Mag-log inTono menundukkan kepalanya dan mulai melumat gundukan kenyal milik Anggi dengan lembut. Ia memainkan bibir dan lidahnya secara teratur di atas kulit mulus itu. Sentuhan basah yang tiba-tiba itu memberikan efek luar biasa hingga membuat Anggi seketika menggelinjang liar."Emm ... ah, Ton ... iya, di situ ...," desah Anggi dengan mata terpejam rapat.Tono tidak hanya mengisap area sensitif itu dengan ritme yang stabil. Ia juga memainkan ujung bukit kembar Anggi menggunakan ujung lidahnya. Sapuan pelan pada bagian puncak yang sudah membengkak itu membuat Anggi makin kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.Pemuda itu tidak membiarkan salah satu bagian tubuh Anggi diam tak terpakai. Sambil terus mengisap bagian kanan, Tono melakukan remasan lembut, tetapi cukup dalam ke payudara Anggi yang sebelah lagi. Sentuhan ganda itu mengirimkan gelombang sensasi yang membakar seluruh tubuh Anggi."Ah ... Tono ... Tono ...," jerit Anggi pelan dengan napas terengah-engah."Jangan berhenti, please ...
"Mbak Anggi ...," panggil Tono dengan suara lirih dan bergetar.Jari telunjuk Anggi langsung menempel lembut tepat di depan bibir Tono."Ssst ... kamu diam saja. Biar Mbak yang mulai," bisik Anggi tepat di depan wajahnya dengan nada menggoda.Anggi perlahan melepaskan diri dari pelukan Tono sedari tadi. Ia kemudian bergerak sedikit untuk mengubah posisinya.Tanpa ragu, Anggi beringsut naik dan langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan Tono. Posisi mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang sangat intim.Karena posisi Anggi yang berada tepat di atas pahanya, wajah Tono kini sejajar dengan dada Anggi. Tono tampak semakin kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan dalam posisi menantang ini."Pegang pinggangku, Ton," ucap Anggi yang seolah menyadari kebingungan Tono.Melihat Tono yang masih mematung kaku, Anggi tersenyum kecil. Ia lalu meraih kedua tangan Tono dan menuntunnya secara perlahan-lahan.Tangan kasar Tono akhirnya dilingkarkan erat pada pinggang ramping Anggi. Tono
"Mbak ... jangan ...," Tono berusaha keras menarik tangannya.Tono menahan napas sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Ia memalingkan pandangan ke arah pintu, tak berani menatap pemandangan menggoda di bawahnya. Jantungnya berdegup makin kencang melihat kenekatan Anggi.Namun, Anggi tidak membiarkan Tono lolos begitu saja dari genggamannya. Ia menahan pergelangan tangan Tono dengan cengkeraman yang cukup kuat."Kenapa, Ton? Aku tidak cantik, ya?" goda Anggi dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit merajuk."Bukan begitu, Mbak ...," jawab Tono dengan suara bergetar dan napas memburu.Tono berusaha sekuat tenaga menahan persendian sikunya supaya tidak benar-benar menyentuh dada Anggi. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya."Mbak ... tadi katanya pijat saja," ucap Tono mengingatkan, masih tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Anggi."Iya, Tono ... ini juga Mbak, kan, minta pijat," kilah Anggi santai.Anggi malah semakin sengaja mendekatkan dirinya ke arah Tono. Aroma
"Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas
"Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A
"A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny







