공유

Bab 7

작가: Khai Tsan
last update 게시일: 2026-10-08 22:30:41

"Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.

Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.

Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan.

"Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku."

"I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.

Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kasur.

"Sini, kamu duduk di samping Mbak," perintah Anggi seraya menepuk ruang kosong di atas kasur, tepat di sebelahnya.

"Tapi, Mbak ...," ucap Tono ragu-ragu, bersiap untuk duduk di lantai saja.

"Kebanyakan 'tapi' kamu ini," potong Anggi cepat. "Kan mau mijit Mbak, masa sambil berdiri gitu?"

Dengan perasaan ragu dan serba salah, Tono pun menurut dan duduk di samping Anggi. Kasur itu sedikit ambles ke bawah karena beban tubuh mereka berdua, membuat Tono menelan ludah dan berusaha menjaga jarak.

Tanpa merasa canggung sedikit pun, Anggi mengangkat satu kakinya dan meletakkannya tepat di atas pangkuan Tono. Gerakan santai itu otomatis membuat ujung dasternya tersingkap ke atas, mengekspos paha mulusnya.

Tono tersentak kaget dan menahan napas sejenak. Ia sama sekali tidak berani memandang ke arah lain selain punggung kaki Anggi, meski jantungnya berdebar tidak karuan di dalam dada. Dengan tangan sedikit gemetar, Tono mulai memijit pergelangan kaki itu perlahan.

"Ah ... pelan, Ton ...," tiba-tiba Anggi mendesah pelan dengan mata setengah terpejam.

"Aduh, maaf. Terlalu kuat, ya, Mbak?" tanya Tono panik, buru-buru mengendurkan tekanan jemarinya.

"Nggak apa-apa, Ton. Terusin aja," balas Anggi dengan napas yang mulai tak beraturan.

Tono kembali melanjutkan pijatannya dengan lebih hati-hati, memutar ibu jarinya di area otot yang tegang. Alih-alih mereda, suara wanita di sebelahnya justru terdengar semakin jelas.

"Emm ... uh, Tono ...," rintih Anggi panjang.

"Gimana, Mbak?" ucap Tono dengan nada khawatir mendengarnya.

"Sakit ... tapi enak, Ton," jawab Anggi sambil menggigit bibir bawahnya menahan sensasi linu.

Tono memicingkan mata, mencoba memeriksa area di sekitar mata kaki yang terlihat sedikit memerah. Ia harus membereskan urat yang salah posisi ini agar wanita itu tak kesakitan lagi.

"Yang ini kayaknya bengkak, Mbak. Aku coba luruskan sarafnya, ya," ucap Tono meminta izin.

Tanpa menunggu balasan, Tono menekan bagian urat yang menggumpal itu dengan tenaga ekstra.

"Ah! Ton, ah ... sakit!" jerit Anggi refleks.

Karena merasa tidak kuat menahan ngilu yang tiba-tiba menyerang, Anggi sampai refleks tersentak ke belakang. Tubuhnya rebah mendadak ke arah kasur, dan gerakan mengejutkan itu membuat dasternya tersibak jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Tono tanpa sengaja bisa melihat sekilas gundukan rahasia di antara paha Anggi. Pemuda itu langsung refleks menoleh tajam ke arah dinding dan memejamkan matanya rapat-rapat. Tono membatin ngeri, takut kena marah habis-habisan seperti pagi tadi saat ia tak sengaja melihat robekan di daster wanita itu.

"Ton ...," panggil Anggi memecah keheningan yang tegang.

"Enggak, Mbak! Sumpah, aku nggak lihat beneran!" seru Tono memotong ucapan Anggi dengan nada panik.

Tono berbicara dengan mata yang masih terpejam erat, sama sekali enggan menoleh. Tubuhnya kaku menanti omelan pedas yang ia yakini akan segera meluncur.

Namun, alih-alih suara amarah, terdengar suara Anggi yang sedang terkikik geli melihat tingkah laku Tono.

"Kamu kenapa, sih, Ton? Lucu banget kelakuanmu," goda Anggi seraya memperbaiki posisi duduknya.

"E-enggak apa-apa, Mbak. Mbak Anggi gimana kakinya?" balas Tono perlahan membuka sebelah matanya, memberanikan diri menoleh sedikit.

"Tadi kayak kesakitan gitu pas aku tekan," tambah Tono berusaha mengalihkan pembicaraan dengan canggung.

"Iya, kamu mijitnya pas yang sakit. Tapi ini udah enakan, kamu pintar juga mijitnya, Ton," puji Anggi dengan senyuman manis.

"Beneran udah baikan, Mbak?" tanya Tono meyakinkan diri.

"Iya, beneran. Nih, coba lihat," ucap Anggi penuh percaya diri.

Anggi bertumpu pada kakinya dan mencoba berdiri dari tepi kasur. Namun, seolah gagal menjaga keseimbangan, kakinya terlipat membuat badannya limbung ke depan. Tono dengan refleks merentangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke lantai.

Gerakan itu membuat Anggi mendarat sempurna tepat jatuh di pangkuan Tono.

"Ah ... Tono ... tanganmu ...?" keluh Anggi terkejut, menatap pemuda di bawahnya.

"Hah?" balas Tono bingung.

Seketika mata Tono membelalak ngeri saat menyadari letak tangan kirinya. Saat menangkap tubuh Anggi barusan, tangannya secara tidak sengaja mendarat dan memegang erat gundukan kenyal di dada Anggi.

"Aduh, maaf, Mbak!" pekik Tono seraya menarik tangannya secepat kilat.

"Maaf, Mbak ... maaf ...." Tono terus bergumam ketakutan seraya tertunduk lesu tak berani menatap wajah Anggi.

Keringat dingin kembali mengucur deras di pelipisnya karena panik yang sudah sampai di ubun-ubun.

Namun, alih-alih marah atau memukulnya, Anggi justru menggeser posisinya semakin dekat. Wanita itu dengan sengaja merapatkan badannya ke tubuh Tono yang sedang gemetaran.

Tono menelan ludah dengan susah payah, dadanya berdegup tak karuan. Sensasi kenyal ini ... jangan-jangan ..., batin Tono menduga-duga.

"Tono, Mbak nggak pakai apa-apa lho di dalam," bisik Anggi pelan, napas hangatnya menerpa tepat di telinga Tono.

Seketika itu juga Tono merasa lututnya lemas kehilangan tenaga. Sebelum akal sehatnya sempat memproses kalimat barusan, tangan Anggi perlahan meraih tangan Tono. Ia membimbingnya perlahan dan mengarahkannya ke salah satu gundukan kenyal di dadanya.

"Coba kamu pijitin yang ini ...," bisik Anggi dengan suara parau yang menggoda.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 7

    "Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 6

    "Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 5

    "A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 4

    “Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 3

    Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 2

    Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang."Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras."Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu."Tono! Heh, kok bablas?!"Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status