Home / Young Adult / RUMAHKU ADALAH KAMU / Bab 05. Suara yang Menghakimi

Share

Bab 05. Suara yang Menghakimi

Author: Kenzie
last update Last Updated: 2026-02-10 14:30:58

“Kamu ada masalah lagi dengan papa?” tanya Aira pelan. “Biasanya mama telepon aku kalau kamu lagi ribut sama papa.”

Arsen mendengus tipis. “Terus minta tolong supaya kamu yang ngebujuk aku, gitu?”

Aira tidak menjawab. Ia menatap rak permen di dekat kasir, berpura-pura tertarik pada sesuatu yang sebenarnya tak ia perhatikan. Keduanya sama-sama paham, ini bukan tempat yang tepat untuk membuka urusan pribadi.

Bunyi beep mesin kasir menutup percakapan di antara mereka. Arsen segera mengeluarkan kartu kreditnya, gerakannya otomatis, seolah kebiasaan itu sudah tertanam tanpa perlu dipikirkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada komentar, semuanya berjalan seperti biasa.

Seperti yang selalu terjadi, Arsen mengambil kantong belanja yang paling besar dan berat. Aira kebagian yang kecil dan ringan di tangan. Arsen sengaja membiarkannya begitu, memberi ruang agar Aira tetap merasa bebas tanpa harus selalu berada di bawah perlindungan berlebihan.

“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Arsen sambil melangkah keluar supermarket.

Aira meliriknya sambil tersenyum kecil. “Kamu mau makan di luar atau makan masakanku?”

“Opsi kedua,” jawab Arsen tanpa ragu, langsung membukakan pintu mobil.

Mesin mobil menyala dan perlahan membawa mereka meninggalkan area supermarket. Kantong belanja tersusun rapi di bagasi, tak bergeser sedikit pun. Di dalam kabin, suasana kembali tenang, diisi suara mesin dan musik yang diputar pelan.

Perjalanan pulang diwarnai diam yang terasa berbeda. Tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya hangat. Aira mengenal betul jeda seperti ini, Arsen sedang menutup diri, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali urusan dengan papanya kembali muncul.

“Sen—”

“Ai, kali ini jangan dulu,” potong Arsen pelan tapi tegas, tetap menatap jalan di depannya.

Aira terdiam. Kata-kata yang sudah siap di ujung lidahnya menguap begitu saja. Ia mengenali nada itu dengan baik, bukan marah, hanya lelah.

Ia mengangguk kecil meski Arsen tak bisa melihatnya. Tangannya meremas ujung tas pelan, sekadar menyalurkan rasa gelisah. Untuk saat ini, Aira memilih menghormati jarak yang sedang Arsen bangun.

Mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen mereka. Mesin dimatikan, namun Arsen tetap bertahan di balik kemudi, tatapannya lurus ke depan. Hening singkat menggantung di antara mereka, lebih berat dari perjalanan pulang tadi.

Aira meliriknya sekilas. “Sen, aku nggak maksa kamu cerita sekarang,” ucapnya pelan, nadanya hati-hati.

Arsen menghela napas panjang, jemarinya masih mencengkeram setir. “Aku tahu, Ai. Makasih.”

Hening singkat menyusul. Tak ada yang bicara. Waktu terasa berhenti sejenak.

“Aku cuma capek aja,” lanjut Arsen akhirnya, suaranya merendah. “Kalau soal Mama dan Papa, rasanya selalu kayak dipaksa balik ke tempat yang sebisa mungkin ingin aku jauhi.”

Aira mengangguk pelan. “Aku ngerti. Ayo turun dulu.”

Mereka keluar dari mobil dan membuka bagasi. Tanpa perlu bicara, Arsen mengambil kantong belanja paling besar, sementara Aira membawa sisanya. Langkah mereka berdampingan menuju pintu masuk apartemen, pelan dan seirama, seperti rutinitas yang sudah melekat.

Dengan tangan yang kosong, Aira membuka pintu apartemen mereka. Udara di dalam terasa tenang, sedikit hangat, menyambut kepulangan. Mereka langsung menuju dapur dan meletakkan kantong belanja di atas meja, satu per satu, tanpa tergesa.

“Mau aku bantu susun di kulkas?” tawar Arsen, suaranya terdengar lebih ringan dari sebelumnya.

Aira menggeleng pelan sambil mulai mengeluarkan belanjaan. “Biar aku saja sekalian masak. Kamu mandi dulu.”

“Ya sudah.” Arsen mengangguk singkat sebelum berbalik menuju kamar.

Sementara itu, Aira kembali menata belanjaan di dapur, membiarkan gerakan tangannya menenangkan pikiran. Namun ketenangan itu buyar saat ponselnya bergetar di atas meja. Nama Mama Arsen muncul di layar, membuat napas Aira tertahan sesaat, dan ia refleks melirik ke arah pintu kamar untuk memastikan Arsen benar-benar sudah masuk.

“Halo, Ma,” ucapnya akhirnya, pelan namun mantap.

“Kamu ke mana saja?” suara di seberang terdengar tajam, tanpa basa-basi. “Mama sudah bilang, kalau Mama telepon harus langsung diangkat. Atau sekarang kamu merasa Arsen itu milik kamu sepenuhnya sampai telepon Mama pun tidak penting?”

Aira menutup mata sejenak, menarik napas pelan. “Maaf, Ma. Tadi Aira masih di jalan pulang.”

“Mama tidak butuh maaf kamu.” Nadanya dingin. “Arsen di mana? Kenapa pesan Mama tidak dibalas?”

Aira memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Tadi Arsen masih ada urusan kantor, Ma. Sekarang baru sampai apartemen.”

“Oh.” Satu kata, datar. “Kalau begitu, nanti suruh dia balas chat Mama.” Ia menambahkan, lebih pelan tapi tegas, “Jangan biasakan mengabaikan grup keluarga.”

“Iya, Ma.”

Di seberang sana, Mama Arsen terdiam sejenak, seperti sedang menimbang sesuatu. “Kalian pulangnya bareng?” tanyanya kemudian, nadanya terdengar lebih lunak, meski tetap menyimpan kendali.

“Iya, Ma.”

“Habis dari mana saja?” lanjutnya, tanpa jeda yang memberi ruang untuk bernapas.

“Aira tadi bertemu perwakilan Ivory Gallery,” jawab Aira hati-hati. “Terus Arsen datang buat jemput.”

“Oh.” Respons itu terdengar singkat, nyaris tanpa emosi. “Mau comeback kamu, ya?”

“Iya, Ma.”

“Bagus,” katanya datar. “Setidaknya kamu tidak jadi parasit. Arsen bisa fokus nabung buat masa depannya.” Ia berhenti sejenak, jeda yang cukup lama untuk membuat dada Aira mengeras. “Jangan sampai kejadian setahun lalu terulang. Mama tidak mau dengar soal plagiat lagi.”

Jari Aira mencengkeram ponsel lebih erat. “Aira akan hati-hati, Ma.”

“Harus itu,” balas Mama Arsen dingin.

Sedetik kemudian sambungan terputus tanpa aba-aba, meninggalkan keheningan yang terasa berat di dapur. Sunyi langsung mengisi ruangan, membuat Aira berdiri diam dengan napas tertahan. Dapur itu mendadak terasa lebih sempit dari sebelumnya.

Aira menatap layar ponselnya yang gelap. Dadanya terasa sesak. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menancap lebih dalam dari yang ingin ia akui.

“Ai.”

Suara Arsen membuatnya tersentak. Ia refleks menoleh. Arsen sudah berdiri di luar kamar.

“Kamu belum mulai masak?” tanya Arsen, lalu pandangannya meluncur ke ponsel yang masih Aira genggam. “Manajer kamu telepon lagi?”

Aira cepat menggeleng. “Bukan.” Ia mengangkat ponsel sedikit, nadanya dibuat seringan mungkin. “Aku cuma nonton tutorial masak.”

Senyum tipis sempat muncul di bibir Aira, lalu lenyap saat ponsel di tangannya kembali bergetar. Ia tidak langsung bereaksi, jantungnya justru berdegup lebih cepat. Ada takut yang menyelinap, khawatir nama yang sama kembali muncul dan menyeret Arsen ke pertengkaran lain yang belum selesai.

“Ai,” panggil Arsen, pandangannya berpindah dari wajah Aira ke ponsel yang terus bergetar.

“Iya,” jawab Aira singkat, nyaris berbisik.

“Kamu bohong, ya, sama aku?”

Aira terdiam. Ia tidak menggeleng, tidak juga mengiyakan. Diam itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Arsen, menegaskan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya, meski ia tetap memilih menahan diri dan tidak memaksa Aira bicara sebelum siap.

“Coba dilihat dulu siapa yang telepon, Ai,” ucap Arsen lebih pelan. “Takutnya penting.”

Dengan ragu, Aira membalikkan ponselnya. Nama yang tertera di layar membuatnya menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya perlahan mengendur.

“Siapa?” tanya Arsen, tatapannya tak lepas dari wajah Aira. “Adrian?”

Aira menggeleng pelan. “Bukan, Sen.”

Arsen menarik napas tipis, sorot matanya mengeras sedikit. “Terus siapa?”

.

.

.

~ To Be Continue ~

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 05. Suara yang Menghakimi

    “Kamu ada masalah lagi dengan papa?” tanya Aira pelan. “Biasanya mama telepon aku kalau kamu lagi ribut sama papa.”Arsen mendengus tipis. “Terus minta tolong supaya kamu yang ngebujuk aku, gitu?”Aira tidak menjawab. Ia menatap rak permen di dekat kasir, berpura-pura tertarik pada sesuatu yang sebenarnya tak ia perhatikan. Keduanya sama-sama paham, ini bukan tempat yang tepat untuk membuka urusan pribadi.Bunyi beep mesin kasir menutup percakapan di antara mereka. Arsen segera mengeluarkan kartu kreditnya, gerakannya otomatis, seolah kebiasaan itu sudah tertanam tanpa perlu dipikirkan. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada komentar, semuanya berjalan seperti biasa.Seperti yang selalu terjadi, Arsen mengambil kantong belanja yang paling besar dan berat. Aira kebagian yang kecil dan ringan di tangan. Arsen sengaja membiarkannya begitu, memberi ruang agar Aira tetap merasa bebas tanpa harus selalu berada di bawah perlindungan berlebihan.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Arsen

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 04. Getar di Tas

    “Adrian, manajer baru yang dikirim Ivory Gallery,” jawab Aira sambil meraih ponselnya. “Dia yang bantu ngurus jadwal pameran dan promosi aku. Aku angkat dulu ya.” Arsen mengangguk santai, sorot matanya menyimpan rasa ingin tahu tanpa sedikit pun tekanan. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan dengan ekspresi tenang. Namun ada sesuatu yang tertahan di balik tatapannya, samar tapi sulit diabaikan. “Halo?” suaranya lembut, dengan nada penasaran yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Selamat sore, Nona Aira. Maaf mengganggu,” suara Adrian terdengar tenang dan profesional, rapi seperti caranya bekerja. “Apakah Anda masih dalam perjalanan?” Aira menelan ludah kecil. “Iya, aku lagi di mobil. Ada apa, Adrian?” “Baik,” jawab Adrian tenang. “Saya hanya ingin memastikan Anda sudah menerima email terakhir dari galeri. Ada beberapa dokumen tambahan untuk pameran nanti, dan saya butuh konfirmasi Anda sebelum materi promosi dicetak.” Aira mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya. “Oke,

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 03. Langkah Pelan Aira

    Aira mengusap pipinya kasar, mencoba menghentikan tangis yang makin tidak terkendali. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, kuas itu masih tergenggam tapi terasa terlalu berat. Ruangan yang tadi terasa penuh harap kini dipenuhi sunyi yang menekan dada.Ia memejamkan mata, mengingat suara Arsen pagi tadi. Tentang pelan-pelan. Tentang tidak apa-apa berhenti sejenak. Napasnya ditarik dalam-dalam, meski masih bergetar.“Bukan menyerah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Hanya istirahat sebentar.”Ia meletakkan kuas itu di lantai, lalu memeluk lututnya. Kanvas putih itu masih berdiri di easel, kosong, tapi tidak lagi terasa menghakimi. Untuk hari ini, ia memilih duduk diam, memberi ruang pada dirinya sendiri, tanpa memaksa apa pun untuk lahir.*****Siang itu, Aira duduk di kafe kecil bernuansa hangat dengan aroma kopi yang menenangkan. Dua perwakilan Ivory Gallery di seberangnya membahas hal-hal teknis dengan nada tenang sambil membuka map berlogo sed

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 02. Percaya Sekali Lagi

    Aira tidak langsung menjawab. Jarum jam di dinding seolah berdetak lebih keras, tiap detiknya menghantam pelan ke telinganya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, lalu terlepas lagi, gelisah tanpa tujuan.“Aku … takut,” katanya akhirnya. Kejujuran itu keluar dengan suara yang nyaris tak terdengar.Arsen mengernyit. “Takut kenapa?”Aira memijat pelipisnya pelan, seakan mencoba menenangkan riuh di kepalanya sendiri. “Takut gagal lagi. Takut semua orang masih ingat skandal itu. Takut mereka cuma mau namaku, bukan lukisanku.”Arsen menatapnya tanpa menyela. Ketakutan itu terlihat jelas di mata Aira, nyata dan tak dibuat-buat. Ada sesuatu di sana yang membuat Arsen memilih diam.Aira tersenyum tipis, penuh kegetiran. “Aku juga takut kalau masuk ke dunia itu lagi, kepalaku nggak kuat. Sekarang aja aku masih sering mimpi buruk.”Arsen meletakkan ponsel di meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. “Ai, kamu nggak harus memaksakan diri.”Aira menggeleng pelan. “Aku tahu, tapi aku ju

  • RUMAHKU ADALAH KAMU   Bab 01. Panggilan dari Masa Lalu

    “Aku taruh di mana kardus ini?”Aira berhenti mengancingkan tas kanvasnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati Arsen berdiri di tengah ruang tamu apartemen mereka dengan satu kardus besar di pelukan. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya berdebu, dan dari cara ia berdiri, terlihat jelas ia sudah kelelahan sejak tadi.“Kardus yang isinya buku-buku taruh aja di dekat jendela,” jawab Aira. “Nanti biar aku pilah lagi.”Arsen mengangguk, tapi kakinya tidak langsung melangkah. Tatapannya justru jatuh ke tas kanvas yang tergantung di bahu Aira. “Kamu bawa kuas juga?”Pertanyaan itu membuat Aira terdiam. Tangannya yang tadi sibuk merapikan tali tas berhenti di udara. Untuk sesaat, ia hanya menatap ujung tali itu, seolah kata-kata Arsen barusan membuka pintu ke sesuatu yang ingin ia kunci rapat-rapat.“Buat apa?” tanyanya datar.Arsen berkedip, lalu tersenyum kecil, agak canggung. “Nggak tahu. Refleks aja nanya.”Aira menghela napas pelan. “Aku nggak ngelukis lagi, Sen.”“Aku tahu.”“Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status