로그인"Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.
Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya.
"Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"
Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya.
"Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.
Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh.
"Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun.
"Mbak Anggi, aku bisa jelaskan. Tunggu dulu, Mbak!"
Tono akhirnya mengejar dan langsung meraih pergelangan tangan wanita itu dengan lembut. Anggi pun otomatis berhenti melangkah karena tarikan kecil dari Tono yang menahan pergerakannya.
Tono mengamati wajah Anggi dari samping. Ia melihat kepala wanita itu sedikit mendongak, matanya setengah terpejam, seolah sedang merasakan sesuatu yang aneh dari sentuhan tersebut.
"Mbak Anggi?" panggil Tono pelan.
"Hah!" Anggi tergagap, seolah baru saja tersadar dari lamunan singkatnya. Ia buru-buru melepaskan genggaman Tono dengan wajah memerah. "Apa sih, Ton, pegang-pegang segala!"
"Maaf, Mbak ...," ucap Tono serba salah, membiarkan tangannya ditepis begitu saja tanpa berani menatap mata Anggi lagi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Anggi mempercepat langkah kakinya menjauh dari pemuda itu. Ia sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Tono hanya bisa terdiam dengan penuh rasa bersalah di tengah jalan tanah itu. Tepat saat Tono berbalik badan hendak menuju motornya, sebuah suara mengagetkannya.
Gubrak!
"Aduh!" teriak Anggi dari kejauhan dengan suara tertahan.
Tono segera menoleh ke arah suara dengan mata membelalak. "Mbak Anggi!" panggilnya refleks.
Dengan sedikit berlari, Tono menghampiri Anggi yang ternyata sudah tersungkur di atas tanah. Tono langsung berjongkok di samping wanita yang tengah meringis memegangi pergelangan kaki kirinya itu.
"Mbak Anggi nggak apa-apa? Bisa berdiri, Mbak?" tanya Tono penuh kekhawatiran.
Tanpa membuang waktu, Tono mencoba membantu Anggi untuk bangkit berdiri. Ia memegang bahu dan lengan wanita itu dengan hati-hati.
"Nggak apa-apa, Ton. Aku bisa sendiri," tolak Anggi setengah gengsi sambil mencoba menyeimbangkan diri. "Aduh ...."
Baru saja mencoba bertumpu, Anggi kembali merintih kesakitan. Wajah cantiknya berkerut menahan ngilu di area pergelangan kaki. Tono dengan sigap menahan pinggang wanita itu agar tidak kembali jatuh ke tanah.
"Kayaknya terkilir itu, Mbak. Mbak sih, kenapa juga pakai lari segala?" omel Tono sedikit terbawa suasana. "Kayak mau tak-apain aja lari ketakutan begitu."
"Ini gara-gara kamu, Ton!" sungut Anggi, menatap Tono dengan mata berkaca-kaca menahan sakit. "Tanggung jawab kamu sekarang!"
Tono mengerjap kebingungan mendengar tuntutan itu. "Lah, kok saya, Mbak?"
"Aduh ... sakit ini," ringis Anggi, sama sekali tak memedulikan bantahan Tono.
Tono menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa bingung harus berbuat apa, tetapi meninggalkan Anggi sendirian jelas bukan pilihan yang benar.
"Tono, antar saya pulang!" perintah Anggi dengan nada setengah memaksa.
"Tapi, Mbak ... dagangan saya di sana gimana?" alasan Tono mencoba menawar.
"Kamu harus tanggung jawab pokoknya!" tukas Anggi tak mau menerima alasan apa pun.
"I-iya deh, Mbak. Saya antar Mbak pulang sekarang," ucap Tono mengalah seolah tak punya pilihan lain.
Tono mulai mengalungkan salah satu lengan Anggi ke lehernya. Ia kemudian melingkarkan lengannya di pinggang ramping wanita itu. Rumah Anggi memang tidak jauh dari rumah Sinta sehingga perjalanan berjalan kaki tidak memakan waktu lama.
Tono menuntun Anggi berjalan pelan-pelan. Jantung pemuda itu tiba-tiba berdegup tak karuan. Aroma wangi dari tubuh Anggi terus menguar, mengganggu pikirannya.
Tono merasakan sesuatu yang empuk tak sengaja menempel di lengan atasnya. Setiap kali mereka melangkah, gesekan itu terasa semakin nyata. Tono menelan ludah, mencoba memfokuskan pandangannya tajam ke depan.
Kenyal. Aduh, kesenggol lagi. Marah enggak, ya? batin Tono menjerit tertahan bercampur rasa khawatir.
Anggi, yang seolah menyadari dadanya bersentuhan dengan lengan Tono, bukannya menjauh. Wanita itu malah sengaja sedikit merapatkan badannya dengan alasan menjaga keseimbangan kaki yang sakit.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Tono. Sentuhan itu benar-benar menguji pertahanannya yang sejak tadi sudah goyah saat digoda di dalam kamar Sinta.
Haduh, Mbak Anggi ini ... jangan sampai ketahuan kalau aku deg-degan, rutuk Tono dalam hati. Nanti marah lagi kayak pagi tadi, mampus aku.
"Ton ... sampai dalam, ya," bisik Anggi pelan, memecah keheningan di antara mereka.
"Hah? I-iya, Mbak," jawab Tono gelagapan, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar aneh.
Mereka akhirnya tiba di teras rumah Anggi. Tono perlahan membuka pintu depan yang kebetulan tidak dikunci dan menuntun wanita itu masuk melewati ruang tamu.
Tono mengantar Anggi dan membantunya duduk dengan perlahan di atas sofa. Setelah memastikan wanita itu duduk nyaman, ia berdiri dengan canggung, bingung harus melakukan apa lagi.
"Tono, kamu bisa mijit, kan?" tanya Anggi sambil mengusap-usap pergelangan kakinya. "Pijitin Mbak, Ton. Sakit banget ini ...."
Mendengar permintaan bernada manja itu, Tono menatap kaki jenjang Anggi dengan gugup. "B-bisa sih, Mbak ... dikit."
Anggi tersenyum penuh arti menatap wajah polos pemuda di depannya. Matanya tak lepas dari mata Tono yang sedari tadi terlihat salah tingkah.
"Tapi di kamar aja, ya, Ton," ucap Anggi dengan suara pelan yang terdengar sedikit parau. "Jangan di sini."
"Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas
"Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A
"A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny
“Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh
Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir
Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang."Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras."Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu."Tono! Heh, kok bablas?!"Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar