelan. “Iya. Semuanya berjalan lancar. Kontraknya juga sudah ditandatangani.” “Good job, Ai.” Arsen mengacak rambut Aira sebentar, kebiasaannya sejak dulu. “Jadi sekarang mau grocery dulu atau langsung makan?” “Grocery dulu aja, gimana?” tawar Aira, sudut bibirnya terangkat tipis. “Ada resep yang ingin aku coba malam ini.” Arsen terkekeh pelan, tatapannya sekilas melunak. “Kalau kamu yang masak, aku mah nurut,” ujarnya ringan. “Peraturannya tetap sama, ya. Kamu di dapur, aku bagian beresin semua piring kotor.” Ia membuka pintu mobil lebih lebar, memberi isyarat agar Aira masuk lebih dulu. “Anggap aja barter,” lanjutnya santai. “Masakan enak dibayar dengan tangan pegal di wastafel.” Aira tertawa kecil sambil masuk ke dalam mobil. “Adil,” katanya singkat. Arsen menutup pintu mobil, lalu melangkah ke sisi kemudi. Mesin menyala halus, dan mobil perlahan meninggalkan area kafe. Di dalam kabin, suasananya terasa hangat dan tenang, seperti rutinitas kecil yang tanpa sadar telah menjadi kebiasaan mereka berdua. Mobil melaju perlahan menyusuri jalan sore yang mulai ramai, sinar matahari menembus kaca depan dengan hangat. Aira menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela, membiarkan pikirannya mengambang sejenak. Di sampingnya, Arsen menyetir sambil memutar radio pelan, menciptakan suasana tenang. “Mau dengerin lagu?” tawar Arsen santai. Aira menoleh ke samping, senyum manis masih terpatri di bibirnya. “Boleh. Bruno Mars gimana?” “Anything for you,” jawab Arsen ringan. Lagu mulai mengalun, memenuhi kabin mobil dengan irama hangat. Sepanjang intro, mereka bernyanyi pelan, menyesuaikan nada satu sama lain. Begitu chorus tiba, suara mereka terdengar lebih lantang, bergabung dalam harmoni sederhana yang membuat suasana semakin hangat. When I see your face There's not a thing that I would change Cause you're amazing Just the way you are Saat lagu berakhir, Aira menarik napas panjang sambil tersenyum, kehangatan itu menjalar hingga ujung jari. Arsen menoleh, matanya berbinar, lalu menepuk lembut bahu Aira. Tanpa mereka sadari, mobil hampir tiba di tujuan, jalanan sore mulai dipenuhi lampu-lampu hangat dari toko dan kafe di sekitarnya. “Udah siap buat grocery, Chef Aira?” tanya Arsen santai, senyumnya tipis tapi penuh arti. Aira terkekeh ringan. “Tentu saja.” Namun tepat saat Aira menatap bangunan supermarket yang mulai terlihat di kejauhan, ponselnya bergetar di tas. Layar menampilkan nama Adrian. Aira mengernyit sejenak, rasa penasaran menyelinap di dadanya. “Siapa?” tanya Arsen, menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. . . . ~ To Be Continue ~“Kamu ada masalah lagi dengan papa?” tanya Aira pelan. “Biasanya mama telepon aku kalau kamu lagi ribut sama papa.”Arsen mendengus tipis. “Terus minta tolong supaya kamu yang ngebujuk aku, gitu?”Aira tidak menjawab. Ia menatap rak permen di dekat kasir, berpura-pura tertarik pada sesuatu yang sebenarnya tak ia perhatikan. Keduanya sama-sama paham, ini bukan tempat yang tepat untuk membuka urusan pribadi.Bunyi beep mesin kasir menutup percakapan di antara mereka. Arsen segera mengeluarkan kartu kreditnya, gerakannya otomatis, seolah kebiasaan itu sudah tertanam tanpa perlu dipikirkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada komentar, semuanya berjalan seperti biasa.Seperti yang selalu terjadi, Arsen mengambil kantong belanja yang paling besar dan berat. Aira kebagian yang kecil dan ringan di tangan. Arsen sengaja membiarkannya begitu, memberi ruang agar Aira tetap merasa bebas tanpa harus selalu berada di bawah perlindungan berlebihan.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Arsen
“Adrian, manajer baru yang dikirim Ivory Gallery,” jawab Aira sambil meraih ponselnya. “Dia yang bantu ngurus jadwal pameran dan promosi aku. Aku angkat dulu ya.” Arsen mengangguk santai, sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu tanpa sedikit pun tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan dengan ekspresi tenang. Namun ada sesuatu yang tertahan di balik tatapannya, samar tapi sulit diabaikan. “Halo?” suaranya lembut, dengan nada penasaran yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Selamat sore, Nona Aira. Maaf mengganggu,” suara Adrian terdengar tenang dan profesional, rapi seperti caranya bekerja. “Apakah Anda masih dalam perjalanan?” Aira menelan ludah kecil. “Iya, aku lagi di mobil. Ada apa, Adrian?” “Baik,” jawab Adrian tenang. “Saya hanya ingin memastikan Anda sudah menerima email terakhir dari galeri. Ada beberapa dokumen tambahan untuk pameran nanti, dan saya butuh konfirmasi Anda sebelum materi promosi dicetak.” Aira mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya. “Oke,
Aira mengusap pipinya kasar, mencoba menghentikan tangis yang makin tidak terkendali. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, kuas itu masih tergenggam tapi terasa terlalu berat. Ruangan yang tadi terasa penuh harap kini dipenuhi sunyi yang menekan dada.Ia memejamkan mata, mengingat suara Arsen pagi tadi. Tentang pelan-pelan. Tentang tidak apa-apa berhenti sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, meski masih bergetar.“Bukan menyerah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Hanya istirahat sebentar.”Ia meletakkan kuas itu di lantai, lalu memeluk lututnya. Kanvas putih itu masih berdiri di easel, kosong, tapi tidak lagi terasa menghakimi. Untuk hari ini, ia memilih duduk diam, memberi ruang pada dirinya sendiri, tanpa memaksa apa pun untuk lahir.*****Siang itu, Aira duduk di kafe kecil bernuansa hangat dengan aroma kopi yang menenangkan. Dua perwakilan Ivory Gallery di seberangnya membahas hal-hal teknis dengan nada tenang sambil membuka map berlogo sed
Aira tidak langsung menjawab. Jarum jam di dinding seolah berdetak lebih keras, tiap detiknya menghantam pelan ke telinganya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, lalu terlepas lagi, gelisah tanpa tujuan.“Aku … takut,” katanya akhirnya. Kejujuran itu keluar dengan suara yang nyaris tak terdengar.Arsen mengernyit. “Takut kenapa?”Aira memijat pelipisnya pelan, seakan mencoba menenangkan riuh di kepalanya sendiri. “Takut gagal lagi. Takut semua orang masih ingat skandal itu. Takut mereka cuma mau namaku, bukan lukisanku.”Arsen menatapnya tanpa menyela. Ketakutan itu terlihat jelas di mata Aira, nyata dan tak dibuat-buat. Ada sesuatu di sana yang membuat Arsen memilih diam.Aira tersenyum tipis, penuh kegetiran. “Aku juga takut kalau masuk ke dunia itu lagi, kepalaku nggak kuat. Sekarang aja aku masih sering mimpi buruk.”Arsen meletakkan ponsel di meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. “Ai, kamu nggak harus memaksakan diri.”Aira menggeleng pelan. “Aku tahu, tapi aku ju
“Aku taruh di mana kardus ini?”Aira berhenti mengancingkan tas kanvasnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Arsen berdiri di tengah ruang tamu apartemen mereka dengan satu kardus besar di pelukan. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya berdebu, dan dari cara ia berdiri, terlihat jelas ia sudah kelelahan sejak tadi.“Kardus yang isinya buku-buku taruh aja di dekat jendela,” jawab Aira. “Nanti biar aku pilah lagi.”Arsen mengangguk, tapi kakinya tidak langsung melangkah. Tatapannya justru jatuh ke tas kanvas yang tergantung di bahu Aira. “Kamu bawa kuas juga?”Pertanyaan itu membuat Aira terdiam. Tangannya yang tadi sibuk merapikan tali tas berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya menatap ujung tali itu, seolah kata-kata Arsen barusan membuka pintu ke sesuatu yang ingin ia kunci rapat-rapat.“Buat apa?” tanyanya datar.Arsen berkedip, lalu tersenyum kecil, agak canggung. “Nggak tahu. Refleks aja nanya.”Aira menghela napas pelan. “Aku nggak ngelukis lagi, Sen.”“Aku tahu.”“Ka







