共有

107. Masa SMA 11

作者: Mira Restia
last update 公開日: 2026-09-24 15:59:33

Denis

Balasan dari Sifa datang keesokan paginya, lebih singkat dari yang Denis harapkan, tapi cukup untuk membuka jalan.

"Ketemu di taman belakang sekolah pas istirahat kedua?"

Denis membalas cepat, jantungnya berdebar sepanjang pagi hingga jam istirahat kedua akhirnya tiba.

Taman belakang sekolah cukup sepi siang itu, hanya beberapa siswa yang duduk-duduk di bangku kayu sambil makan bekal. Sifa sudah menunggu di salah satu bangku, menatap kolam kecil di depannya.

Denis duduk di sampingnya, me
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Anak Selingkuhan Suamiku   110. Masa SMA 14

    DenisPagi itu, Denis bangun lebih awal dari biasanya, tubuhnya kaku setelah semalaman tertidur di lantai koridor.Ia berdiri, meregangkan badan sebentar, lalu menatap pintu kamar Azka yang masih tertutup rapat. Ia mengetuk pelan.Tidak ada jawaban."Za," panggilnya, suaranya masih serak. "Aku tau kamu udah bangun. Aku denger langkah kamu dari tadi."Hening beberapa detik, sebelum akhirnya pintu terbuka sedikit. Azka berdiri di baliknya, matanya sembap, tapi ekspresinya lebih tenang dari semalam."Aku minta maaf," kata Denis, tanpa berbasa-basi lebih dulu. "Yang aku bilang semalam itu nggak bener. Kamu nggak pernah ngerasa lebih berhak dapetin apa pun cuma karena kamu anak kandung Mama. Aku cuma... lagi nggak bisa ngatur perasaan aku sendiri, terus aku lampiasin ke kamu."Azka menatap kakaknya lama, tidak langsung menjawab."Itu nyakitin banget, Kak," katanya akhirnya, jujur. "Bukan cuma soal Sifa. Tapi soal kamu ngungkit-ungkit siapa anak kandung siapa. Padahal kita udah lewatin itu

  • Anak Selingkuhan Suamiku   109. Masa SMA 13

    AzkaBeberapa hari setelah kompetisi, Azka semakin sering memikirkan kalimat Sifa yang diucapkan waktu itu di ruang praktik. Ditambah lagi, kehadiran Sifa di hari kompetisi—jauh-jauh datang hanya untuk mendukungnya—membuat sesuatu di dalam dirinya semakin sulit untuk terus dipendam.Sore itu, ia duduk di kamar Denis, menemani kakaknya yang sedang menyelesaikan tugas sketsa."Kak," katanya, hati-hati. "Aku udah mikir mateng-mateng. Aku mau nembak Sifa."Tangan Denis berhenti sejenak di atas kertas. "Sekarang?""Minggu depan, kayaknya. Pas acara ulang tahun sekolah. Aku mau ngomong langsung."Denis menatap adiknya lama, mencoba menahan gejolak yang tiba-tiba muncul di dadanya. "Kamu udah yakin?""Aku nggak tau seratus persen dia bakal jawab apa," jawab Azka, jujur. "Tapi aku capek nebak-nebak terus. Mending aku tau kepastiannya, daripada terus-terusan berharap tanpa arah."Denis meletakkan pensilnya, menghela napas panjang. Ada bagian dari dirinya yang ingin mendukung keputusan itu—kare

  • Anak Selingkuhan Suamiku   108. Masa SMA 12

    AzkaHari kompetisi robotik tingkat provinsi tiba lebih cepat dari yang Azka kira.Gedung serbaguna tempat perlombaan berlangsung dipenuhi puluhan tim dari berbagai sekolah, masing-masing sibuk dengan persiapan terakhir di meja mereka. Suara decit roda kecil, bunyi motor servo, dan gumaman tegang memenuhi ruangan."Nervous?" tanya Bilal, memeriksa baut terakhir pada robot mereka."Sedikit," jawab Azka, meski kenyataannya jauh lebih dari sekadar sedikit.Keluarganya datang mendukung dari tribun penonton—Ririn, Rey, Denis, dan Aira yang duduk di pangkuan Rey sambil membawa kertas karton bertuliskan "Semangat Kak Azka!" dengan tulisan tangan yang masih berantakan khas anak kecil.Tidak lama sebelum sesi dimulai, seseorang berlari kecil mendekati meja tim mereka."Azka!"Azka menoleh. Sifa berdiri di sana, mengenakan kaus biasa, bukan seragam sekolah, membawa botol minum dan sekotak cokelat kecil."Kamu... dateng?" Azka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya."Ya iyalah. Masa nggak dat

