เข้าสู่ระบบ"Mbak ... jangan ...," Tono berusaha keras menarik tangannya.Tono menahan napas sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Ia memalingkan pandangan ke arah pintu, tak berani menatap pemandangan menggoda di bawahnya. Jantungnya berdegup makin kencang melihat kenekatan Anggi.Namun, Anggi tidak membiarkan Tono lolos begitu saja dari genggamannya. Ia menahan pergelangan tangan Tono dengan cengkeraman yang cukup kuat."Kenapa, Ton? Aku tidak cantik, ya?" goda Anggi dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit merajuk."Bukan begitu, Mbak ...," jawab Tono dengan suara bergetar dan napas memburu.Tono berusaha sekuat tenaga menahan persendian sikunya supaya tidak benar-benar menyentuh dada Anggi. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya."Mbak ... tadi katanya pijat saja," ucap Tono mengingatkan, masih tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Anggi."Iya, Tono ... ini juga Mbak, kan, minta pijat," kilah Anggi santai.Anggi malah semakin sengaja mendekatkan dirinya ke arah Tono. Aroma
"Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas
"Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A
"A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny
“Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh
Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir