Chapter: 18Setelah memastikan Casy dan Leon aman, Ryan segera mengambil ponselnya dengan wajah gelap. "James, aku butuh tim keamanan terbaik. Lacak setiap CCTV di sekitar area ini. Aku ingin tahu identitas pria bertopeng itu sebelum fajar," perintahnya dengan suara dingin. "Siapa pun yang berani menyakiti Casy akan kubuat menyesal."Di ruang gawat darurat, Leon sudah mendapatkan perawatan. Luka di lengannya membutuhkan lima jahitan. Casy masih terisak-isak di sampingnya, wajahnya pucat dan penuh rasa bersalah."Leon, maaf... ini semua salahku," tangis Casy.Leon tersenyum lemah sambil menepuk kepala Casy. "Dasar cengeng, aku baik-baik saja. Ini cuma goresan kecil.""Goresan kecil? Ini butuh lima jahitan!" sanggah Casy, tangisnya semakin menjadi.Ryan yang baru saja masuk ke ruangan melihat adegan ini. "Casy, aku akan menghubungi ayahmu..""Jangan!" Casy memotong dengan panik. "Kalau Ayah atau Kakek tahu, mereka pasti tidak akan mengizinkanku tinggal se
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-27
Chapter: 17"Casy, sudahlah!" ujar Kelly sambil memeluk bahu temannya itu. "Lupakan si Om tampanmu itu. Dunia tidak berputar hanya di sekitar Ryan."Casy menghela napas panjang. "Aku tahu, tapi...""Tidak ada tapi," potong Kelly. "Lihat sekeliling! Masih banyak pria lain di dunia ini."Kelly menyeringai. "Kenapa kamu tidak mencoba melihat ke arah lain? Bukankah Leon cukup tampan?"Wajah Casy memerah. "Apa? Tidak mungkin!""Serius!" Kelly bersikeras. "Kamu tidak sadar kalau tatapan Leon padamu itu berbeda, Casy? Aku yakin dia menyukaimu.""Leon? Jangan bicara yang tidak-tidak! Mana mungkin dia menyukaiku," seru Casy, tapi dalam hati kecilnya, ia mulai mempertimbangkan."Ah, sudahlah!" kata Kelly sambil menarik tangan Casy. “Ayo kita ke mall. Belanja selalu jadi obat terbaik untuk hati yang sedih.”Mereka pun menaiki mobil dan segera bergegeas. Sesampainya mall yang ramai, Casy masih terlihat murung. Kelly terus menghiburnya deng
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-27
Chapter: 16Casy terbangun dengan perasaan bingung, matanya berkedip-kedip menatap langit-langit kamar yang asing. Dalam sekejap, ingatannya kembali pada malam sebelumnya, kecelakaan di dapur, tangannya yang terluka, dan... oh tidak, dia tertidur di mansion Ryan!Dengan panik, ia melompat dari tempat tidur. Rambutnya acak-acakan, piyama yang dikenakannya yang entah bagaimana sudah berganti, terlihat berantakan. Ia buru-buru keluar kamar dan menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh.Dan di sana, di ruang makan yang terang benderang, Ryan sudah duduk rapi dengan kemeja putih dan celana hitam, sedang membaca koran sambil menyeruput kopi. Sangat kontras dengan penampilan Casy yang seperti baru bangun dari kubur."Kamu sudah bangun?" sapa Ryan tanpa mengalihkan pandang dari korannya.Casy merasa ingin menghilang. "A-Aku... maaf tentang semalam..."Ryan akhirnya menatapnya, matanya sedikit menyipit. "Tanganmu sudah lebih baik?"Casy mengangguk cepat, lalu matany
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-26
Chapter: 15Di bangku taman kampus, Casy masih terisak-isak. Air matanya mengalir deras, membasahi jaket Leon yang masih terpasang di bahunya. Leon duduk di sampingnya dengan sabar, sesekali menepuk punggungnya dengan lembut."Sudah, jangan terlalu disedihkan." bisik Leon, suaranya tenang seperti embun pagi. "Dia tidak layak mendapat air matamu."Tapi Casy semakin menjadi-jadi, tangisnya makin keras. "Aku merasa begitu bodoh! Selama ini mengejar-ngejar dia, padahal... padahal..."Leon menghela napas, lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku. "Ini," ujarnya sambil menyeka pelan pipi Casy yang basah. "Kau tahu, ada banyak bintang di langit yang lebih layak untuk diperjuangkan daripada satu bulan yang tak pernah memantulkan cahaya untukmu."Casy mengangkat wajahnya yang merah dan bengkak. "Apa maksudmu?"Leon tersenyum kecil. "Maksudku, kenapa harus fokus pada satu orang yang membuatmu menangis, ketika ada yang lain yang mungkin bisa membuatmu tersenyum?"M
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-26
Chapter: 14Casy duduk termenung di bangku kuliah, matanya kosong menatap ke depan. Semua penjelasan dosen tentang teori psikologi perkembangan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Pikirannya masih tertambat pada kejadian Tadi pagi.Ding-dong!Bel berbunyi menandakan kelas berakhir.Dengan langkah gontai, Casy keluar dari ruang kelas. Kelly yang berjalan di sampingnya mencoba menghiburnya. "Casy, kamu baik-baik saja? Dari tadi kamu terlihat...""Leon!" seru Kelly tiba-tiba, memotong kalimatnya sendiri.Leon berdiri tegak di ujung koridor, mengenakan kemeja putih sederhana yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Matanya langsung menemukan Casy."Hai!" Sapa Leon membalas Kelly lalu matanya beralih menatap Casy. "Casy bisa bicara sebentar?" pinta Leon dengan sopan.Kelly mengangguk pengertian. "Tentu. Casy, kalian berdua jangan khawatir, mengobrol lah dengan nyaman." Dia melepaskan pegangan pada tas Casy dan memberikan senyum
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-25
Chapter: 13"Casy, tetap di sini!" geram Darren, suaranya menggema penuh otoritas siap mendorong Ryan keluar dari apartemen.Casy terpaku di ambang pintu, wajahnya memucat. "Tunggu, Kakak…"BAM! Pintu terkunci dengan keras, memutuskan protesnya. Dari balik kayu yang tebal, Casy mendengar suara tarik-menarik dan gerutuan yang membuat jantungnya berdebar kencang.Di koridor yang sepi, Darren mendorong Ryan dengan kasar hingga tubuh pria itu membentur dinding. Suara benturan keras bergema di lorong yang sunyi"Dengar baik-baik, Ryan." desis Darren dengan suara rendah namun penuh ancaman. Matanya membara seperti bara api. "Ini adalah peringatan terakhir untukmu! Aku tidak perduli meskipun harus berhadapan dengan mu sekalipun!."Ryan tetap diam, menerima perlakukan Darren. Dalam hatinya, ia menyadari semua ini adalah konsekuensi dari kelengahannya menjaga jarak. "Aku tidak takut dengan ancaman mu, tapi ini semua memang tidak seperti--""DIAM!" bentak
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-25