  • Anak Selingkuhan Suamiku   107. Masa SMA 11

    DenisBalasan dari Sifa datang keesokan paginya, lebih singkat dari yang Denis harapkan, tapi cukup untuk membuka jalan."Ketemu di taman belakang sekolah pas istirahat kedua?"Denis membalas cepat, jantungnya berdebar sepanjang pagi hingga jam istirahat kedua akhirnya tiba.Taman belakang sekolah cukup sepi siang itu, hanya beberapa siswa yang duduk-duduk di bangku kayu sambil makan bekal. Sifa sudah menunggu di salah satu bangku, menatap kolam kecil di depannya.Denis duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan. "Makasih udah mau ketemu.""Oke. Denis, aku cuma pengen denger langsung," kata Sifa, tanpa basa-basi. "Dari kamu. Bukan dari siapa-siapa lagi."Denis menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dari awal, dari kapan ia sadar bukan anak kandung Ririn, dari kepergiannya bersama Bu Sinta yang berujung pada bulan-bulan tergelap dalam hidupnya, hingga bagaimana ia akhirnya kembali pulang dan belajar menerima bahwa keluarga bukan soal darah, melainkan soal pilihan.Sifa mendeng

  • Anak Selingkuhan Suamiku   106. Masa SMA 10

    Senin pagi, suasana kelas terasa berbeda lagi, bukan seperti minggu-minggu awal ketika gosip pertama kali menyebar, tapi ada sesuatu yang lebih halus, lebih personal, yang membuat perut Denis terasa tidak enak sejak ia melangkah masuk.Sifa tidak menyapanya seperti biasa.Biasanya, begitu Denis masuk kelas, Sifa akan melambai kecil dari bangkunya, atau setidaknya tersenyum sekilas. Pagi itu, ia hanya menunduk, sibuk dengan buku catatannya, seolah sengaja menghindari kontak mata.Denis mencoba tidak berpikir macam-macam sepanjang jam pelajaran, meski gagal. Setiap kali ia melirik ke arah bangku Sifa, gadis itu selalu tampak sibuk dengan sesuatu yang lain.Saat istirahat, ia memberanikan diri menghampiri. " Halo Sifa?"Sifa mendongak, ekspresinya sulit dibaca, bukan marah, tapi juga tidak seramah biasanya. "Ya?""Kamu kelihatan beda hari ini. Kenapa?""Mungkin hanya perasaan kamu saja.""Bilang saja ada apa, Fa!"Sifa terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya b

  • Anak Selingkuhan Suamiku   105. Masa SMA 9

    # Bab 9 — Kalimat yang Tertahan## DenisAkhir pekan setelah acara pameran, Sifa mengajak Denis bertemu di perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas bersama—bukan lagi soal mural, melainkan tugas kelompok biasa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.Mereka duduk di meja sudut, dikelilingi rak-rak buku tinggi, dengan cahaya sore yang masuk lewat jendela besar di samping mereka."Kamu tenang banget orangnya," kata Sifa tiba-tiba, di sela mengerjakan soal. "Aku merhatiin dari awal kenal. Jarang kelihatan panik, bahkan pas ngerjain mural yang deadline-nya mepet.""Nggak juga," jawab Denis. "Cuma nggak kelihatan aja.""Maksudnya?"Denis terdiam sejenak, pensilnya berhenti di atas kertas. Ini momen yang tepat, pikirnya. Mungkin kalau ia cerita sekarang, langsung dari mulutnya sendiri, semuanya akan terasa lebih ringan—tidak perlu menunggu Sifa mendengarnya dari orang lain, dari bisikan wali murid atau tangkapan layar forum lama."Aku punya... masa lalu yang agak rumit," katanya akhirnya, ha

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status